English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Belajar Dan Berbagi Ilmu Serta Nasehat Untuk Mempererat Ukhuwah Islamiyah
free counters
Tampilkan postingan dengan label CERITA SUFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA SUFI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

SYAIKH JUNAID AL BAGHDADI DAN SI BAHLUL

Syekh Junaid al Baghdadi, seorang sufi terkemuka, pergi ke luar kota Baghdad. Para muridnya juga ikut dengannya. Syekh itu bertanya tentang Bahlul.
Mereka menjawab, “Ia adalah orang gila, apa yang Anda butuhkan darinya?”
“Cari dia, karena aku ada perlu dengannya,” kata Syekh Junaid.

Murid-muridnya lalu mencari Bahlul dan bertemu dengannya di gurun. Mereka lalu mengantar Syekh Junaid kepadanya.
Ketika Syekh Junaid mendekati Bahlul, ia melihat Bahlul sedang gelisah sambil menyandarkan kepalanya ke tembok. Syekh itu lalu menyapanya. Bahlul menjawab dan bertanya padanya,
“Siapakah engkau?”
“Aku adalah Junaid al Baghdadi,” kata syekh itu.
“Apakah engkau Abul Qasim?” tanya Bahlul. “Ya!”jawab syekh itu.
“Apakah engkau Syekh Baghdadi yang memberikan petunjuk spiritual pada orang-orang?” tanya Bahlul.
“Ya!” jawab sang syekh.
“Apakah engkau tahu bagaimana cara makan?” tanya Bahlul.
 
Syekh itu lalu menjawab, “Aku mengucapkan Bismillaah (Dengan nama Allah). Aku makan yang ada di hadapanku, aku menggigitnya sedikit, meletakkannya di sisi kanan dalam mulutku, dan perlahan mengunyahnya. Aku tidak menatap suapan berikutnya. Aku mengingat Allah sambil makan. Apa pun yang aku makan, aku ucapkan Alhamdulillaah (Segala puji bagi Allah). Aku cuci tanganku sebelum dan sesudah makan.”

Bahlul berdiri, menyibakkan pakaiannya, dan berkata, “Kau ingin menjadi guru spiritual di dunia, tetapi kau bahkan tidak tahu bagaimana cara makan!” Sambil berkata demikian, ia berjalan pergi.
Murid Syekh itu berkata, “Wahai Syekh! Ia adalah orang gila.”
Syekh itu menjawab, “Ia adalah orang gila yang cerdas dan bijak. Dengarkan kebenaran darinya!”
 
Bahlul mendekati sebuah bangunan yang telah ditinggalkan, lalu ia duduk. Syekh Junaid pun datang mendekatinya. Bahlul kemudian bertanya, “Siapakah engkau?”
“Syekh Baghdadi yang bahkan tak tahu bagaimana caranya makan,” jawab Syekh Junaid.
“Engkau tak tahu bagaimana cara makan, tetapi tahukah engkau bagaimana cara berbicara?” tanya Bahlul.
“Ya!” jawab sang syekh.
“Bagaimana cara berbicara?” tanya Bahlul.
Syekh itu lalu menjawab, “Aku berbicara tidak kurang, tidak lebih, dan apa adanya. Aku tidak terlalu banyak bicara. Aku berbicara agar pendengar dapat mengerti. Aku mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasulullah. Aku tidak berbicara terlalu banyak agar orang tidak menjadi bosan. Aku memberikan perhatian atas kedalaman pengetahuan lahir dan batin.” Kemudian ia menggambarkan apa saja yang berhubungan dengan sikap dan etika.
 
Lalu Bahlul berkata, “Lupakan tentang makan, karena kau pun tak tahu bagaimana cara berbicara!”
Bahlul pun berdiri, menyibakkan pakaiannya, dan berjalan pergi.
Murid-muridnya berkata, “Wahai Syekh! Anda lihat, ia adalah orang gila. Apa yang kau harapkan dari orang gila?!”
Syekh itu menjawab, “Ada sesuatu yang aku butuhkan darinya. Kalian tidak tahu itu.”
Ia lalu mengejar Bahlul lagi hingga mendekatinya. Bahlul lalu bertanya, “Apa yang kau inginkan dariku ? Kau, yang tidak tahu bagaimana cara makan dan berbicara, apakah kau tahu bagaimana cara tidur?”
“Ya, aku tahu!” jawab syekh itu. “Bagaimana caramu tidur?” tanya Bahlul.
Syekh Junaid lalu menjawab, “Ketika aku selesai salat Isya dan membaca doa, aku mengenakan pakaian tidurku.” Kemudian ia ceritakan cara-cara tidur sebagaimana yang lazim dikemukakan oleh para ahli agama.
“Ternyata kau juga tidak tahu bagaimana cara tidur!” kata Bahlul seraya ingin bangkit.
Tetapi Syekh itu menahan pakaiannya dan berkata, “Wahai Bahlul! Aku tidak tahu. Karenanya, demi Allah, ajari aku!”
 
Bahlul pun berkata, “Sebelumnya, engkau mengklaim bahwa dirimu berpengetahuan dan berkata bahwa engkau tahu, maka aku menghindarimu. Sekarang, setelah engkau mengakui bahwa dirimu kurang berpengetahuan, aku akan mengajarkan padamu. Ketahuilah, apa pun yang telah kau gambarkan itu adalah permasalahan sekunder. Kebenaran yang ada di belakang memakan makanan adalah bahwa kau memakan makanan halal. Jika engkau memakan makanan haram dengan cara seperti yang engkau gambarkan, dengan seratus sikap pun, maka itu tak bermanfaat bagimu, melainkan akan menyebabkan hatimu hitam!”
“Semoga Allah memberimu pahala yang besar,” kata sang syekh.

Bahlul lalu melanjutkan, “Hati harus bersih dan mengandung niat baik sebelum kau mulai berbicara. Dan percakapanmu haruslah menyenangkan Allah. Jika itu untuk duniawi dan pekerjaan yang sia-sia, maka apa pun yang kau nyatakan akan menjadi malapetaka bagimu. Itulah mengapa diam adalah yang terbaik.
Dan apa pun yang kau katakan tentang tidur, itu juga bernilai sekunder. Kebenaran darinya adalah hatimu harus terbebas dari permusuhan, kecemburuan, dan kebencian. Hatimu tidak boleh tamak akan dunia atau kekayaan di dalamnya, dan ingatlah Allah ketika akan tidur!”
Syekh Junaid lalu mencium tangan Bahlul dan berdoa untuknya.


Inti dari cerita tersebut adalah :

Sahabatku. Orang zaman sekarang masih ada yang beribadah tanpa memahami isi makna. Mereka hanya mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh nenek moyangnya tanpa kemampuan memaknai. Maka tak heran jika amal yang dilakukan, ibadah yang dilakukan, akan terasa kering. Tidak menyerap di hati. Bahkan shalat sudah tak mampu mencegah kemungkaran. Kenimatan beribadah sangat sulit mereka dapatkan. Dalam cerita di atas, bahlul mencoba membeberkan beberapa kasus yang sehari-hari ditemui. Semoga dengan cerita di atas engkau dapat memaknai setiap amal yang kau lakukan, sehingga makan, bicara dan tidurmu menjadi cahaya dan ibadah, amiin…..

Minggu, 22 April 2012

SEBUAH PELAJARAN DAN TEGURAN DARI ISTRI

Seorang guru sufi pernah khilaf karena terlalu mencintai sepotong roti dari pada yakin akan rizki dari Alloh SWT. Beruntunglah guru sufi tersebut bertemu dengan seorang gadis cantik sholehah yang menegur kekhilafannya. Setelah itu guru sufi tersebut pun bertobat.

Syah bin Syuja' adalah seorang sufi yang berasal dari keluarga bangsawan di Kota Kirmani. Ia memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan. Meskipun masih remaja keduanya mempunyai kecerdasan spiritual yang luar biasa yang diwariskan oleh ayahnya.

Putri Syah bin Syuja' telah dipingitnya (tidak boleh keluar) selama 20 tahun. Setelah usia putrinya mencapai 20 tahun ia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Hal itu mengundang banyak pemuda untuk melamarnya. Sebagai orang tua tentu saja Syah bin Syuja' senang banyak yang melamar putrinya tapi di sisi lain Syah bin Syuja' sedih dan bimbang siapa jodoh putrinya yang sebenarnya?? Syah bin Syuja' kemudian pergi menjelajah dari masjid ke masjid hingga tibalah dia di salah satu masjid yang dipakai sholat salah seorang guru sufi.

MENIKAH
Syah bin Syuja' kemudian segera menemui guru sufi tersebut dan bertanya, "apakah engkau telah berkeluarga?" jawab guru sufi tersebut "belum". "Maukah engkau mempunyai istri yang bisa membaca Al Quran?" tanya Syah bin Syuja'. "Siapa yang mau menikahkan putrinya dengaku? hartaku cuma 3 dirham jawab guru sufi tersebut". Akan aku serahkan putriku kepadamu," jawab Syah bin Syuja'. Dari 3 dirham yang engkau miliki itu belanjakanlah satu dirham untuk roti, satu dirham untuk minyak mawar, dan satu dirham untuk pengikat tali perkawinan" jawab Syah bin Syuja'.r

Akhirnya mereka sepakat. Malam itu juga Syah bin Syuja' mengantarkan putrinya kerumah guru sufi tersebut dan keduanya pun dinikahkan. Keduanya kini telah menjadi sepasang suami istri. Saat memasuki pojok rumah suaminya, putri Syah bin syuja' melihat sepotong roti kering di dekat sebuah kendi air.

"Roti apakah ini?" tanya istrinya kepada suaminya. "Roti kemarin yang aku simpan untuk hari ini" jawab guru sufi. Mendengar jawaban dari suaminya itu tiba-tiba putri Syah bin Syuja' hendak meninggalkan rumah guru sufi tersebut. Guru sufi pun sudah pasrah seraya berkata "Sudah kuduga bahwa putri Syah bin Syuja' tidak akan sanggung hidup bersamaku yang miskin ini.

DUA PILIHAN
Putri Syah bin Syuja' menjawab "aku meninggalkanmu bukan karena sedikitnya hartamu tetapi karena sedikitnya imanmu dan kepercayaanmu sehingga engkau menyimpan roti kemarin dan tidak percaya bahwa Alloh SWT akan memberi kamu rizki setiap hari," kata putri Syah bin Syuja' dengan serius. Guru sufi tersebut sangat terkejut mendengar jawaban dari istrinya. Ia sadar telah khilaf dan salah sekaligus mengetahui bahwa ada seoranng perempuan yang jauh lebih tinggi berserah dirinya kepada Alloh SWT.

Setelah terdiam sejenak ia melanjutkan perkataannya, "aku jadi heran kepada ayahku 20 tahun beliau memingitku lamanya dan mengatakan akan menikahkanku dengan orang yang bertakwa kepada Alloh SWT tetapi beliau justru menyerahkan aku kepada seorang yang tidak pasrah kepada Alloh SWT untuk makanannya sehari-hari".

"Apakah kesalahanki ini bisa diperbaiki?" guru bertanya. "Bisa, pilih salah satu diantara dua, aku atau roti kering itu" jawab Putri Syah bin Syuja'. Guru sufi pun memilih istrinya ia lantas bertobat dan mengucap istighfar. 

Sabtu, 21 Januari 2012

ADAB SAAT SEDIKIT DUNIA TERBUKA BAGI MEREKA

Abu Ya’qub an-Nahrajuri berkata : Saya mendengar Abu Ya’qub as-Susi berkata: Ada seorang fakir datang kepada kami, saat itu kami sedang berada di ar-Rajan. Sementara itu, Sahl bin Abdullah juga berada di sana. Lalu si fakir tersebut berkata pada kami, “Kalian adalah orang-orang yang biasa memberi bantuan. Saat ini kami sedang ditimpa bencana.” Maka Sahl bin Abdullah berkata, “Dalam daftar bencana telah tercatat sejak Anda memperlihatkan masalah ini. Lalu apa bencana itu?” la menjawab, “Dibukakan pada kami pintu dunia, dan aku gunakan hanya untuk diri sendiri tanpa peduli pada keluarga dekatku. Hingga saya kehilangan iman dan kondisi spiritual.” Sahl berkata kepada Abu Ya’qub, “Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?” Abu Ya’qub menjawab, “Bencana dalam kondisi spiritualnya lebih berat dari pada bencana dalam imannya.” Lalu Sahl berkata, “Orang seperti Anda yang pantas mengatakan ini.”

Dikisahkan dari Khair an-Nassaj -rahimahullah -yang berkata: Aku pernah masuk di sebagian masjid. Ternyata di situ ada seorang fakir yang aku mengenalnya. Ketika melihatku la langsung merangkulku dan menangis sembari berkata, “Wahai syekh kasihanilah aku, karena cobaanku sangat berat!” Lalu aku bertanya, “Wahai fulan, apakah cobaan yang Anda maksudkan?” la tetap berkata, “Wahai syekh, kasihanilah aku, karena cobaanku sangat berat!” Aku pun mengulangi pertanyaan, “Wahai fulan, apakah cobaan yang Anda maksudkan itu?” la menjawab, “Aku telah kehilangan bencana, kemudian setelah itu dibarengi dengan kesehatan (afiat). Sementara engkau tahu, bahwa hal ini adalah cobaanan yang sangat berat.” Khair an-Nassaj berkata: Si fakir itu telah di bukakan sedikit kenikmatan dunia.
Abu Turab an-Nakhsyabi - rahimahullah - berkata, “Jika berbagai kenikmatan telah melimpah pada salah seorang di antara kalian maka hendaknya ia menangisi pada dirinya. Sebab la telah menempuh jalan yang tidak ditempuh orang-orang saleh.”

Saya mendengar al -Wajihi - rahimahullah - berkata: Bunan al-Hammal dibawakan uang sejumlah seribu dinar yang dituangkan di depannya. Kemudian Bunan berkata pada orang yang menuangkan uang tersebut, “Bawalah kembali dan ambillah uang itu. Demi Allah, andaikan di atas uang tidak ada tulisan nama Allah niscaya sudah aku kencingi. Kemilaunya telah banyak menipuku.”

Al Wajihi berkata : Suatu ketika Bunan al-Hammal diberi kenikmatan duniawi berupa uang empat ratus dinar. Saat itu ia sedang tidur. Mereka meletakkannya di atas kepalanya. Kemudian Bunan mimpi seakan-akan ada orang berkata, “Barang siapa mengambil dunia lebih dari kadar yang secukupnya maka Allah akan membutakan mata hatinya.” Kemudian la terbangun, dan hanya mengambil empat daniq, sementara sisanya ia tinggalkan.

Saya mendengar Ibnu `Ulwan -rahimahullah - berkata: Ada beberapa orang membawakan uang tiga ratus dinar untuk Abu al-husain an-Nuri. Mereka telah menjual barang-barangnya untuk mendapatkan uang tersebut. Setelah menerima uang itu an-Nuri duduk di atas jembatan Sarat sambil melemparkan dinar-dinar tersebut satu demi satu ke dalam air, dan berkata, “Wahai Tuanku, dengan dinar ini Engkau ingin menipuku jauh dari-Mu.”

Dikisahkan dari Ja’far al-Khuldi - rahimahullah - yang berkata: Ibnu Zairi, salah seorang sahabat al-Junaid telah dibukakan sedikit kenikmatan duniawi sehingga la terputus dengan kaum fakir. Suatu ketika la datang kepada kami, sementara di pakaiannya terdapat kantong berisikan dirham yang cukup banyak. Ketika melihat kami dari kejauhan ia, berkata, “Wahai sahabat-sahabat kami, jika kalian sangat bangga dengan kefakiran, sementara kami bangga dengan kekayaan lalu kapan kita bisa bertemu?” Akhirnya ia melemparkan seluruh uang di kantongnya kepada kami.
Abu Said al-A`rabi berkata: Ada seorang pemuda menemani Abu Abdillah Ahmad al-Qalanisi. Kemudian selama beberapa waktu la menghilang dari al-Qalanisi. la kembali dari pengembaraannya setelah terbukakan pintu dunia dan mendapatkan harta. Kemudian kami berkata kepada al-Qalanisi, “Apakah Anda mengizinkan kami untuk datang mengunjunginya?” la menjawab “Tidak, sebab la berteman dengan kita dalam kondisi fakir. Andaikan la tetap pada kondisi semula, seyogyanya kami akan pergi mengunjunginya. Tapi apabila la kembali dari pengembaraannya dalam kondisi seperti ini maka ia yang wajib mengunjungi kami”

Abu Abdillah al-Hushri - rahimahullah - mengisahkan bahwa Abu Hafsh al-Haddad - rahimahullah - tinggal di Ramalah. la membawa dua potong pakaian usang yang di tengah-tangahnya ada uang seribu dinar. la tinggal di sana selama dua, tiga atau empat hari, dimana la tidak mau makan dari uang tersebut. Uang tersebut la berikan pada para fakir sampai habis.

Al-Hushri - rahimahullah - berkata : Di saat-saat krisis pangan kami pernah keluar bersama asy-Syibli mencari sesuatu untuk anak-anaknya. Kemudian kami masuk ke rumah seseorang dan orang itu memberinya sejumlah dirham. Kemudiankami keluar dan di kantongku telah penuh dengan dirham. Setiap berjumpa orang-orang fakir kami berikan uang itu hingga hanya tersisa sedikit. Aku berkata kepada asy-Syibli, “Tuan, anak-anak di rumah sedang kelaparan!” la balik bertanya kepadaku, “Lalu apa yang mesti aku lakukan?” Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, baru aku membeli sedikit makanan dengan sisa dirham tersebut dan kuberikan kepada anak-anaknya.

Dikisahkan dari Abu Ja’far ad-Darraj -rahimahullah- yang berkata: Suatu ketika guru aku keluar untuk bersuci. Sementara itu aku mengambil tempat yang la gunakan untuk menyimpan barang-barangnya dan kuperiksa. Ternyata kutemukan loggam perak kira-kira senilai empat dirham. Aku bingung dengan barang ini. Sementara itu dalam beberapa hari aku tidak makan apa-apa. Ketika la pulang aku berkata padanya, “Dalam tempat tuan menyimpan barang-barang, aku temukan logam perak. Sementara pada saat itu aku dalam kondisi kelaparan.” Lalu ia bertanya padaku, “Wah! Anda ambil barang itu? Tolong kembalikan!” kemudian setelah itu la berkata lagi padaku, “Silakan ambil uang itu, dan silakan Anda membelikannya sesuatu!” Kemudian aku bertanya, “Atas Nama Tuhan Yang engkau sembah, ada apakah dengan uang perak itu?” la menjawab, “Allah tidak pernah membe¬riku rezeki sedikit dari dunia, baik logam kuning maupun logam putih selain logam perak tersebut. Aku ingin berwasiat agar logam perak tersebut dikubur bersamaku saat aku mati. Sehingga ketika hari Kiamat tiba aku ingin mengembalikannya pada Allah swt. dan kukatakan, `Wahai Tuhanku, inilah sedikit dunia yang Engkau berikan padaku’.”

Wazir al-Mu’tadh pernah memberi uang kepada Abu al-Husain an-Nuri -rahimahullah- sehingga ia mau membagikannya kepada kaum Sufi. Kemudian an-Nuri menuangkan uang itu dalam sebuah rumah dan ia kumpulkan para Sufi di Baghdad. la berkata kepada mereka, “Siapa di antara kalian yang memerlukan sesuatu silakan masuk rumah ini dan ambil apa yang la inginkan.” Maka di antara mereka ada yang mengambil seratus dirham, ada yang mengambil lebih banyak, ada yang kurang dari seratus dan ada pula yang tidak mengambil apa-apa. Ketika dirham-dirham itu habis dan tidak tersisa sedikit pun maka an-Nuri berkata kepada mereka, “Jauhnya kalian dari Allah sesuai dengan kadar banyaknya kalian mengambil uang tersebut. Sedangkan dekatnya kalian dengan Allah sesuai dengan kadar kalian meninggalkan uang tersebut.”

www.sufinews.com

Jumat, 20 Januari 2012

RAJA YANG MENJADI BUDAK

Kadangkala untuk menunjukkan sesuatu kepada sang Raja, Abu Nawas tidak bisa hanya sekedar melaporkannya secara lisan. Raja harus mengetahuinya dengan mata kepala sendiri, bahwa masih banyak di antara rakyatnya yang hidup sengsara. Ada saja praktek jual beli budak.

Dengan tekad yang amat bulat Abu Nawas merencanakan menjual Baginda Raja. Karena menurut Abu Nawas hanya Baginda Raja yang paling patut untuk dijual. Bukankah selama ini Baginda Raja selalu mempermainkan dirinya dan menyengsarakan pikirannya? Maka sudah sepantasnyalah kalau sekarang giliran Abu Nawas mengerjai Baginda Raja.

Abu Nawas menghadap dan berkata kepada Baginda Raja Harun Al Rasyid. "Ada sesuatu yang amat menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepada Paduka yang mulia."
"Apa itu wahai Abu Nawas?" tanya Baginda langsung tertarik.
"Sesuatu yang hamba yakin belum pemah terlintas di dalam benak Paduka yang mulia." kata Abu Nawas meyakinkan.
"Kalau begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya." kata Baginda Raja tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Tetapi Baginda..." kata Abu Nawas sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tetapi apa?" tanya Baginda tidak sabar.
"Bila Baginda tidak menyamar sebagai rakyat biasa maka pasti nanti orang-orang akan banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu." kata Abu Nawas.

Karena begitu besar keingintahuan Baginda Raja, maka beliau bersedia menyamar sebagai rakyat biasa seperti yang diusulkan Abu Nawas. Kemudian Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al Rasyid berangkat menuju ke sebuah hutan. Setibanya di hutan Abu Nawas mengajak Baginda Raja mendekati sebuah pohon yang rindang dan memohon Baginda Raja menunggu di situ. Sementara itu Abu Nawas menemui seorang Badui yang pekerjaannya menjual budak.

Abu Nawas mengajak pedagang budak itu untuk melihat calon budak yang akan dijual kepadanya dari jarak yang agak jauh. Abu Nawas beralasan bahwa sebenarnya calon budak itu adalah teman dekatnya. Dari itu Abu Nawas tidak tega menjualnya di depan mata. Setelah pedagang budak itu memperhatikan dari kejauhan ia merasa cocok. Abu Nawas pun membuatkan surat kuasa yang menyatakan bahwa pedagang budak sekarang mempunyai hak penuh atas diri orang yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu.

Abu Nawas pergi begitu menerima beberapa keping uang emas dari pedagang budak itu. Baginda Raja masih menunggu Abu Nawas di situ ketika pedagang budak menghampirinya. Ia belum tahu mengapa Abu Nawas belum juga menampakkan batang hidungnya. Baginda juga merasa heran mengapa ada orang lain di situ.
"Siapa engkau?" tanya Baginda Raja kepada pedagang budak.
"Aku adalah tuanmu sekarang." kata pedagang budak itu agak kasar. Tentu saja pedagang budak itu tidak mengenali Baginda Raja Harun Al Rasyid dalam pakaian yang amat sederhana.
"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Baginda Raja dengan wajah merah padam.
"Abu Nawas telah menjual engkau kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya." kata pedagang budak dengan kasar.
"Abu Nawas menjual diriku kepadamu?" kata Baginda makin murka.
"Ya!" bentak pedagang budak.
"Tahukah engkau siapa aku ini sebenarnya?" tanya Baginda geram.
"Tidak dan itu tidak perlu." kata pedagang budak seenaknya. Lalu ia menyeret budak barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al Rasyid diberi parang dan diperintahkan untuk membelah kayu. Begitu banyak tumpukan kayu di belakang rumah badui itu sehingga memandangnya saja Sultan Harun Al Rasyid sudah merasa ngeri, apalagi harus mengerjakannya.

"Ayo kerjakan!"
Sultan Harun Al Rasyid mencoba memegang kayu dan mencoba membelahnya, namun si Badui melihat cara Sultan Harun Al Rasyid memegang parang merasa aneh.
"Kau ini bagaimana, bagian parang yang tumpul kau arahkan ke kayu, sungguh bodoh sekali!"

Sultan Harun Al Rasyid mencoba membalik parang hingga bagian yang tajam terarah ke kayu. Ia mencoba membelah namun tetap saja pekerjaannya terasa aneh dan kaku bagi si Badui.

"Oh, beginikah derita orang-orang miskin mencari sesuap nasi, harus bekerja keras lebih dahulu. Wah lama-lama aku tak tahan juga." gumam Sultan Harun Al Rasyid. Si Badui menatap Sultan Harun Al Rasyid dengan pandangan heran dan lama-lama menjadi marah. Ia merasa rugi barusan membeli budak yang bodoh.

"Hai Badui! Cukup semua ini aku tak tahan."
"Kurang ajar kau budakku harus patuh kepadaku!" kata Badui itu sembil memukul baginda. Tentu saja raja yang tak pernah disentuh orang itu menjerit keras saat dipukul kayu.
"Hai Badui! Aku adalah rajamu, Sultan Harun Al Rasyid." kata Baginda sambil menunjukkan tanda kerajaannya.

Pedagang budak itu kaget dan mulai mengenal Baginda Raja. Ia pun langsung menjatuhkan diri sembil menyembah Baginda Raja. Baginda Raja mengampuni pedagang budak itu karena ia memang tidak tahu. Tetapi kepada Abu Nawas Baginda Raja amat murka dan gemas. Ingin rasanya beliau meremas-remas tubuh Abu Nawas seperti telur.

DEBAT CERDAS TOKOH SUFI DENGAN IBNU TAIMIYAH

Di sadur dari buku Tasawuf dan Ihsan, Syeikh Hisyam Kabbani

Salah seorang imam sufi besar yang juga dikenal sebagai muhadis, pendakwah dan ahli fikih mazhab Maliki, adalah ‘Abd al-Fadhl Ibn ‘Athâ’ Allah al-Iskandari (w. 709H). Beliau adalah pengarang dari sejumlah karya penting, di antaranya:
• Al-Hikam (Kumpulan Hikmah)
• Miftâh al-Falâh (Kunci Kesuksesan)
• Al-Qashd al-Mujarrad fî Ma`rifat al-Ismil-mufrad (Tujuan Murni dari Pengetahuan tentang Nama yang Esa)
• Tâj al-`Arûs al-Hâwî li Tahdzîb al-Nufûs (Mahkota Pengantin yang Berisi Disiplin Jiwa)
• `Unwân al-Taufîq fî Adâb al-Tharîq (Tanda Keberhasilan dari Disiplin Jalan Sufi)
• Al-lathâ’if fî Manâqib Abi al-`Abbâs al-Mursi wa Syaikhihi Abi al-Hasani (Hal-hal Tersembunyi dari Kehidupan Suci ‘Abd al-Abbâs al-Mursi dan Gurunya ‘Abd al-Hasan al-Syâdzili), sebuah biografi, dan yang lain-lainnya.

Beliau adalah murid dari ‘Abd al-Abbâs al-Mursi (w. 686H) dan pengganti kedua dari sufi pendiri, yaitu Imam ‘Abd al-Hasan al-Syâdzili.
Ibn ‘Athâ’ Allah menentang Ibn Taymîyah karena sikap keterlaluannya dalam menyerang kaum sufi yang tidak bersepakat dengannya. Meskipun beliau tidak pernah secara terang-terangan menyebutkan nama Ibn Taymîyah, tapi jelas sekali bahwa beliaulah yang dimaksud tatkala beliau mengatakan, dalam kitabnya Lathâ’if, bahwa Allah telah memberi ujian kepada kaum sufi melalui apa yang ia istilahkan dengan “para ulama ilmu lahir”174 Halaman-halaman berikut memuat terjemahan pertama ke dalam bahasa Inggris tentang kisah peristiwa bersejarah yang terjadi di antara keduanya.

Berikut Teks Perdebatan dari Ushul al-Wushûl oleh Muhammad Zaki Ibrahim :

Ibn Katsîr, Ibn al-Atsîr, dan para pengarang biografi dan kamus biografi lainnya telah meriwayatkan perdebatan bersejarah yang otentik ini.175 Kisah ini memberikan suatu gambaran tentang etika perdebatan di antara orang-orang yang berilmu. Kisah ini mendokumentasikan kontroversi antara suatu pribadi yang sangat penting dalam tasawuf, yaitu Syeh Ahmad Ibn ‘Athâ’ Allah al-Iskandari, dan seorang tokoh yang sama pentingnya yang mewakili gerakan “Salafi”, yaitu Syeh Ahmad Ibn `’Abd al-Halîm Ibn Taymîyah. Perdebatan terjadi pada zaman Mamlûk di Mesir di bawah pemerintahan Muhammad Ibn Qalawun (al-Mâlik al-Nâshir).

Kesaksian Ibn Taymîyah terhadap Ibn ‘Athâ’ Allah

Syeh Ibn Taymîyah dipenjara di Iskandariah (Aleksandria), dan tatkala Sultan mengampuninya, beliau pulang ke Kairo. Pada waktu salat maghrib beliau datang ke mesjid al-Azhar yang salat maghribnya diimami oleh Syekh Ahmad Ibn ‘Athâ’ Allah al-Iskandari. Setelah salat, Ibn ‘Athâ’ Allah kaget menemukan bahwa Ibn Taymîyah telah melakukan salat di belakangnya. Dengan memberi salam kepada beliau sambil tersenyum, syekh sufi ini menyambut dengan ramah kedatangan Ibn Taymîyah di Kairo, sambil mengatakan, “Assalamu`alaikum.” Kemudian Ibn ‘Athâ’ Allah mulai berbincang dengan tamu yang ilmuwan ini.
Ibn ‘Athâ’ Allah: “Biasanya, saya melaksanakan salat Maghrib di Mesjid Imam Husain dan salat Isya di sini. 

Tapi lihatlah bagaimana rencana Tuhan bekerja sendiri! Allah telah menentukan agar saya menjadi orang yang pertama mengucapkan salam kepada Anda (setelah kepulangan Anda kembali ke Kairo). Katakanlah kepada saya, wahai fakih, apakah Anda mencelaku atas apa yang terjadi?”
Ibn Taymîyah: “Saya tahu Anda tidak bermaksud buruk pada saya, akan tetapi perbedaan pandangan di antara kita masih ada. Bagaimanapun juga, siapapun yang telah berbuat buruk pada saya, sejak hari ini dan seterusnya, saya akan membebaskannya dari kesalahan apa pun dalam urusan ini.”
Ibn `Atha` Allah: “Apa yang Anda ketahui tentang saya, wahai Syekh Ibn Taymîyah?”

Mengenai Tawasul
Ibn Taymîyah: “Saya mengetahui Anda sebagai orang yang saleh dan cermat, beilmu banyak sekali, punya integritas dan jujur dalam bicara. Saya bersaksi bahwa saya tidak menemukan seorangpun yang seperti Anda baik di Mesir atau pun di Siria yang lebih mencintai Allah atau pun lebih meluruhkan diri di dalam-Nya atau lebih taat dalam mengemban apa yang Dia perintahkan dan menjauhkan diri dari apa yang Dia larang. Meskipun demikian, kita masih memiliki perbedaan pandangan. Apa yang Anda ketahui tentang saya? Apakah Anda menyatakan bahwa saya telah sesat tatkala saya mengingkari keabsahan meminta bantuan kepada seseorang selain Allah (istighâtsah)?”
Ibn ‘Athâ’ Allah: “Sesungguhnyalah, wahai kawanku yang baik, Anda mengetahui bahwa istighâtsah atau meminta pertolongan itu sama saja dengan tawasul atau meminta disampaikan kepada Allah dan meminta syafaat; dan bahwa Rasulullah saw. adalah satu-satunya orang yang bantuannya diminta karena beliaulah perantara kita dan beliaulah satu-satunya orang yang syafaatnya kita cari.”

Ibn Taymîyah: “Dalam hal ini, saya mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh sunah Nabi saw. dalam syariah. Karena telah diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih, “Aku telah diberi kemampuan untuk memberi syafaat.”176 Saya juga telah menghimpun firman-firman Allah dalam ayat-ayat Alquran, “Mudah-mudahan Tuhanmu akan mengangkatmu (wahai Nabi) ke kedudukan yang terpuji” (Q.S. al-Isrâ’ [17]: 79) dengan arti bahwa “kedudukan yang terpuji” itu adalah syafaat. Lebih jauh, tatkala ibu dari Amir al-Mukminin Ali meninggal, Nabi saw. berdoa kepada Allah di kuburannya dan berkata: Yâ Allah yang Mahahidup dan tidak pernah meninggal, yang mempercepat dan menetapkan kematian, ampunilah dosa-dosa dari ibuku Fatîmah binti Asad, luaskanlah tempat yang ia masuki melalui syafaatku, Nabi-Mu, dan nabi-nabi yang sebelumku. Karena sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengasih di antara yang pengasih.”177

“Ini adalah syafaat yang dimiliki oleh Nabi saw. Adapun menyangkut minta bantuan kepada seseorang selain dari Allah, maka ini bernada pemberhalaan; karena Nabi saw. memerintahkan saudara sepupunya Abdullah Ibn Abbâs agar tidak meminta tolong kepada siapapun selain kepada Allah.”178

Ibn ‘Athâ’ Allah: “Semoga Allah memberimu kesejahteraan, wahai fakih. Berkenaan dengan nasihat yang diberikan oleh Nabi saw. kepada sepupunya Ibn Abbâs, beliau menginginkan agar ia mendekati Allah tidak melalui hubungan kekeluargaannya kepada Nabi saw, tapi melalui ilmunya.”

“Sehubungan dengan pemahamanmu tentang istighâtsah sebagai meminta bantuan kepada seseorang selain Allah yang merupakan kemusyrikan, saya bertanya kepada Anda, Adakah seorang Muslim yang memiliki keimanan yang kuat dan percaya kepada Allah dan Nabi-Nya saw. yang berfikir bahwa ada seseorang selain Allah yang memiliki kekuatan sendiri atas berbagai peristiwa dan sanggup mengubah apa yang telah Dia kehendaki berkenaan dengan peristiwa-peristiwa itu? Adakah seorang mukmin sejati yang percaya bahwa ada seseorang yang dapat memberi balasan baik kepadanya atas perbuatan baiknya dan menghukumnya atas perbuatan buruknya selain Allah?”

“Di samping ini semua, kita haruslah beranggapan bahwa ada ungkapan-ungkapan yang tidak boleh ditangkap maknanya sekedar dalam arti harfiahnya saja. Hal ini bukanlah karena takut membuat sekutu bagi Allah dan untuk menghindari penyebab terjadinya pemberhalaan. Karena siapapun yang meminta bantuan dari Nabi saw. hanyalah meminta kekuatan syafaat beliau di sisi Allah seperti halnya tatkala Anda sendiri mengatakan, “Makanan ini memenuhi seleraku.” Apakah makanan itu sendiri yang memenuhi selera Anda? Ataukah yang sebenarnya adalah bahwa Allahlah yang memenuhi seleramu melalui makanan?”
“Adapun tentang pernyataanmu bahwa Allah telah melarang kaum Muslim berdoa kepada seseorang selain Dia sendiri dalam rangka meminta tolong, apakah Anda benar-benar telah melihat ada seorang Muslim berdoa kepada selain Allah? Ayat yang Anda sebutkan dari Alquran diturunkan berkenaan dengan para penyembah berhala dan orang-orang yang biasa berdoa kepada tuhan-tuhan palsu mereka dan mengesampingkan Allah. Sebaliknya, satu-satunya cara kaum Muslim meminta bantuan kepada Nabi saw. adalah dalam arti tawasul atau menjadikannya sebagai perantara, dengan dasar hak istimewa yang telah beliau terima dari Allah (bi haqqihî `inda Allâh), dan tasyaffu` atau meminta pertolongan, berdasarkan atas kekuatan pengaruh yang dianugrahkan oleh Allah kepada beliau.”

“Adapun berkenaan dengan pernyataan Anda bahwa istighâtsah atau meminta pertolongan adalah dilarang dalam syariah karena dapat menggiring pada pemberhalaan dan kemusyrikan, apabila ini persoalannya, maka kita harus juga melarang anggur karena menjadi bahan untuk membuat arak, dan harus mengebiri orang-orang yang tak menikah karena kalau tidak maka membiarkan penyebab terjadinya hubungan di luar nikah dan perzinaan di muka bumi.”

Pada komentar terakhir ini kedua syekh ini tertawa. Kemudian Ibn ‘Athâ’ Allah melanjutkan,
“Saya tahu benar keluasan yang mencakup segala hal dan pandangan ke depan dari mazhab fikih yang didirikan oleh guru Anda Imam Ahmad, dan mengetahui kemenyeluruhan dari teori fikihmu sendiri dan mengenai prinsip sadd al-dzarâ’i` (mencegah penyebab keburukan) demikian pula masalah kewajiban moral yang harus dirasakan oleh seseorang yang berkecakapan dalam fikih Anda. Akan tetapi saya menyadari juga bahwa pengetahuan Anda mengenai bahasa menuntut agar supaya Anda mencari makna yang tesembunyi dari kata-kata yang sering tersembunyi di balik arti zhahirnya.
Adapun bagi kaum sufi, makna tersembunyi dari kata-kata tersebut adalah bagaikan roh, sedangkan kata-kata itu sendiri adalah bagaikan tubuh. Anda harus menembus jauh ke dalam apa yang ada di balik wujud verbal itu untuk menangkap realitas yang lebih dalam dari roh kata-kata itu.

Sekarang Anda telah menemukan dasar untuk menjatuhkan keputusan yang menentang Ibn ‘Arabî dalam kitabnya Fushûsh al-Hikam, suatu naskah yang sudah dirusak oleh para penentangnya, bukan saja dengan hal-hal yang tidak pernah beliau katakan, tapi juga dengan pernyataan-pernyataan yang bahkan tidak mungkin beliau pernah berniat mengatakannya (melihat sifat khas dari keislaman beliau). Tatkala Syekh al-Islâm al-’Izz Ibn ‘Abd al-Salâm memahami dan menganalisis apa yang benar-benar dikatakan oleh Syekh Ibn ‘Arabî, beliau mengerti dan memahami makna sesungguhnya dari ucapan-ucapan simboliknya itu, beliau meminta ampunan Allah karena pendapatnya terdahulu tentang al-Syekh dan mengakui bahwa Muhyiddin Ibn ‘Arabî adalah seorang Imam Islam.

Adapun tentang pernyataan al-Syâdzili yang menentang Ibn ‘Arabî, Anda seharusnya tahu bahwa ‘Abd al-Hasan al-Syâdzili bukanlah beliau sendiri yang mengatakannya, tetapi salah seorang di antara murid-murid tarekat Syâdziliyyah. Lebih jauh, dalam membuat pernyataan ini, murid tersebut sedang memperbincangkan sebagian dari pengikut Syâdziliyyah. Dengan demikian, kata-kata beliau diambil dalam bentuk yang tidak beliau maksudkan.
Bagaimana pendapatmu tentang Amîr al-Mukminîn Ali Ibn Abi Thâlib, semoga Allah meridhainya?”

Ibn Taymîyah: “Dalam sebuah hadis Nabi saw. bersabda, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya.”179 Ali Ibn Abi Thâlib adalah seorang mujjhid yang tidak pernah maju ke medan perang kecuali kembali dengan kemenangan. Ulama atau fakih manakah setelah beliau yang berjuang di jalan Allah dengan menggunakan lidah, pena, dan pedangnya pada saat yang sama? Beliau adalah seorang sahabat Nabi saw. yang paling ulung. Kata-katanya merupakan lampu penerang yang menerangiku di seluruh perjalanan hidupku setelah Alquran dan Sunah. Ah! Dia adalah orang yang selalu kekurangan perbekalan dan jauh perjalanannya.”
Ibn ‘Athâ’ Allah: “Sekarang, apakah Imam Ali meminta orang-orang untuk menyatakan keberfihakan kepadanya dalam suatu golongan? Karena golongan ini telah menyatakan bahwa malaikat Jibril telah melakukan kesalahan dengan memberikan wahyu kepada Muhammad saw. dan bukannya kepada Ali! Atau apakah beliau meminta mereka menyatakan bahwa Allah telah menitis ke dalam tubuhnya, maka al-Imampun menjadi tuhan? Atau Tidakkah beliau memerangi dan membunuh mereka dan memberikan fatwa bahwa mereka harus dibunuh di manapun mereka ditemukan?”
Ibn Taymîyah: “Atas dasar fatwa inilah, saya pergi memerangi mereka di gunung-gunung Siria selama lebih dari sepuluh tahun.”

Ibn ‘Athâ’ Allah: “Dan Imam Ahmad—semoga Allah meridhainya—mempertanyakan tindakan-tindakan sebagian pengikutnya sendiri yang suka berpatroli, menghancurkan tong-tong minuman keras (di toko-toko penjual minuman keras milik orang Nasrani atau di mana saja mereka menemukannya, menumpahkan isinya di jalan-jalan, memukul perempuan-perempuan penyanyi, dan melawan orang-orang di jalanan. Semuanya ini mereka lakukan atas nama menegakkan yang baik dan mencegah yang dilarang (amar ma`ruf dan nahyi munkar). Meskipun demikian, Imam Ahmad tidak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan memarahi orang-orang yang semacam mereka itu. Akibatnya, para pengikut beliau ini, dipukuli, dimasukkan ke panjara dan diarak sambil dinaikkan diatas punggung keledai dengan muka menghadap ke ekor.

Sekarang, apakah Imam Ahmad sendiri bertanggung jawab atas perilaku buruk yang masih terus dilakukan oleh para pengikut Hanbali yang paling buruk dan kejam itu sampai masa kita sekarang ini, atas nama amar ma`ruf nahyi munkar?
Semua ini berarti bahwa Syekh Muhyiddîn Ibn ‘Arabî tidaklah bersalah sehubungan dengan para pengikutnya yang membebaskan orang-orang dari kewajiban-kewajiban agama, baik syariah atau pun akhlak dan dari melakukan perbuatan yang dilarang. Apakah Anda tidak melihat hal ini?”

IbnTaymîyah: “Akan tetapi di mana mereka berada sehubungan dengan Allah? Di antara kaum sufi ada orang-orang yang menyatakan bahwa tatkala Nabi saw. memberi kabar gembira kepada orang-orang miskin bahwa mereka akan masuk ke dalam surga sebelum orang orang-orang kaya, orang-orang miskin itu merasakan kegembiraan yang meluap-luap dan mulai merobek-robek pakaiannya; pada saat itu, Malaikat Jibril turun dari langit dan mengatakan kepada Nabi saw. bahwa Allah telah mencari bagian hak-Nya di antara robekan-robekan pakaian ini; dan malaikat Jibrilpun membawa salah satu di antaranya dan menggantungkannya pada `arasy Allah. Karena alasan inilah, menurut pengakuan mereka, kaum sufi mengenakan pakaian yang bertambal-tambal dan menyebut diri mereka sebagai fukara atau ‘kaum fakir!’”

Ibn ‘Athâ’ Allah: “Tidak semua orang sufi mengenakan pakaian yang bertambal-tambal. Inilah saya yang ada di depan Anda: apa yang tidak Anda setujui dengan penampilan saya ini?”
Ibn Taymîyah: “Anda termasuk di antara ahli syariah dan mengajar di al-Azhar.”
Ibn ‘Athâ’ Allah: “Al-Ghazâlî adalah Imam, baik dalam hukum-hukum agama atau pun dalam tasawuf. Beliau memecahkan aturan-aturan hukum, baik menyangkut Sunah dan Syariah dengan semangat seorang sufi. Dan dengan menerapkan metode ini beliau telah sanggup menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita mengetahui bahwa tasawuf mengakui bahwa apa yang ternoda tidak ada tempatnya di dalam agama dan bahwa kesucianlah yang menjadi ciri dari keberimanan. Seorang sufi yang benar dan sejati haruslah menyemai di dalam hatinya keimanan yang telah diakui oleh kaum Muslim Suni.

Dua abad yang lalu fenomena sufi palsu sendiri pernah muncul yang ditentang keras dan ditolak oleh Anda sendiri. Ada sekelompok orang yang mencoba mengurangi pelaksanaan ibadah dan kewajiban-kewajiban agama lainnya, meringankan puasa dan menganggap kecil ibadah salat. Mereka menghambur secara liar ke dalam arena kemalasan dan ketakpedulian yang sangat luas, sambil menyatakan bahwa mereka telah terbebaskan dari belenggu penyembahan Tuhan. Tidak puas dengan perbuatan-perbuatannya yang buruk, mereka mengaku telah mengakrabi hakekat yang paling luar biasa dan keadaan-keadaan mistis sebagaimana digambarkan oleh Imam Qusyayrî sendiri di dalam kitabnya yang terkenal Risâlah, yang beliau arahkan untuk menentang mereka ini. Beliau juga menuliskan secara mendetail apa yang dapat membangun jalan menuju Allah, yang berisi tentang keharusan untuk berpegang secara kokoh pada Alquran dan Sunah.

Para Imam dalam tasawuf menginginkan dapat sampai pada hakikat sebenarnya bukan hanya melalui bukti-bukti rasional yang ditelisik oleh pikiran manusia yang masih mungkin mengandung kesalahan sebagaimana halnya mengandung kebenaran, tapi melalui penyucian hati dan pembersihan ego melalui serangkaian latihan spiritual. Mereka membuang ketertarikan pada kehidupan dunia ini, karena sebagai hamba Allah yang benar tidaklah akan menyibukkan diri dengan hal-hal lain selain cinta kepada Allah dan Nabi-Nya saw. Inilah tingkatan tertinggi dari kesibukan hidup dan satu hal yang dapat menjadikan seorang hamba saleh, sehat, dan bahagia. Ini adalah pekerjaan yang dapat memperbaiki hal-hal yang telah merusak penciptaan manusia, seperti cinta pada uang dan ambisi menjadi orang yang terpandang di tengah masyarakat. Meskipun demikian, itu adalah tingkatan kesibukan yang tidak akan terbangun dengan apa pun selain dengan perjuangan spiritual yang ditujukan demi Allah semata.

Wahai kawanku yang penuh ilmu, menafsirkan nash-nash secara literal, atau menurut arti harfiahnya kadang-kadang membuat seseorang jatuh dalam kesalahan. Literalismelah yang telah menyebabkan Anda menghakimi Ibn ‘Arabî yang merupakan salah seorang Imam dalam keimanan dan dikenal dengan kesalehannya yang begitu mendalam. Anda telah memahami apa yang beliau tulis dari bentuk luarnya saja; padahal orang-orang sufi adalah tokoh-tokoh kesusasteraan yang akrab sekali dengan makna-makna yang sangat dalam, bahasa balâghah (hiperbolik) yang menunjukkan kesadaran spiritual yang tinggi dan kata-kata yang menyampaikan rahasia-rahasia alam gaib.”

Ibn Taymîyah: “Argumen ini justru melawan Anda, bukan menguatkan Anda. Karena tatkala Imam al-Qusyayrî melihat pengikut-pengikutnya menyimpang dari jalan Allah, beliau maju untuk memperbaiki mereka. Apa yang dilakukan oleh para syekh sufi pada masa kita sekarang ini? Saya hanya meminta agar para sufi itu mengikuti jalan yang dipraktekkan oleh para pendahulu (Salaf) Anda yang saleh dan agung ini, oleh para zâhid (penghindar kehidupan duniawi) di antara para sahabat, para tabiin dan tabi-tabiin yang mengikuti langkah-langkah yang terbaik dari mereka!

Siapa saja yang bertindak di jalan ini saya menghargai mereka setinggi-tingginya dan menganggap mereka sebagai imam dalam agama. Adapun berkenaan dengan bidah-bidah yang tak ada jaminan kebenarannya dan memasukkan gagasan-gagasan dari para penyembah berhala seperti para filsuf Yunani dan penganut Budha India, atau ide-ide bahwa manusia dapat mewujud Allah (hulûl) atau mencapai kesatuan dengan-Nya (ittihâd), atau teori bahwa semua yang ada adalah satu dalam ke-‘ada’-annya (wihdat al-wujûd) dan hal-hal lain yang seperti itu, yang diserukan oleh syekh Anda itu kepada orang-orang: nyata-nyata ini ketidakbertuhanan dan kekufuran.”

Ibn ‘Athâ’ Allah: “Ibn ‘Arabî adalah salah seorang ahli fikih terbesar yang mengikuti mazhab Dâwûd al-Zhâhiri setelah Ibn Hazm al-Andalûsi, yang sangat dekat dengan ushul fikih Anda, wahai Hanbaliyah! Akan tetapi meskipun Ibn ‘Arabî adalah seorang Zahiri (yaitu kaum Literalisme dalam menetapkan hukum Islam), metode yang beliau terapkan dalam memahami hakikat tertinggi (al-haqîqah) adalah menyelusuri makna-makna spiritual yang tersembunyi (tharîq al-bâthin), yakni, menyucikan diri-batiniah (tathhîr al-bâthin).180 Meskipun demikian, tidak semua pengikut makna batin itu sama.
Agar Anda tidak salah dan lupa, coba baca kembali karya Ibn ‘Arabî dengan pemahaman yang jernih terhadap kata-kata simbolis dan ilhamnya. Anda akan mendapatkan sangat banyak persamaannya dengan al-Qusyayrî. Beliau telah mengambil jalannya dalam tasawuf di bawah payung Alquran dan Sunah sebagaimana halnya Hujjat al-Islam, Syekh al-Ghazâlî, yang mengadakan perdebatan tentang perbedaan-perbedaan doktrin dalam masalah akidah dan ibadah tapi beliau menganggapnya sebagai pekerjaan yang tidak mengandung nilai dan manfaat. Beliau mengundang orang-orang agar menyaksikan bahwa cinta kepada Allah merupakan jalan bagi seorang hamba yang sejati untuk mencapai iman.

Apakah Anda memiliki sesuatu yang dapat Anda tuduhkan dalah hal ini, wahai fakih? Ataukah Anda lebih suka persengketaan faham di antara para ahli fikih? Imam Malik ra. pernah memberikan peringatan keras terhadap pertengkaran dalam masalah keimanan seperti ini dan pernah mengatakan, ‘Tatkala seseorang masuk ke dalam adu argumen berkenaan dengan masalah-masalah keimanan, hal itu akan merongrong keimanannya.’ Demikian juga al-Ghazâlî pernah mengatakan: “Cara yang paling cepat untuk mendekati Allah adalah melalui hati, bukan tubuh. Saya tidak memaksudkan dengan hati tersebut daging ini yang begitu jelas dalam penglihatan, pendengaran, pandangan dan perabaan. Tapi, yang saya maksudkan adalah rahasia yang paling dalam dari Allah sendiri Yang Mahatinggi dan Mahaagung yang tidak kentara dalam pandangan dan rabaan.

Sesungguhnya, kaum Suni sendirilah yang menyebut syekh sufi al-Ghazâlî sebagai ‘Hujjat al-Islâm,’181 dan tidak ada seorangpun yang berani menyangkal pandangan-pandangannya bahkan tatkala ada salah seorang ulama yang berlebihan memuji-muji kitabnya sampai-sampai ia mengatakan, ‘Ihyâ’ `Ulûm al-Dîn hampir mendekati Alquran.’182
“Mengamalkan kewajiban-kewajiban agama (taklîf) dalam pandangan Ibn ‘Arabî dan Ibn al-Farîd adalah ibadah di mana mihrab, atau ceruk dalam salat, yang menunjukkan arah salatnya, adalah aspek bathinnya, bukan sekedar bentuk ritual luarnya saja. Apa baiknya Anda berdiri dan duduk dalam salat apabila hatimu didiami oleh sesuatu yang selain dari Allah. Allah memuji orang-orang, tatkala Dia berfirman, “Mereka orang-orang yang khusyuk dalam salatnya” (Q.S. al-Mu’minûn [23]: 2) dan Dia mencela orang-orang tatkala Dia berfirman, “Yaitu orang-orang yang tidak memperdulikan dalam salatnya” (Q.S. al-Mâ’ûn [107]: 5). Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn ‘Arabî tatkala beliau mengatakan, “Ibadah adalah mihrabnya hati, yaitu sisi batin dari salat, bukan sisi luarnya.”

Seorang Muslim tidak dapat sampai pada ilmu keyakinan (`ilm al-yaqîn) atau keyakinan itu sendiri (`ain al-yaqîn) yang disebutkan oleh Alquran apabila tidak mengosongkan hatinya dari apa saja yang mengganggunya dalam bentuk idaman-idaman duniawi dan tidak memusatkan dirinya pada perenungan batiniah. Setelah itu barulah benih-benih yang ditebarkan oleh Hakikat Ilahiah akan mengisi hatinya, dan dari sanalah sumber makanannya akan bersemi.

Seorang sufi sejati bukanlah orang yang mencari rizki dari meminta-minta sedekah kepada orang-orang. Sufi sejati adalah yang membangunkan hati dan rohaninya menuju fanâ’ (peluruhan diri) di dalam Allah dengan cara menaatinya. Barang kali Ibn ‘Arabî telah menyebabkan para ahli fikih bangkit menentangnya karena beliau telah melecehankan mereka atas pekerjaan mereka yang beradu argumen dan bertengkar dalam masalah-masalah keimanan, kasus-kasus hukum suatu tindakan, dan situasi hukum yang mungkin terjadi, sementara beliau melihat betapa sering hal tersebut mengganggu mereka dari menyucikan hati. Beliau menamakan mereka itu dengan ‘para ahli hukum tentang haid’ Semoga Allah melindungi Anda agar tidak termasuk di antara mereka! Pernahkah Anda membaca pernyataan Ibn ‘Arabî: ‘Siapa saja yang membangun imannya semata melalui bukti-bukti yang terang dan argumen-argumen nalar, artinya ia telah membangun iman di atas sesuatu yang tidak mungkin dijadikan pegangan, karena ia telah tercemari oleh segala yang negatif dari tuduhan-tuduhan yang terus-menerus. Keyakinan (al-yaqîn) tidak lahir dari bukti-bukti hasil pemikiran tapi keluar dari kedalaman hati.’ Pernahkah Anda membaca perbincangan yang sebersih dan semanis ini?”

Ibn Taymîyah: “Anda telah berbicara dengan baik hanya kalau guru Anda memang mengatakan sebagaimana yang Anda katakan, karena dengan demikian beliau sangat jauh dari kekufuran. Akan tetapi apa yang telah beliau katakan, menurut pendapatku, tidak dapat mendukung makna yang telah Anda berikan,.

Sumber : http://sufiroad.blogspot.com

Kamis, 29 Desember 2011

PANDANGAN IBNU TAIMIYAH TENTANG THORIQOH

Oleh : Imam Nawawi

Penjelasan Ibn Taimiyah mengenai tarekat sangat penting untuk dikemukakan lebih jauh disini, sebab sekali lagi selama ini ia sering dituding sebagai anti tarekat dan bahkan dijadikan rujukan utama oleh sebagian kecil umat untuk menentang tarekat, padahal Ibn Taimiyah tidak pernah menentang tarekat/tasawuf kecuali yang nyata sekali bertentangan dengan Al-Quran dan al-Sunnah.

Ketika memuji Imam al-Junaid al-Baghdadi berkenaan dengan kewajiban seorang salik orang yang berjalan menuju Tuhan agar mengenal Sang Pencipta (ma’rifat al-shani) sehingga dapat beramal dan berubudiyah secara ikhlas, Ibn Taimiyah menegaskan dalam kitabnya al-Istiqamah:
“Ini (mengenal sang Pencipta) termasuk di antara pokok-pokok akidah ahlu-sunnah dan imam-imam para Syeikh, khususnya syekh-syekh sufi, karena pokok pangkal tarekat para sufi adalah kehendak (al-iradah), yang merupakan fondasi amal. Mereka dalam hal kehendak, ibadah, amal dan akhlak lebih besar ketehuhannya daripada dalam hal perkataan dan ilmu pengetahuannya. Mereka dengan semua itu lebih besar perhatiannya dan lebih banyak pemeliharaanya. Orang yang belum memasuki semua itu tidak dapat serta merta menjadi ahli tarekat mereka."

Dalam kitabnya yang lain al-Hasanah wa al-Sayyiah, Ibn Taimiyah menegaskan lebih lanjut bahwa orang yang mengikuti Imam al-Junaid adalah orang yang memperoleh hidayah, selamat dan bahagia:
“Barang siapa menempuh jalan yang ditempuh oleh al-Junaid yang merupakan salah seorang pakar tasawuf dan ma’rifah, maka ia benar-benar telah mendapat hidayah, selamat dan bahagia."

Selain Imam al-Junaid al-Baghdadi, Ibn Taimiyah juga memuji dan membela syekh syekh tarekat lainnya, seperti: Abu Yazid al-Busthami, Syekh Abd al-Qadir al-Jailani, dan bahkan juga Imam al-Ghazali. Tentang Syekh Abd al-Qadir al-Jailani, misalnya, Ibn Taimiyah menggambarkannnya sebagai berikut:
“Syekh Abd al-Qadir al-Jailani, misalnya, Ibn Taimiyah menggambarkannya sebagai berikut: “Shekh Abd al-Qadir al-Jailani dan Syekh tarekat seperti beliau merupakan syekh yang paling gigih memerintahkan menetapi syara, perintah dan larangan, serta mengedepankan agar meninggalkan keinginan dan kehendak nafsu, karena kesalahan dalam berkehendak dilihat dari segi kehendak itu sendiri hanya terjadi dari sisi hawa nafsu ini. Beliau memerintahkan seorang salik ‘murid yang menempuh suluk (perjalanan) menuju Tuhan’ agar tidak memiliki sama sekali kehendak yang bersumber dari hawa nafsu melainkan ia berkehendak sesuai dengan yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla."

Pada bagian sebelumnya sudah disinggung bahwa Ibn Taimiyah menyebut para sufi sebagai ahl ulum al-qulub ‘pakar-pakar ilmu hati yang bebas dari bid’ah ketika ia mengatakan:
“Perkataan pakar-pakar ilmu hati dari kalangan sufi dan yang selain mereka, seperti Abu Hamid al-Ghazali pula Ibn Taimiyah mengutip pernyataan yang mengukuhkan kebenaran tarikat para sufi:
“Tarekat para sufi adalah tujuan (ghayah), karena mereka menyucikan kalbu mereka dari hal-hal selain Allah dan memenuhinya dengan dzikrullah; dan ini merupakan prinsip dakwah para rasul. Pengakuan Ibn Taimiyah mengenai kebenaran tarekat para sufi juga mencuat dari pernyataanya yang dituangkan dalam kitabnya yang berjudul Syarh al-Aqidah al-Ishfahaniyah, yaitu ketika ia berbicara tentang mu’jizat para nabi: “ Tidak ada jalan bagi akal untuk memahami mukjizat para nabi hanya dengan komoditi akal semata. Hal-hal lain dari keistimewaan para nabi hanya dapat dipahami dengan rasa oleh orang yang menempuh tarekat tasawuf…"

Jika Nabi memiliki suatu keistimewaan yang Anda tidak punya modelnya, maka Anda sama sekali tidak akan memahami keistimewaan itu, apalagi membenarkannya, karena pembenaran hanya muncul setelah pemahaman, dan model yang dimaksudkan di sini terdapat di awal tarekat tasawuf…Adapun rasa (dzawq) maka ia seperti ‘menyaksikan’ dan ‘mengambil dengan tangan’ dan hal itu tidak ada kecuali dalam tarekat para sufi.

Ibn Taimiyah bahkan tidak mengingkari konsep “mabuk” yang kadang-kadang melahirkan berbagai ungkapan yang sepintas terkesan berbau syirik tetapi sebenarnya tidak dimaksudkan demikian, ungkapan-ungkapan yang dikenal dengan syathahat.

Ungkapan-ungkapan pada dasarnya muncul secara otomatis dari kondisi fana (ekstase) yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh pertimbangan atau kesadaran apa pun kecuali semata-mata karena terbuai oleh keagungan dan keindahan Tuhan. Dalam kaitan ini ia mengatakan:
“Sebagian tokoh sufi yang mengalami kondisi spiritual tertentu (dzawi al-ahwal) kadang-kadang mengalami ‘mabuk dan lenyap dari selain Allah’ dalam keadaaan fana’yang singkat. Keadaan mabuk seperti itu terjadi tanpa disengaja, tanpa pertimbangan. Kadang-kadang dalam keadaan itu ia berkata subhani (maha suci aku), atau ungkapan-ungkapan lain seperti yang mempengaruhi Abu Yazid al-Busthami dan orang-orang berjiwa sehat (al-ashihha) lainnya."

Hal itu menurut Ibn Taimiyah sejalan dengan makna-makna hadis qudsi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Dalam hadis itu disebutkan bahwa apabila seorang hamba selalu berupaya menempuh jalan pendekatan diri kepada Allah dengan melaksanakan secara intensif al-faraidh (perkara-perkara yang diwajibkan) dan al-nawafil (perkara-perkara yang disunnahkan), sebuah upaya yang bermuara pada suatu keadaan (hal) yang dalam hadis itu diungkapkan dengan “sampai Aku mencintainya” (hatta uhibahu),“maka Akulah yang menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.” Semua ini dikemukakan Ibn Taimiyah ketika ia membela ahli tarekat yang sejalan dengan sunnah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...