English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Belajar Dan Berbagi Ilmu Serta Nasehat Untuk Mempererat Ukhuwah Islamiyah
free counters

Rabu, 25 April 2012

BENARKAH KEDUA ORANG TUA NABI MUHAMMAD SHOLLALLOHU 'ALAIHI WASALAM ITU KAFIR???


Oleh : Ustadz Ibnu Mas'ud

Bukan rahasia umum bagi salafi wahabi dalam keyakinannya mengatakan bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk golongan orang kafir [meninggal dalam kekafiran]. Benarkah demikian?

Jika kita kaji lebih mendalam sesuai apa yg dijelaskan oleh para ulama dan termasuk ulama wahabi sendiri tidaklah demikian adanya.

Dalam Kitab “Dhawabith Takfir Al-Mubin menurut Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah Al-Harrani” karangan Abi Al-‘Ula Rasyid bin Abi Al-‘Ula Rasyid cetakan Maktabah Ar-Rusyd tahun 1425 H/2004 M pada hal. 49 dan 51 dijelaskan sbb:

Arti bebas scan kitab yang berwarna kuning :
“Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebelum mengkafirkan seseorang dengan nyata-nyata syaratnya harus telah ditegakkannya hujjah [sampainya hujjah], dan itu menjadi dasar ucapan-ucapannya dalam sebagian yg telah dihukumi kafir, “Tetapi sebagian manusia yg bodoh [tidak mengetahui] beberaka hukum karena terhalang kebodohannya, maka tidak boleh seseorang menghukumi kafir sehingga tegaknya hujjah [sampainya hujjah] padanya dari arah sampainya risalah kenabian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: (Dan tidaklah kami menhadzab mereka, sehingga kami mengutus kepadanya seorang Rasul) {QS. Al-Isra’: 15} [Majmu’ Fatawa jus 11 hal. 406]”

“Syeikh Hamid bin Nashir bin Ma’mar seorang ulama pendakwah murid dari Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Semua orang yg sudah sampai kepadanya Al-Qur’an dan dakwah [risalah/diutusnya] Rasul, maka telah ditegakkan hujjah kepadanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: (...supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur'an (kepadanya)). {QS. Al-An’am: 19).”

Dan pada hal. 54 Syeikh Ishaq bin Abdurrahman An-Najd berkata, “Dan yg dimaksud: tegaknya hujjah adalah sebab telah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sampainya Al-Qur’an [kepadanya], siapa saja yg mendengar dakwah Rasulullah dan telah sampainya Al-Qur’an kepadanya, maka telah ditegakkannya hujjah [hukum]. Dan inilah yg dimaksud oleh ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.”

KESIMPULAN, JIKA SALAFI WAHABI SAAT INI MEYAKINI BAHWA KEDUA ORANG TUA NABI MUHAMMAD ADALAH MASIH KAFIR, ITU LEBIH DISEBABKAN OLEH PRASANGKA KEDENGKIAN SEMATA, BUKTINYA PARA ULAMA MEREKA SAJA DENGAN DASAR AYAT-AYAT AL-QUR’AN DIATAS DALAM PENJELASANNYA TERNYATA “SIAPAPUN ORANG YG BELUM MENDAPATKAN DAKWAH RASUL DAN SAMPAINYA AL-QUR’AN KEPADANYA TIDAKLAH DIHUKUMI KAFIR.” Wallahu a’lam bish-Shawab

Selasa, 24 April 2012

PERAMPOK YANG MENGAMBIL SEBUAH PELAJARAN DARI BURUNG DAN ULAR

Zaman dahulu ada tiga perampok bernama Albi, Fulan dan Hatsa yang dikenal sangat kejam dari bangsa Kurdis. Albi ketua perampok tidak mengenal rasa kasihan dalam aksinya sehingga tidak akan ada warga keluar rumah jika ketiga perampok tersebut melalui jalan desanya.

Dalam aksinya pun tiga perampok ini selalu mengatur siasat terlebih dahulu. Selama ini strategi mereka tidak pernah gagal. Seperti pada malam itu Albi, Fulan dan Hatsa sedang merancang siasat untuk merampok seorang menteri yang melewati kawasan mereka esok pagi.

Pagi pun tiba mereka menyamar menjadi pengembara yang sedang beristirahat santai dibawah sebuah pohon kurma untuk menunggu sang menteri lewat. Di kebun hanya terdapat 3 pohon kurma yang tumbuh subur. Albi yang terkenal paling kejam memperhatikan pohon-pohon kurma tersebut dan melihat 2 dari 3 pohon yang subur dengan lebat dan sudah ranum. Saat memandangi buah yang matang itu, ia melihat seekor burung sedang mengambil buah kurma yang matang lalu membawanya dan menjatuhkan buah kurma itu ke atas pohon kurma yang tidak berbuah.

MENOLONG ULAR 
Pada awalnya Albi tidak mempedulikan dengan apa yang dilakukan burung itu. Tetapi setelah memperhatikan burung yang asyik bolak-balik dari pohon yang berbuah menuju pohon yang kering, ia merasa curiga dan penasaran kenapa burung itu selalu mengambil dan menjatuhkan buah kurma.

Kemudian ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pohon kurma yang kering untuk melihat apa yang sebenarnya dilakukan oleh burung. Albi pun memanjat pohon itu. Setelah sampai pada puncak pohon kurma, alangkah terkejutnya ia melihat seekor ular besar sedang melingkar pada ranting pohon kurma.

Dengan perlahan-lahan Albi bergerak mencari posisi yang aman agar ular tersebut tidak melihat. Setelah lama mengamati ular tersebut ternyata ular itu buta dan apa yang dilakukan burung dengan bolak-balik mengambil buah kurma matang dan menjatuhkannya tepat pada mulut ular.

Dari sinilah pikiran dan hati Albi yang tadinya keras dan kejam mulai terbuka menjadi terbuka dan kasihan. Ia berpikir alangkah mulianya seekor burung yang sanggup menolong seekkor ular walaupun burung itu tahu kalau ular seringkali memangsa bangsanya.

BERTOBAT
 Albi berpikir dan berkata dalam hati "kenapa aku tidak bisa berbuat baik kepada orang seperti yang dilakukan oleh burung itu?". Ketua perampok itu makin menyesali dengan apa yang ia lakukan selama ini. Lalu ia berkata, "Ya Alloh, ya Tuhanku aku kini telah bertobat kepada-Mu dan aku tidak akan mengulangi lagi perbuatanku. Aku berjanji akan kembali kepada-Mu. Pada saat itu juga terdengar suara "Hai hamba yang memohon pengampunan dosa, Aku telah menghapus dosamu".

Mendengar suara tersebut ketua perampok itu merasa lega dan sangat senang lalu ia berlari menuju teman-temannya. Melihat sang ketua yang sangat kejam itu beruraian air mata membuat Hatsa dan Fulan bertanya-tanya. Albi pun menceritakan apa yang ia alami tadi kepada teman-temannya lalu ia berkata "bertobatlah kamu dan kembalilah kepada Alloh". Mendengar penuturan dari sang ketua membuat Hatsa dan Fulan bertobat kembali kepada Alloh.

KEIMANAN ORANG MUSYRIK MENURUT WAHABI



Oleh : Ustadz Ibnu Mas'ud


Dalam Kitab “KAIFA NAFHAMU AT-TAUHID”, hal. 14-15 Ahmad Muhammad Basyamil seorang ulama wahabi murid Bin Baz mengatakan dalam kitabnya sebagai berikut :

Pasal: “Orang-orang musyrik terdahulu lebih beriman daripada orang-orang musyrik jaman sekarang.”

Adapun dalil tentang hal itu menurut mereka (wahabi) adalah firman Allah sebagai berikut :
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” [QS. Al-Ankabut: 65]
وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإنْسَانُ كَفُورًا
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” [QS. Al-Israa’: 67]
قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُمْ مِنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنْتُمْ تُشْرِكُونَ
“Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur." Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya." [QS. Al-An’aam: 63-64]
 
SOBAT FILLAH, MARI KITA CERMATI BERSAMA .............
Jika sebatas mengenal Allah bisa disebut beriman (sebagaimana keyakinan wahabi), maka iblis adalah seorang mukmin, yang berhak mendapat surga, karena iblis mengenal Allah dan bahkan pernah bertemu dan berdialog dengan Allah. Dalilnya firman Allah :

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Iblis mengatakan, ‘Wahai Rabku (Allah), tunggulah aku sampai hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr:36)
Demikian pula, orang musyrikin Quraisy mengenal Allah dan meyakini keberadaan Allah. Buktinya, banyak orang musyrik yang bernama “Abdullah”. Bukti lainnya adalah firman Allah:
 وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّه فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Jika kamu bertanya kepada mereka (orang musyrik Quraisy), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi, mengatur matahari dan bulan,’ niscaya mereka mengatakan, ‘Allah.’ Lalu, mengapa mereka berpaling dari tauhid?” (QS. Al-Ankabut:61)
Dengan pemahaman iman semacam ini maka konsekuensinya adalah orang musyrikin Quraisy termasuk orang beriman, karena mereka meyakini kebenaran dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka berusaha menentangnya. Allah berfirman :

فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُون
“Sesungguhnya, mereka tidak mendustakanmu, namun orang-orang zalimlah yang menentang ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am:33)
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka, secara keyakinan, membenarkan dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka tidak mau menerimannya.

Di antara bukti lain yang menunjukkan bahwa musyrikin Quraisy meyakini kebenaran dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkataan paman beliau, Abu Thalib, yang meninggal dalam keadaan kafir. Abu Thalib mengungkapkan pengakuannya yang dituangkan dalam sebuah syairnya :

وَلقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ دِينَ مُحَمَّدٍ … مِنْ خَيرِ أَدْياَنِ البَرِيَّـةِ دِيناً
لَوْ لَا المَلاَمَةَ أَوْ حَذَارَ مَسَبَّةٍ … لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِيناً
Sungguh, aku yakin bahwa agama Muhammad
Adalah agama terbaik di muka bumi ini
Andaikan bukan karena celaan dan khawatir adanya ejekan,
Engkau akan mengetahui diriku menerima secara terang-terangan.
(Syarah Aqidah Thahawiyah, Ibn Abil ‘Iz Al-Hanafi, 2:277, Kementerian Urusan Wakaf dan Dakwah Kerajaan Saudi, 1418 H)

OLEH KARENANYA, SUNGGUH ANEH AKIDAH WAHABIYAH INI, DISATU SISI MEREKA MEYAKINI KEIMANAN ORANG-ORANG MUSYRIK, DISISI LAIN MENGKLAIM BAHWA PAMAN NABI MUHAMMAD ABU THALIB ADALAH MUSYRIK YANG TIDAK BERIMAN.

Wallahu a’lam bish-Shawab.......

Senin, 23 April 2012

KITAB RUJUKAN "TAKFIR" SALAFI WAHABI


Oleh : Ustadz Ibnu Mas'ud


1. KITAB AD-DUROR AS-SANIYYAH FI AL-AJWIBAT AN-NAJDIYAH 16 JUZ [Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim Al-‘Ashim An-Najd]




وهذه الطائفة : ألتى تنتسب الى أبى الحسن الاشعري، وصفوا رب العالمين، بصفات المعدوم والجماد، ولقد أعظموا الفرية على الله، وخالفوا اهل الحق من السلف، والائمة، واتباعهم، وخلفوا من ينتسبون اليه، فأن اباالحسن الاشعري، صرح فى كتابه : الابانة، والمقالاة، بأثبات الصفات، فهذه الطائفة المنحرقة عن الحق، قد تجردت شياطينهم لصد الناس عن سبيل الله، فجحدوا توحيد الله فى الهية، وأجازوا الشرك لا يغفره الله، فجوزوا: أن يعبد غيره من دونه، وجحدوا توحيد صفاته باالتعطيل. ص: 210


فالائمة من أهل السنة، وأتباعهم، لهم المصنفات المعروفة، فى رد هذه الطائفة، الكافرةالمعاندة، كشفوا فيها كل شبهة لهم، وبينوا فيها الحق الذى دل عليه كتاب الله، وسنة رسوله، وما عليه سلف الامة، وأئمتها من كل امام رواية ودراية. ص: 211




KITAB MAJMU’AT AR-ROSAIL AL-MASAIL ULAMA’ NAJD AL-A’LAM [Dari masa Muhammad bin Abdul Wahhab sampai sekarang]




“Dan kelompok ini [Asy-‘Ariyah] yg dinisbatkan kpd Abu Al-Hasan Al-Asy’ari telah menggambarkan [mensifati] Tuhan semesta alam dengan sifat-sifat ketiadaan, dan sungguh mereka membuat suatu kebohongan besar atas Alloh, mereka telah berlawanan dengan orang-orang yang benar dari para salaf [pendahulu], para imam dan yang mengikut mereka, dan mereka telah berlawanan bagi siapa yang telah menisbatkan kepadanya. Karena sesungguhnya Abu Al-Hasan Al-Asy’ari telah membuktikan di dalam kitabnya Al-Ibanah [Al-Ibanah ‘An Ushul Ad-Diniyah-pent] dan beberapa perkataan dengan menetapkan sifat-sifat Alloh, maka kelompok ini [Asy’ariyah] adalah kelompok yang menyalahi kebenaran. Sungguh setan-setan mereka telah memperdayai mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Alloh. Mereka membantah ke-Esaan Alloh dalam ketuhanan. Dan jadilah mereka berbuat syirik yang Alloh tidak akan mengampuninya. Maka jadilah mereka penyembah selain Alloh. Dan mereka membantah ke-Esaan sifat-sifat Alloh dengan ta’thil [menolak suatu sifat yang layak bagi Alloh-pent].


Dan para imam dari ahlussunnah [salafy wahabi-pent] dan para pengikut mereka [wahabiyun] mereka memiliki kitab2 yg terkenal sebagai bantahan atas kelompok ini [Asy’ariyah] yang KAFIR PEMBERONTAK. Mereka [wahabi dlm kitab2nya-pent] telah membongkar setiap syubhat mereka [Asy’ariyun], dan mereka menjelaskan di dalamnya kebenaran yang telah ditunjukkan atasnya dari kitab Alloh dan kitab Rosul-Nya, dan apa yang ada pada salaful ummah [para pendahulu umat] dan para imam dari setiap imam baik sejarah dan riwayatnya. (Ad-Duror as-Saniyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyah juz 3 hal. 210-211 )




و انا أخبركم عن نفسي، والله الذى لا اله الا هو، لقد طلبت العلم، واعتقدَ من عرفني أن لي معرفة، وأنا ذلك الوقت لا أعرف معنى لا إله إلا الله، ولا أعرف دين الإسلام، قبل هذا الخير الذي مَنَّ الله به، وكذلك مشايخي، ما منهم رجل عرف ذلك.


فمن زعم من علماء العارض: أنه عرف معنى لا اله إلا الله، أو عرف معنى الإسلام قبل هذا الوقت، أو زعم عن مشايخه، أن أحداً عرف ذلك، فقد كذب وافترى، وليس على الناس، ومدح نفسه بما ليس فيه.




“Dan aku kabarkan kepadamu tentang diriku [Muhammad bin Abdul Wahhab-pent] Demi Alloh yang tidak ada Tuhan [yg wajib disembah-pent] kecuali Dia. Sungguh aku telah menuntut ilmu, dan aku yakin bahwa seseorang mengenalku memiliki ilmu ma’rifah. Dahulu, aku tidak memahami arti dari ungkapan Laailaaha Illallah. Kala itu, aku juga tidak memahami apa itu agama Islam. (Semua itu) sebelum datangnya anugerah kebaikan yang Allah berikan (kepadaku). Begitu pula para guru(ku), tidak seorang pun dari mereka yang mengetahuinya. Atas dasar itu, setiap ulama “Al-‘Aridh” yang mengaku memahami arti Laailaaha Illallah atau mengerti makna agama Islam sebelum masa ini (anugerah kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, pent) atau ada yang mengaku bahwa guru-gurunya mengetahu hal tersebut maka ia telah melakukan kebohongan dan penipuan. Ia telah mengecoh masyarakat dan memuji diri sendiri yang tidak layak bagi dirinya.” (Ad-Duror as-Saniyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyah juz 10 hal. 51 )




2. KITAB AR-ROSAIL AL-SYAKHSHIYAH




الرسائل الشخصية (مطبوع ضمن مؤلفات الشيخ محمد بن عبدالوهاب، الجزء السادس)




ص -186- -6- الرسالة الثامنة والعشرون: ومنها رسالة أرسلها إلى أهل الرياض ومنفوحة، وهو إذ ذاك مقيم في بلد العيينة، وكتب إلى عبد الله بن عيسى قاضي الدرعية يسجل تحتها بما رآه من الكلام، ليكون ذلك سبباً لقولها، وهذا نص الرسالة:


بسم الله الرحمن الرحيم


من محمد بن عبد الوهاب، إلى من يصل إليه هذا الكتاب من المسلمين.


سلام عليكم ورحمة الله وبركاته.


...................وأنا أخبركم عن نفسي، والله الذي لا إله إلا هو،


ص -187- لقد طلبت العلم، واعتقدَ من عرفني أن لي معرفة، وأنا ذلك الوقت لا أعرف معنى "لا إله إلا الله"، ولا أعرف دين الإسلام قبل هذا الخير الذي مَنَّ الله به، وكذلك مشايخي، ما منهم رجل عرف ذلك. فمن زعم من علماء العارض أنه عرف معنى "لا اله إلا الله"، أو عرف معنى الإسلام قبل هذا الوقت، أو زعم عن مشايخه أن أحداً عرف ذلك [في المخطوطة والمصورة: (أو زعم أن أحداً من مشايخه عرف ذلك) ]، فقد كذب وافترى..................




NAMA KITAB: MUALLAFAAT SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB.




CETAKAN: JAMI'AH UMMUL QURA MAKKAH AL-MUKARRAMAH.




BAHAGIAN KE-ENAM: AR-RISALAH KE-18 HALAMAN: 186-187.




PENGGALAN TEKS RESMI SURAT MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB UNTUK MASYARAKAT RIYADH YANG DITULIS UNTUK PENGUASANYA BERNAMA ABDULLOH BIN ISA YANG BERBUNYI:




"BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM


DARI MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB KEPADA ORANG ISLAM YANG SAMPAI KEPADANYA KITAB AKU INI




SALAMUN 'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH




........................ AKU MEMBERITAHU KEPADA KAMU SEMUA MENGENAI DIRIKU DAN DEMI ALLAH YANG TIADA TUHAN MELAINKAN DIA, BAHWA SESUNGGUHNYA AKU TELAH MENUNTUT ILMU DAN AKU PERCAYA BAHWA ADA YANG MENGANGGAP AKU MEMPUNYAI ILMU MA'RIFAH, TETAPI KETAHUILAH SESUNGGUHNYA AKU SEBENARNYA PADA WAKTU ITU TIDAK MENGETAHUI MAKNA “LAA ILAAHA ILLALLAAH (TIADA TUHAN -YG WAJIB DISEMBAH- MELAINKAN ALLAH), DAN AKU TIDAK MENGETAHUI MENGENAI AGAMA ISLAM SEBELUM KEBAIKAN INI YG DIAMANATKAN ALLOH, BEGITU JUGA GURU-GURUKU TIDAK ADA SEORANG PUN DIKALANGAN MEREKA MENGETAHUI MAKNA “LAA ILAAHA ILLALLAAH” (TIADA TUHAN -YG WAJIB DISEMBAH- MELAINKAN ALLAH).




BARANGSIAPA YANG MENYANGKA BAHWA SEBELUMNYA ULAMA MENGETAHUI MAKNA “LAA ILAAHA ILLALLAAH” (TIADA TUHAN -YG WAJIB DISEMBAH- MELAINKAN ALLAH) ATAU [MENYANGKA BAHWA SEBELUMNYA ULAMA-PEN] MENGETAHUI MAKNA ISLAM SEBELUM WAKTU INI, ATAU PUN MENYANGKA BAHWA SESUNGGUHNYA ADA SEORANG DARI MASYAYIKH [PARA GURU] MENGETAHUI HAL ITU, MAKA SESUNGGUHNYA ORANG ITU TELAH MENIPU DAN BERDUSTA ......................”.




Ikhwan wa akhwat fillah, silahkan cermati apa yg disampaikan oleh PENCETUS PAHAM WAHABI ini yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab, bagaimana dia mengkafirkan dirinya sendiri sebelum dia mendakwa diberi ma'rifah oleh Alloh dan dia juga mengkafirkan gurunya sendiri (diantara gurunya adalah ayahnya sendiri-pen) dan mengkafirkan ulama-ulama islam sebelum ajarannya timbul.




Diantara keanehan akidah wahabi salafy adalah PENGAKUAN atas kitab AL-IBANAH ‘AN USHUL AD-DINIYAH sebagai salah satu kitab rujukan mereka dan mengklaim bahwa Abu Al-Hasan Al-Asy’ari sang pengarangnya BERMADZHAB HAMBALI. Sedang disisi lain dlm kitab Ad-Duror as-Saniyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyah juz 3 hal. 211 diatas mereka [wahabi] mengatakan bahwa kelompok ASY’ARIYAH sebagai MUSYRIK DAN KAFIR PEMBERONTAK. Na’udzubillahi min dzalik, wallohul musta’an al-Hadi ila sabilil haq




Meskipun demikian, buat ikhwan wa akhwat fillah semua, kita tetap mendo’akan untuk wahabi salafy, semoga Allah memberi hidayah kepada mereka semua. Aamiin

MAKSUD MENJADIKAN KUBURAN SEBAGAI MASJID


 Oleh : Bubun Supiana


Pertentangan WAHHABI/SALAFY utamanya BIN BAZZ terhadap ulama salaf bahkan terhadap al-Quran dan al-Hadits

(Tentang hadits :


لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد
“Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nashoro yang telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid “ )

Benarkah hadits tersebut melarang dan mengharamkan sholat di sekitar kuburan dan membuat kuburan di dalam masjid sebagaimana dipahami oleh Ibnu Bazz dan para pentaqlid butanya ??
PENJELASAN :
• Asbabu wurudil hadits :

فقد قالت السيدة أم سلمة رضى الله تعالى عنها لرسول الله صلى الله عليه وسلم حين كانت فى بلاد الحبشة تقصد الهجرة إنها رأت أناسا يضعون صور صلحائهم وأنبيائهم ثم يصلون لها، عند إذن قال الرسول صلى الله عليه وسلم (لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور انبيائهم مساجد

“Ummu Salamah RA bercerita kepada Rasulullah Saw ketika dulu ia berada di Habasyah saat hendak Hijrah, bahwa dia pernah melihat beberapa orang yang meletakkan patung-patung orang sholih dan para Nabi mereka, kemudian mereka sholat kepada patung-patung tersebut. Maka bersabdalah Rasulullah Saw “ Allah melaknat orang Yahudi dan Nashoro yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid “.

• Mufradat :

اتخذ : جعل (Menjadikan)

قبر :مدفن الميت (Tempat pendaman mayat)
مسجد : الموضع الذي يُسجَد و يُتَعَبَّد فيِه (Tempat untuk bersujud dan beribadah di dalamnya)

Maka makna hadits tersebut dari sisi mufradatnya adalah :

جعلوا مدفن الانبياء موضعا اللذين يسجدون و يتعبدون فيه

“ Mereka menjadikan tempat pendaman mayat para Nabi sebagai tempat mereka bersujud dan beribadah di dalamnya “.

Dari sisi ini saja sudah bias kita pahami bahwa maksud yang shahih adalah mereka masuk ke dalam kubur atau berada di atas kubur bertujuan untuk menjadikan kuburan itu sebagai tempat sujud dan tempat beribadah. Dan inilah yang diperbuat orang Yahudi dan Nashoro.

Sedangkan umat Muslim, seorang pun sejak dulu hingga saat ini tak ada yang melakukan seperti itu. Apalagi mereka yang berziarah ke pada para wali sanga, tak ada satu pun yang menjadikan kuburan wali sanga yang mereka sujud di datas atau di dalamnya. Membawa hadits tersebut pada kaum muslimin saat ini yang berziyarah dan datang ke masjid-masjid yang disebelahnya terdapat kuburan orang-orang sholeh, merupakan vonis yang salah sasaran dan sesat menyesatkan serta membuat fitnah yang akan memecah persatuan umat muslim.

Sekarang mari kita simak, apa pendapat para ulama besar Ahlus-sunnah terkait hadits di atas.

1.Pendapat imam Baidhowi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani :

ويقول الامام البيضاوى رحمه الله تعالى: فيما نقله عنه الحافظ ابن حجر العسقلانى وغيره من شراح السنن حيث قال البيضاوى: «لما كانت اليهود يسجدون لقبور الأنبياء؛ تعظيماً لشأنهم، ويجعلونها قبلة، ويتوجهون فى الصلاة نحوها فاتخذوها أوثاناً، لعنهم الله، ومنع المسلمين عن مثل ذلك، ونهاهم عنه، أما من اتخذ مسجداً بجوار صالح أو صلى فى مقبرته وقصد به الاستظهار بروحه، ووصول أثر من آثار عبادته إليه، لا التعظيم له، والتوجه فلا حرج عليه، ألا ترى أن مدفن إسماعيل فى المسجد الحرام ثم الحطيم؟ ثم إن ذلك المسجد أفضل مكان يتحرى المصلى بصلاته، والنهى عن الصلاة فى المقابر مختص بالمنبوشة لما فيها من النجاسة» انتهى. فتح البارى، شرح الزرقانى، فيض القدير

“ Imam Baidhawi berkata yang juga dinukil pendapat beliau oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani dan selainnya dari para penyarah kitab sunan-sunan : “ Ketika konon orang-orang Yahudi bersujud pada kuburan para nabi, karena pengagungan terhadap para nabi. Dan menjadikannya arah qiblat serta mereka pun sholat menghadap kuburan dan menjadikannya patung sesembahan, maka Allah melaknat mereka dan melarang umat muslim mencontohnya. Adapun orang yang MENJADIKAN MASJID DI SISI ORANG SHALIH atau SHOLAT DI PERKUBURANNYA DENGAN TUJUAN MENGHADIRKAN RUHNYA dan MENDAPATKAN BEKAS DARI IBADAHNYA, BUKAN KARENA PENGAGUNGAN DAN ARAH QIBLAT, MAKA TIDAKLAH MENGAPA. Tidakkah engkau melihat tempat pendaman nabi Ismail berada di dalam masjidil haram kemudian hathim ?? Kemudian masjidl haram tersebut merupaan tempat sholat yang sangat dianjurkan untuk melakukan sholat di dalamnya. Pelarangan sholat di perkuburan adalah tertentu pada kuburan yang terbongkar tanahnya karena terdapat najis “ (Fathul Bari, Syarh Zarqani dan Faidhul Qadir)

Dari pendapat imam Baidhawi yang juga dinukil oleh imam Ibnu Hajar al-Asqalani dan para imam yang menyarahkan kitab-kitab sunan, bias kita pahami bawha hadits tersebut mengandung :
-Larangan menjadikan kuburan sebagai tempat sujud / peribadatan
-Larangan menjadikan kuburan sebagai arah qiblat dari arah qiblat yang disyari’atkan
Dan kedua hal ini, Alhamdulillah tidak pernah dilakukan umat Muslim yang suka berziarah.

2. Pendapat imam Ibnu Abdul Barr :

وقال الإمام الحافظ ابن عبد البر رحمه الله تعالى فى “التّمهيد” «فى هذا الحديث إباحة الدّعاء على أهل الكُفر، وتحريم السّجود على قبور الأنبياء، وفى معنى هذا أنّه لا يحل السّجود لغير الله جل وعلا، ويحتمل الحديث أنْ لا تُجعل قبور الأنبياء قِبلة يُصلّى إليها. ثم قال ابن عبد البر: وقد زعـم قـوم أنّ فى هذا الحديث ما يدل على كراهيّة الصّلاة فى المقبرة وإلى المقبرة، وليـس فى ذلك حُجة

“ Imam Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata di dalam kitab at-Tamhid “ Di dalam hadits tersebut terdapat :
- Pembolehan doa buruk pada orang kafir
- Pangharaman sujud terhadap kuburan para nabi
- Semakna juga terhadap pengharaman sujud terhadap selain Allah Swt
- Di arahkan juga terhadap pengharaman menjadikan kuburan para nabi sebagai arah qiblat sholat “.

Kemudian beliau juga berkata “ Sebagian kaum menyangka bahwa hadits tersebut mengandung pengertian yang memakruhkan sholat di pekuburan / pemakaman dan menghadap pekuburan, dan hadits itu bukanlah hujjah / dalil atas hal itu “.

3. Pendapat imam Al-Qadhi :

وقال القاضى فى فيض القدير على الجامع الصغير للامام المناوى «لما كانت اليهود يسجدون لقبور الأنبياء تعظيماً لشأنها ويجعلونها قبلة، ويتوجهون فى الصلاة نحوها فاتخذوها أوثاناً لعنهم الله ومنع المسلمين عن مثل ذلك، ونهاهم عنه. أما من اتخذ مسجداً بجوار صالح أو صلى فى مقبرة وقصد به الاستظهار بروحه، أو وصول أثر من آثار عبادته إليه لا التعظيم له، والتوجه نحوه فلا حرج عليه. ألا ترى أن مدفن إسماعيل فى المسجد الحرام عند الحطيم؟ ثم إن ذلك المسجد أفضل مكان يتحرى المصلى لصلاته. والنهى عن الصلاة فى المقابر مختص بالمنبوشة لما فيها من النجاسة». انتهى

“ Ketika konon orang-orang Yahudi bersujud pada kuburan para nabi, karena pengagungan terhadap para nabi. Dan menjadikannya arah qiblat serta mereka pun sholat menghadap kuburan dan menjadikannya patung sesembahan, maka Allah melaknat mereka dan melarang umat muslim mencontohnya. Adapun orang yang MENJADIKAN MASJID DI SISI ORANG SHALIH atau SHOLAT DI PERKUBURANNYA DENGAN TUJUAN MENGHADIRKAN RUHNYA dan MENDAPATKAN BEKAS DARI IBADAHNYA, BUKAN KARENA PENGAGUNGAN DAN ARAH QIBLAT, MAKA TIDAKLAH MENGAPA. Tidakkah engkau melihat tempat pendaman nabi Ismail berada di dalam masjidil haram kemudian hathim ?? Kemudian masjidl haram tersebut merupaan tempat sholat yang sangat dianjurkan untuk melakukan sholat di dalamnya. Pelarangan sholat di perkuburan adalah tertentu pada kuburan yang terbongkar tanahnya karena terdapat najis “ (Faidhul Qadir)

4. Pendapat Imam Ath-Thusi :

روى الشيخ الطوسي بأسناده عن معمر بن خلاد، عن الرضا ـ عليه السَّلام ـ قال: لا بأس بالصلاة بين المقابر ما لم يتخذ القبر قبلة

“ Syaikh Ath-Thusi Rh meriwayatkan dengan sanadnya dari Mu’ammar bin khallad dari Ridha As berkata “ Tidaklah mengapa sholat di antara pekuburan semenjak tidak menjadikan kuburan sebagai arah kiblat “ (Al-Wasail juz 1)

5. Pendapat imam Qurthubi :

قال القرطبي: روى الأئمة عن أبي مرصد الغنوي قال: سمعت رسول اللّه ـ صلَّى الله عليه وآله وسلم ـ يقول: لا تصلوا إلى القبور ولا تجلسوا إليها (لفظ مسلم) أي لا تتخذوها قبلة، فتصلوا عليها أو إليها كما فعل اليهود والنصارى

“ Imam Qurthubi berkata : “ Meriwayatkan para imam Hadits dari Abi Marshad al-ghanawi berkata; “ Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda “ Janganlah kalian sholat kepada kuburan dan juga janganlah kalian duduk padanya (lafadz dalam hadits Muslim) “ Maksudnya adalah “ JANGANLAH KALIAN MENJADIKAN KUBURAN SEBAGAI ARAH QIBLAT, SEHINGGA KALIAN SHOLAT DI ATASNYA ATAU SHOLAT MENGHADAPNYA sebagaimana perbuatan orang Yahudi dan Nashoro “. (Tafsir Qurthubi juz 10 hal. 380)

Dan sekarang, marilah kita kembalikan pada al-Quran dan Hadits dari semua pendapat tersebut, manakah yang sesuai al-Quran dan Hadits ?

Ketika kita teliti dalam al-Quran justru tak ada satu pun ayat yang melarang sholat dipekuburan atau membangun kuburan di dalam masjid, bahkan sebaliknya kita akan temui kesesuain pendapat para ulama di atas dengan al-Quran dan bertentangnnya pendapat Ibnu Bazz serta para pentaqlid butanya dengan al-Quran.

Istidlal al-Quran :
1. 1. Allah Swt berfirman :

{ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهاً وَاحِداً لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“ Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nashoro) sebagai tuhan selain Allah. Dan orang-orang Nashoro berkata “ dan juga Al-Masih putra maryam “. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Mah Esa. Tidakada Tuhan selain Dia. Maha Dia dari apa yang mereka persekutukan “. (At-Taubah : 31)
Inilah makna sujud yang mendapat kecaman dan laknat, atau menjadikan arah qiblat selain qiblat yang disyare’atkan sebagaimana mereka (ahlul kitab) lakukan, mereka mengarah saat sembahyang dengan menghadap kuburan orang alim dan rahib-rahib mereka.

Dan realita yang ada dari apa yang dilakukan umat muslim di dalam masjid-masjid mereka tidaklah seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi dan nashoro. Maka mengarahkan hadits dan ayat tsb pada umat muslim sangatlah salah dan sesat dan merupakan perbuatan kaum khowarij. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Umar :

ذهبوا إلى آيات نزلت في المشركين، فجعلوها في المسلمين

“ Mereka kaum khawarij menjadikan ayat-ayat yang turun pada orang msuyrik diarahkan pada umat muslim “.
1. 2. Allah Swt berfirman :

وَاتَّخِذوا مِنْ مَقَامِ إبْرَاهِيمَ مُصَلّى

“ Dan jadikanlah maqam (tempat pijakan) Ibrahim sebagai tempat sholat “ (Al- Baqarah : 125)

Allah memrintahkan untuk menjadikan tempat pijakan Nabi Ibrahim sebagai tempat sholat, bukan berarti sholat terhadap pijakan nabi Ibrahim tersebut, namun sholat karena Allah dan menghadap qiblat serta berada di maqam Ibrahim sebagai tabarrukan bukan ta’dziman atau sujudan lahu.

1. 3. Allah Swt berfirman :

وَكَذَلِكَ أعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أنَّ وَعْدَ اللّهِ حَقٌّ وَأنَّ السّاعَةَ لاَ رَيبَ فيها إذْ يَتنازَعُونَ بَيْنَهُم أمْرَهُم فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَاناً رَبُّهُم أعْلَمُ بِهِم قَالَ الّذينَ غَلَبُوا عَلَى أمْرِهِم لَنَتَّخِذَنّ عَلَيْهِم مَسْجداً

“ Dan demikianlah Kami perlihatkan (manusia) dengan mereka agar mereka tahu bahwa janji Allah benar dan bahwa hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata “ Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka “. Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata “ Kami pasti akan mendirikan masjid di atas kuburan mereka “. (Al-Kahfi : 21)

Ayat ini jelas menceritakan dua kaum yang sedang berselisih mengenai makam ashabul kahfi. Kaum pertama berpendapat agar menjadikan sebuah rumah di atas kuburan mereka. Sedangkan kaum kedua berpendapat agar menjadikan masjid di atas kuburan mereka.

Kedua kaum tersebut bermaksud menghormati sejarah dan jejak mereka menurut manhajnya masing-masing. Para ulama Ahli Tafsir mengatakan bahwa kaum yang pertama adalah orang-orang msuyrik dan kaum yang kedua adalah orang-orang muslim yang mengesakan Allah Swt. Sebagaimana dikatakan juga oleh imam asy-Syaukani berikut :

يقول الإمام الشوكانى «ذِكر اتخاذ المسجد يُشعر بأنّ هؤلاء الذين غلبوا على أمرهم هم المسلمون، وقيل: هم أهل السلطان والملوك من القوم المذكورين، فإنهم الذين يغلبون على أمر من عداهم، والأوّل أولى». انتهى. ومعنى كلامه أن الأولى أن من قال ابنوا عليهم مسجدا هم المسلمون.

“ Imam Syaukani berkata “ Penyebutan menjadikan masjid dalam ayat tsb menunjukkan bahwa mereka yang menguasai urusan adalah orang-orang muslim. Ada juga yang berpendapat bahwa mereka adalah para penguasa dan raja dari kaum muslimin..”. Makna ucapan beliau adalah pendapat yang lebih utama adalah bahwa yang berkata bangunlah masjid di atas kuburan mereka adalah kaum muslimin “.

وقال الإمام الرازى فى تفسير ﴿لنتّخذنّ عليه مسجداً﴾ «نعبد الله فيه، ونستبقى آثار أصحاب الكهف بسبب ذلك المسجد». تفسير الرازى

Imam Ar-Razi di dalam tafisrnya berkata “ Kami akan menjadikan masjid di atasnya “ maknanya adalah “ Kami akan beribadah kepada Allah di dalam masjid tersebut dan kami akan memelihara bekas-bekas para pemuda ashabul kahfi dengan sebab masjid tersebut “.

Istidlal al-Hadits :

1. Nabi Saw bersabda :

أللّهمّ لا تجعل قبري وثناً، لعن اللّه قوماً اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“ Ya Allah, jangan jadikan kuburanku tempat sesembahan, semoga Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebgaia masjid “.

Ini adalah sebuah DOA NABI MUHAMMAD agar Allah tidak mnjadikan makam beliau sebagai tempat sesembahan atau masjid. Dan doa Nabio Saw tidak mungkin ditolak oleh Allah Swt. Karena terbukti hingga saat ini tidak ada satu pun kaum muslimin yang menyembah kuburan Nabi Saw.

2. روى مسلم في صحيحه عن النبي الأكرم أنّه قال حينما قالت أُم حبيبة وأُم سلمة بأنهما رأتا تصاوير في إحدى كنائس الحبشة: إنّ أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح فمات بنوا على قبره مسجداً، وصوروا فيه تلك الصورة أولئك شرار الخلق عند اللّه يوم القيامة

“ Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda ketika Ummu Habibah dan ummu Salamah berkata bahwa keduanya pernah melihat patung-patung di salah satu gereja Habasyah, “ Sesungguhnya mereka jika ada salah satu orang shalih yang wafat, maka mereka menjadikan kuburannya sebagai masjid dan membuat patungnya di dalamnya, merekalah seburuk-buruknya manusia di sisi Allah kelak di hari kiamat “.

Dalam hadits tersebut jelas bahwa yang divonis Rasul sebagai manusia terburuk adalah membuat patung yang ditegakkan di atas kuburan mereka dan mereka sembah / sujud patung tersebut. Inilah perbuatan orang nashoro saat itu. Sedangkan umat muslim sejak dulu hingga sekarang tak ada yang melakukan seperti apa yang mereka (Nashoro dan yahudi) lakukan.

KESIMPULAN :

Pemahaman ulama Salaf bahwa :

- Tidak mengapa sholat di dalam masjid yang terdapat makam nabi atau orang sholeh, bahkan itu disyare’atkan dan hal ini tidak masuk kecaman Nabi tentang menjadikan kuburan sebagai masjid, sungguh sangat jauh perbedaanya. Sebagaimana penjelsan di atas.

- Yang dilarang oleh nabi bahkan mendapat laknat adalah menjadikan kuburan nabi atau orang sholeh sebagai masjid yaitu bersujud padanya, adakalnya di atasnya atau di dalam kubur itu sendiri. Dan hal ini kita lihat sendiri umat muslim satu pun sejak dulu hingga sekrang tak ada yang melakukan sperti itu.

- Para ulama madzhab berbeda pendapat tentang sholat di area pekuburan atau pemakaman :
1. Madzhab Hanafiyyah mengatakan : makruh sholat di pemakaman sebab dikhawatirkan ada najis yang keluar dari kuburan, KECUALI jika di pemakaman tersebut disediakan tempat sholat, maka hilanglah hokum makruh.

2. Madzhab Malikiyyah mengatakan : Boleh sholat dipemakaman secara muthlaq, baik pekuburan itu bersih atau terbongkar (manbusyah), pekuburan muslim atau non muslim.

3. Madzhab Syafi’iyyah memerinci sebagai berikut :
Tidak sah sholat dipekuburan yang nyata ada kerusakan / keterbongkaran kuburan di dalamnya, karena telah bercampur tanah dengan nanah jenazah di situ. Ini jika tidak membuat penghakang seperti sajadah, jika memakai sajadah maka hukumnya makruh.

Adapun jika yakin tidak adanya bercampurnyanya nanah pada tanah pekuburan, maka hokum sholat di dalamnya sah tanpa khilaf. Karena tempatnya suci namun tetap makruh.

Dan saya (Ibnu Abdillah Al-Katibiy) tidak pernah melihat seorang pun sholat di pekuburan atau pemakaman, hanya sering melihat orang-orang sholat di masjid yang berdampingan dengan pemakaman dan ini di luar pembahasan.

4. Madzhab Hanabilah mengatakan : Tidak sah sholat di pekuburan yang baru atau punyang lama, berulang-ulang pembongkarannya atau pun tidak. Namun tidak mengapa sholat di area yang ada satu atau dua kuburan, karena yang namnya pekuburan adalah terdapat tiga kuburan atau lebih.

Bahkan ada nash dari madzhab ini bahwa setiap apa yang masuk kategori maqbarah adalah tidak boleh melakukan sholat di dalamnya. Mereka juga menetapkan bahwa tidak mengapa sholat di dalam rumah yang terdapat kuburan di dalamnya walaupun lebih dari tiga kuburan, karena ini bukan dinamakan maqbarah.

Dan hal ini adalah masalah furu’ / cabang agama.

CATATAN :

• Jika Salafi wahhabi termasuk Ibn Bazz dan para pentaqlid butanya mengatakan haram, syirik bahkan kufur pada kaum muslimin yang sholat di dalam masjid yang terdapat makam nabi atau orang sholeh, maka kami katakana pada mereka :
“ Kalau itu pemahaman kalian, maka beranikah kalian menghancurkan Masjid Nabawi ?? “
Jika kalian berkata “ Kami tidak berani karena di situ ada makam Nabi “

Kami jawab : “Jika kalian mengkhususkan makam Nabi, maka di situ juga ada makam sahabat Nabi Saw, beranikah kalian menghancurkan atau memindahkan makam kedua sahabat Nabi Saw tersebut ??

Dan bahkan umat muslim sholat di sekitar makam-makam tersebut…!!”

• Salafi wahhabi utamanya Ibn Bazz mengaku sebagai pengikut salaf, sedangkan ulama salaf tidak seperti pemahaman mereka bahkan bertentangan dengan mereka, lalu siapakah salaf yang kalian ikuti ??

Minggu, 22 April 2012

ZIARAH KUBUR, BACAAN TALQIN DAN BACAAN AL-QUR’AN MENURUT MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

Oleh : Ustadz Ibnu Mas'ud

KITAB “AL-AHKAM TAMANNI AL-MAUT” MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB CETAKAN AL-MAKTABAH AS-SU’UDIYAH AR-RIYADH

Pada halaman 18 bab. Sebagian do’a-do’a bagi mayit setelah dikuburkan [Ba’d al-Ad’iyat li al-Mayit ba’da dafnih] dijelaskan sebuah riwayat tentang talqin mayit sbb:

وأخرج الطبراني فى الكبير, وابن منده عن أبى أمامة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اذا مات أحد من اخوانكم, فسويتم التراب عليه, فليقم أحدكم على رأس قبره, ثم يقول: يافلان بن فلان, فأنه يسمعه ولا يجيب, ثم يقول: يافلان بن فلان, فأنه يقول: أرشدنا رحمك الله. ولكن لا تشعرون, فليقل: أذكر ماخرجت عليه من الدنيا: شهادة ان لا اله الا الله, وأن محمد رسول الله, وأنك رضيت باالله ربا, وباالاسلام دينا, وبمحمد نبيا, وباالقرأن ايماما, فأن منكرا ونكيرا يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه,........."

Ditakhrij oleh ath-Thabrani dalam Al-Kabir, dan Ibnu Munadih dari Abi Amamah dari Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila salah satu saudaramu meninggal dunia dan kamu telah meratakan tanahnya [debunya], maka berdirilah salah satu diantaramu diatas kepala kuburannya [mayit], kemudian dia berkata: ‘Hai fulan bin fulan.’ Maka dia [mayit] mendengarnya dan tidak bisa menjawabnya’. Kemudian dia berkata: ‘Hai fulan bin fulan,’ Maka sesungguhnya [mayit] berkata, ‘Tunjukkanlah kami, semoga Allah merahmatimu,’ Akan tetapi kamu tidak mengetahui. Maka dia katakan: ‘Ingatlah sebelum kamu keluar dari [kehidupan] dunia yaitu persaksian bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan [yang wajib disembah] kecuali Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, dan sesungguhnya kamu telah ridha Allah sebagai Tuhan, islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, al-Qur’an sebagai panutan. Maka sesungguhnya Munkar dan Nakir masing-masing akan mengambil [pertanyaan] dari ahli kubur, ......

Dalam halaman 75 bab. Mayit mendapatkan manfa’at dari amal sholih yang dihadiahkan kepada mereka [dari orang yang hidup]. (Intifa’ al-Amwat Bima Yahdi Ilaihim Min Al-A’mali Ash-Sholihah, disebutkan sebuah riwayat sbb:

وأخرج سعد الزنجاني عن أبي هريرة مرفوعا: "من دخل المقابر ثم قرأ فاتحةالكتاب, وقل هوالله أحد, وألهاكم التكاثر, ثم قال: اني جعلت ثواب ماقرأت من كلامك لآهل المقابرمن المؤمنين والمؤمنات, كانوا شفعاء له الى الله تعالى."

Ditakhrij dari Sa’ad Al-Zanjani dari Abu Hurairah ra. Hadits marfu’ [sampai kepada Nabi]: “Barangsiapa yang memasuki kuburan [ziarah] kemudian membaca fatihatul kitab [surat al-Fatihah] dan Qul Huwallohu Ahad [Surat al-Ikhlas] dan Al-Hakumut Takatsur [Surat at-Takatsur]”, kemudian dia [Abu Hurairah] berkata: “Aku jadikan pahala dari bacaanku dari firman-Mu untuk semua ahli kubur dari orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, adalah itu menjadi penolong baginya menuju Allah Ta’ala.”

وأخرج عبد العزيز صاحب الخلال بسنده عن أنس مرفوعا: "من دخل المقابر فقرأ سورة يس, خفف الله عنهم, وكان له بعدد من فيها حسنات."

Ditakhrij dari Abdul ‘Aziz dengan sanad dari Anas ra. Hadits marfu’ [sampai kepada Nabi] “Barangsiapa yang memasuki kuburan [ziarah] kemudian membaca surat yasin, maka Allah meringankan dari [siksa] mereka, dan adalah baginya hitungan orang yg berbuat kebaikan.

KITAB “KAIFA NAFHAM AT-TAUHID” [BAGAIMANA KALIAN MEMAHAMI TAUHID] MUHAMMAD AHMAD BASYAMIL TAHUN CETAKAN 1406 H

Oleh : Ustadz Ibnu Mas'ud

Muhammad Ahmad Basyamil lahir tahun 1915 M/1336 H. Dia seorang yatimpada usia delapan tahun. Dia adalah ulama wahabi, murid dari Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh, murid dari Abdulloh bin Muhammad bin Hamid, juga murid dari Abdul 'Azoz bin Abdulloh bin Baz.

Sobat fillah, jika kita membaca kitab tersebut pada halaman 4 [empat], kita akan menemukan ungkapan yang menggambarkan keilmuan si penulis kitab [Muhammad Ahmad Basyamil] dalam mukaddimahnya sbb:

Terjemahan scan kitab yg berwarna kuning:

“Sesungguhnya pada umumnya umat islam adalah orang-orang bodoh, tidak mengetahui makna hakikat ibadah. Mereka menghadapkan diri dengan ibadanya kepada selain Allah (karena kebodohannya). Maka jatuhlah mereka dalam perbuatan syirik dan keluar dari jalan (agama).”

“Dan hal itu karena mereka menghadapkan diri dengan penuh rasa takut dan khudhu’ [merendahkan diri] kepada kuburan para Nabi, para wali dan para orang-orang sholih, dengan berdo’a dan beristighotsah, memotong hewan dan bernadzar, bertowaf dan menginap dikuburan [karena memuliakan] sebagaimana mereka bertowaf di Ka’bah yang mulia. Dan ini adalah ibadah yang mereka namakan tabaruk [mengambil berkah] dan tawasul [menjadikan perantara].”

Namun betapa kagetnya kita setelah membaca kalimat pada halaman 12 tentang “TAUHID ABU JAHAL DAN ABU LAHAB”.

“Abu Jahal dan Abu Lahab dan orang-orang yang berada dalam agama musyrik mereka, mereka adalah beriman kepada Allah, dan mentauhidkan rububiyahnya, sebagai yang mencipta, yang memberi rizki, yang menghidupkan dan yang mematikan, yang memberi mudhorot & manfaat, mereka tidak menyekutukan Nya dalam hal itu sedikitpun".

“Aneh dan ganjil, ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak tauhidnya kepada Allah dan lebih murni imannya kepada-Nya dari pada kaum Muslimin yang bertawassul dengan para wali dan orang-orang shaleh dan memohon pertolongan dengg perantara mereka kepada Allah. Ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak tauhidnya dan lebih tulus imannya dari mereka kaum Muslimin yg mengucapkan "La'ilaha illallah Muhammadar Rasulullah" (tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah)” Wallahu a’lam bish-Shawab


SOBAT FILLAH.....SILAHKAN PELAJARI TERUS KITAB-KITAB WAHABI NANTINYA PASTI KITA MENGETAHUI KEANEHAN AKIDAH WAHABI INI, SEMOGA ALLAH MENJAUHKAN KITA DARI TIPU DAYA AKIDAH TANDUK SETAN TERSEBUT, AMIIN.....

SEBUAH PELAJARAN DAN TEGURAN DARI ISTRI

Seorang guru sufi pernah khilaf karena terlalu mencintai sepotong roti dari pada yakin akan rizki dari Alloh SWT. Beruntunglah guru sufi tersebut bertemu dengan seorang gadis cantik sholehah yang menegur kekhilafannya. Setelah itu guru sufi tersebut pun bertobat.

Syah bin Syuja' adalah seorang sufi yang berasal dari keluarga bangsawan di Kota Kirmani. Ia memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan. Meskipun masih remaja keduanya mempunyai kecerdasan spiritual yang luar biasa yang diwariskan oleh ayahnya.

Putri Syah bin Syuja' telah dipingitnya (tidak boleh keluar) selama 20 tahun. Setelah usia putrinya mencapai 20 tahun ia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Hal itu mengundang banyak pemuda untuk melamarnya. Sebagai orang tua tentu saja Syah bin Syuja' senang banyak yang melamar putrinya tapi di sisi lain Syah bin Syuja' sedih dan bimbang siapa jodoh putrinya yang sebenarnya?? Syah bin Syuja' kemudian pergi menjelajah dari masjid ke masjid hingga tibalah dia di salah satu masjid yang dipakai sholat salah seorang guru sufi.

MENIKAH
Syah bin Syuja' kemudian segera menemui guru sufi tersebut dan bertanya, "apakah engkau telah berkeluarga?" jawab guru sufi tersebut "belum". "Maukah engkau mempunyai istri yang bisa membaca Al Quran?" tanya Syah bin Syuja'. "Siapa yang mau menikahkan putrinya dengaku? hartaku cuma 3 dirham jawab guru sufi tersebut". Akan aku serahkan putriku kepadamu," jawab Syah bin Syuja'. Dari 3 dirham yang engkau miliki itu belanjakanlah satu dirham untuk roti, satu dirham untuk minyak mawar, dan satu dirham untuk pengikat tali perkawinan" jawab Syah bin Syuja'.r

Akhirnya mereka sepakat. Malam itu juga Syah bin Syuja' mengantarkan putrinya kerumah guru sufi tersebut dan keduanya pun dinikahkan. Keduanya kini telah menjadi sepasang suami istri. Saat memasuki pojok rumah suaminya, putri Syah bin syuja' melihat sepotong roti kering di dekat sebuah kendi air.

"Roti apakah ini?" tanya istrinya kepada suaminya. "Roti kemarin yang aku simpan untuk hari ini" jawab guru sufi. Mendengar jawaban dari suaminya itu tiba-tiba putri Syah bin Syuja' hendak meninggalkan rumah guru sufi tersebut. Guru sufi pun sudah pasrah seraya berkata "Sudah kuduga bahwa putri Syah bin Syuja' tidak akan sanggung hidup bersamaku yang miskin ini.

DUA PILIHAN
Putri Syah bin Syuja' menjawab "aku meninggalkanmu bukan karena sedikitnya hartamu tetapi karena sedikitnya imanmu dan kepercayaanmu sehingga engkau menyimpan roti kemarin dan tidak percaya bahwa Alloh SWT akan memberi kamu rizki setiap hari," kata putri Syah bin Syuja' dengan serius. Guru sufi tersebut sangat terkejut mendengar jawaban dari istrinya. Ia sadar telah khilaf dan salah sekaligus mengetahui bahwa ada seoranng perempuan yang jauh lebih tinggi berserah dirinya kepada Alloh SWT.

Setelah terdiam sejenak ia melanjutkan perkataannya, "aku jadi heran kepada ayahku 20 tahun beliau memingitku lamanya dan mengatakan akan menikahkanku dengan orang yang bertakwa kepada Alloh SWT tetapi beliau justru menyerahkan aku kepada seorang yang tidak pasrah kepada Alloh SWT untuk makanannya sehari-hari".

"Apakah kesalahanki ini bisa diperbaiki?" guru bertanya. "Bisa, pilih salah satu diantara dua, aku atau roti kering itu" jawab Putri Syah bin Syuja'. Guru sufi pun memilih istrinya ia lantas bertobat dan mengucap istighfar. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...