1. Dari Abu malik al-Harits bin Ashim
Al-Asy`ariy ra., ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda: ”Suci adalah sebagian dari iman, membaca
Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah
itu dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi, salat itu
adalah cahaya,sedekah itu adalah bukti iman, sabar itu adalah pelita dan
AlQuran untuk berhujjah (berargumentasi) terhadap yang tidak kamu
sukai. Semua orang pada waktu pagi menjual dirinya,kemudian ada yang
membebaskan dirinya dan ada pula yangmembinasakan dirinya.” (H.R Muslim).
2.
Dari Abu Sa`id bin Malik bin Sinan Al-Khudriy ra. Berkata: “Ada
beberapa sahabat Anshar meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW, maka
beliau memberinya, kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun
memberinya sehingga habislah apa yang ada pada beliau. Ketika beliau
memberikan semua yang ada di tangannya, beliau bersabda kepada mereka
: ”Semua kebaikan yang ada padaku tidak akan aku sembunyikan pada
kalian. Siapa saja yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah pun
akan menjaganya dan siapa saja yang menyabarkan dirinya, maka Allah
pun akan memberikan kesabaran. Dan seseorang tidak akan mendapatkan
anugerah yang lebih baik atau lebih lapang melebihi kesabaran.” (H.R
Bukhari dan Muslim).
3. Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra. Ia
berkata: Rasulullah SAW bersabda : ”Sangat menakjubkan bagi orang
mukmin, apabila segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak akan
terjadi bagi seorang yang beriman, kecuali apabila mendapatkan
kesenangan ia bersyukur, maka yang demikian itu sangat baik, dan
apabila ia tertimpa kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu
sangat baik baginya.” (H.R Muslim).
4. Dari
Anas ra ., ia berkata : Ketika Nabi SAW menderita sakit keras,
Fathimah ra., mengeluh : “ Aduh ayah sakit keras.” Kemudian beliau
bersabda : “ Ayahmu tidak akan menderita
sakit lagi setelah hari
ini.” Ketika beliau wafat, Fathimah ra.
berkata : “ Wahai ayahku,
engkau telah memenuhi panggilan Tuhan.
Wahai ayahku, surga Firdauslah
tempat kembalimu. Wahai ayahku, kepada
Jibril kami memberitakan
wafatmu.”
Ketika beliau telah dikubur, Fathimah ra.
berkata : “Apakah kalian
menyukai untuk menaburkan tanah di atas makam Rasulullah SAW ?” (HR.
Bukhari)
5. Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah,
(dia
adalah pelayan,kekasih dan anak kekasih
Rasulullah SAW ) ia berkata
: “ Salah seorang putri Nabi SAW mengutus
seseorang untuk
memberitahu kepada beliau bahwa anaknya
sedang sakaratul maut, maka
kami diminta untuk datang, kemudian beliau
hanya mengirimkan salam,
seraya bersabda : “Sungguh menjadi hak
Allah untuk mengambil dan
memberi dan segala sesuatunya telah
ditentukan di sisi Allah, maka hendaklah
kamu sabar dan mohonlah pahala kepada Allah .” Kemudian orang itu
disuruhnya kembali, menghadap Nabi SAW,
seraya meminta yang disertai
dengan sumpah agar beliau berkenan hadir.
Maka pergilah beliau
beserta Sa’ad bin Ubadah, Mu’adz bin
Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin
Tsabit dan beberapa sahabat yang lain.
Maka diberikan anak yang sakit itu
kepada Rasulullah SAW dan didudukkan di pangkuan beliau, sedangkan
nafasnya tersengal-sengal, maka meneteslah
air mata beliau, kemudian
Sa’ad bertanya : “Wahai Rasulullah,
mengapa engkau meneteskan air
mata ?” Beliau menjawab : “Tetesan air
mata adalah rahmat yang dikaruniakan
Allah Ta’ala ke dalam hati hamba-hamba-Nya.” Dalam riwayat lain
disebutkan : “Ke dalam hati hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya
yang mempunyai rasa
sayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
6. Dari Shuhaib ra., Rasulullah
SAW bersabda : “Pada zaman dahulu ada
seorang raja yang mempunyai
seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir
itu sudah lanjut usia, ia
berkata kepada rajanya : “Sesungguhnya
saya sekarang sudah lanjut usia.
Oleh karena itu, perkenankanlah saya meminta kepada tuan untuk
mengirimkan seorang pemuda dan saya akan
mengajarinya ilmu sihir.”
Raja itupun mengirimkan seorang pemuda
untuk belajar ilmu sihir.
Akan
tetapi di tengah perjalanan ke tempat
tukang sihir, ia bertemu
dengan seorang pendeta,1 kemudian pemuda
itu berhenti untuk mendengarkan
apa yang disampaikan oleh pendeta itu, oleh karena itu, ia terlambat
datang ke tempat tukang sihir. Ketika
pemuda itu sampai ke tempat
tukang sihir, maka pemuda itu dipukul.
Kemudian ia mengadukan kepada
pendeta, dan si pendeta itu berkata :
“Apabila kamu takut terhadap
tukang sihir itu, maka katakanlah bahwa
keluargamu menahanmu, dan
apabila kamu takut terhadap keluargamu maka
katakanlah bahwa tukang
sihir itu menahanmu.” Suatu hari ketika
dalam perjalanan, dijumpai di
tengah jalan seekor binatang yang sangat
besar, sehingga orang-orang
tidak
berani meneruskan perjalanan.
Pada saat
itulah si pemuda berkata
: “Nah, hari ini aku akan mengetahui tukang sihirkah yang lebih
utama ataukah pendeta ?” Pemuda itu
mengambil batu seraya berkata :
“Ya Allah, apabila ajaran pendeta itu
lebih Engkau sukai maka matikanlah
binatang yang sangat besar itu agar orang pun dapat meneruskan
perjalanannya.” Kemudian ia lemparkan batu
itu, dan matilah binatang
itu, sehingga orang-orangpun dapat
melanjutkan perjalanannya. Ia lalu
mendatangi pendeta itu dan menceritakan
apa yang baru saja terjadi.
Pendeta itu berkata : “Wahai anakku, kamu sekarang lebih utama
dari saya
karena kamu telah menguasai segala yang aku ketahui, dan ketahuilah,
kamu nanti akan mendapat ujian ; tetapi
ingatlah, apabila kamu
diuji, janganlah kamu menyebutnyebut
namaku.” Setelah itu pemuda tadi
dapat menyembuhkan orang buta, penyakit
belang, dan berbagai jenis
penyakit lain. Tersebarlah berita, bahwa
kawan raja sakit mata
hingga buta dan sudah diusahakan ke
mana-mana tetapi belum juga sembuh.
Kemudian
datanglah ia kepada pemuda itu dengan
membawa beraneka
macam hadiah dan berkata : “ Seandainya
kamu dapat menyembuhkan saya,
akan saya penuhi semua permintaanmu.”
Pemuda itu menjawab : “Sesungguhnya
saya tidak bisa menyembuhkan seseorang,
tetapi yang menyembuhkan
adalah Allah Ta’ala. Apabila engkau
beriman kepada Allah Ta’ala
niscaya saya akan berdo’a kepada-Nya agar
menyembuhkan penyakitmu.”
Maka berimanlah orang itu kepada Allah
Ta’ala dan sembuhlah penyakitnya.
Orang
itu datang ke tempat sang raja dan duduk bersama sebagaimana
biasanya, kemudian sang raja bertanya
kepadanya : “Siapakah yang
menyembuhkan matamu itu ?” Ia menjawab :
“Tuhanku.” Sang raja berkata
: “Apakah kamu mempunyai Tuhan selain aku
?” Ia menjawab : “Tuhanku
dan Tuhanmu adalah Allah.” Maka raja itu
langsung menyiksanya sehingga
orang itu menunjuk kepada pemuda tadi. Maka dipanggillah pemuda itu
dan berkatalah sang raja kepadanya : “Hai
anakku, sihirmu sangat
ampuh sehingga dapat menyembuhkan orang
buta, penyakit belang dan
kamu bisa berbuat ini dan itu.” Pemuda itu
menjawab : “Sesungguhnnya yang
bisa menyembuhkan hanya Allah Ta’ala.” Maka disiksalah pemuda itu
sehingga ia menunjuk kepada sang pendeta,
maka dipangillah pendeta
itu. Raja itupun berkata kepadanya :
”Kembalilah kamu kepada agamamu
semula.” Tetapi pendeta itu tidak mau,
kemudian raja itu menyuruh untuk
menggergajinya dari atas kepala, sehingga badannya terbelah dua.
Kemudian
dipanggilah kawan raja itu dan dikatakan
kepadanya :
“Kembalilah pada agamamu semula.”
Tetapi orang itu tidak mau, ia pun
digergaji dari atas kepala sampai badannya
terbelah dua. Kemudian
dipanggillah pemuda itu. Raja itu kemudian
berkata : “Kembalilah pada agamamu
semula.” Tetapi pemuda itu menolak, kemudian ia diserahkan kepada
pasukan dan memerintahkan untuk membawanya
ke suatu gunung. Ketika
sampai di puncak gunung, paksalah supaya
kembali kepada agamanya
semula. Bila tidak, lemparkan ia dari atas
gunung biar mati. Pasukan itu
pun membawa pemuda tadi ke puncak gunung, dan di
sana pemuda itu
berdo’a : “Ya Allah, hindarkan saya dari
kejahatan mereka sesuai
dengan apa yang Engkau
kehendaki.” Kemudian bergoncanglah gunung itu
sehingga pasukan tadi bergulingan dari
atas gunung. Pemuda itu mendatanginya,
dan sang raja bertanya keheranan : “Apa
yang diperbuat oleh pasukan
itu ?” Pemuda itu menjawab : “Allah Ta’ala
telah menghindarkan saya
dari kejahatan mereka.”
Pemuda itu
ditangkapnya dan diserahkan
kembali kepada sekelompok pasukan yang
lain, untuk membawa
pemuda
itu naik kapal, untuk menenggelamkan di tengah lautan. Pasukan itu
membawanya naik kapal, kemudian pemuda itu
berdo’a : “Ya Allah,
hindarkanlah saya dari kejahatan mereka
sesuai dengan yang Engkau
kehendaki.” Kemudian kapal itu terbalik
dan tenggelamlah mereka. Pemuda
itupun kembali kepada sang raja, dan sang raja bertanya lagi
keheranan : “Apakah yang diperbuat oleh
itu ?” Pemuda itu
menjawab : “Allah Ta’ala telah
menghindarkan aku dari kejahatan
mereka.” Kemudian pemuda itu berkata
kepada sang raja : “Sesungguhnya engkau
tidak akan bisa mematikan saya sebelum engkau memenuhi
permintaanku.”
Raja bertanya :
“Apakah yang engkau inginkan ?” Pemuda
itu menjawab : “Engkau harus mengumpulkan
orang banyak dalam satu
lapangan dan saliblah saya di atas sebuah
tiang, kemudian ambillah
anak panahku dari tempatnya serta
letakkanlah pada busurnya, kemudian
bacalah : “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan
pemuda ini,” kemudian
lepaskanlah anak panah itu ke arahku.
Apabila engkau berbuat seperti
itu, maka engkau akan berhasil membunuhku.
“ Mendengar yang demikian,
raja itu mengumpulkan orang banyak di
salah satu lapangan dan menyalib
pemuda itu di atas tiang kemudian ia mengambil anak panah dari
tempatnya dan diletakkan pada busurnya
kemudian ia membaca : “Dengan
menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini,”
dan dilepaskanlah anak panah
itu ke arah pelipisnya, kemudian pemuda
itu meletakkan tangannya pada pelipis
yang terluka, lalu ia pun mati.
Pada saat itu
juga serentak
orang-orang berkata : “Kami beriman dengan
Tuhannya pemuda itu .” Ada
seorang yang menyampaikan berita itu
kepada sang raja seraya berkata
: “Tahukah engkau, apa yang engkau
khawatirkan sekarang telah menjadi
kenyataan. Demi Allah, kekhawatiranmu tidak ada gunanya sama sekali
karena orang-orang sudah beriman .”
Kemudian raja itu memerintahkan
membuat parit yang besar pada setiap
persimpangan jalan, di dalamnya
dinyalakan api, kemudian memerintahkan
kepada siapa saja yang tidak
mau kembali pada agama semula, maka akan
dilemparkan ke dalam
parit. Perintah itu dilaksanakan. Ada seorang wanita yang berpegang
teguh pada agama yang hak, namun ia
membawa bayinya dan merasa sangat
kasihan kepada anaknya kalau ia beserta
anaknya masuk ke dalam
parit, akan tetapi bayi itu berkata :
“Wahai ibu, sabarlah, karena engkau
berada dalam kebenaran .” HR. Muslim)
Pada masa
itu, yang
dimaksud dengan kata ar-rahib atau
pendeta, adalah pendeta yang masih
kuat memegang ajaran Tauhid dan menyembah
Allah SWT.
7. Dari
Anas ra., ia berkata : “Sewaktu Nabi SAW menjumpai seorang wanita
sedang menangis di atas kubur, maka beliau
bersabda : “Bertakwalah
kepada Allah dan sabarlah !” Wanita itu
berkata : “Pergilah dairi
sini karena sesungguhnya engkau tidak
tertimpa musibah sebagaimana
yang aku alami !” Wanita itu tidak tahu
bahwa yang berkata adalah
Nabi. Kemudian ada seseorang yang
memberitahukan kalau itu
adalah
Nabi SAW Maka wanita itu segera datang ke rumah Beliau SAW dan ia
tidak menjumpai para penjaga pintu,
sehingga dengan mudah ia
memasukinya kemudian ia berkata : “Saya
tidak tahu kalau yang berkata
tadi adalah engkau.” Maka beliau bersabda
: “Sesungguhnya sabar itu
hanyalah pada hari pertama dari musibah
itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam
riwayat Muslim disebutkan : “Wanita itu menangisi anaknya yang baru
meninggal.”
8. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW
bersabda :
“Allah Ta’ala berfirman : “Tidak ada
balasan kecuali surga bagi hamba-Ku
yang mukmin, yang telah Aku ambil kembali
kekasihnya dari ahli
dunia, dan ia hanya mengharapkan pahala
dari-Ku.” (HR. Bukhari)
9.
Dari Aisyah ra., ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang wabah
penyakit yang tersebar di seluruh negeri, kemudian beliau
memberitahu, bahwa wabah itu merupakan siksaan yang ditimpakan oleh
Allah Ta’ala kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya, akan tetapi
Allah Ta’ala menjadikannya sebagai rahmat
bagi orang-orang yang
beriman, maka seseorang yang tetap tinggal
pada suatu daerah yang kejangkitan
wabah dan ia sabar serta hanya memohon
kepada Allah kemudian sadar
bahwa ia tidak akan tertimpa
wabah kecuali Allah akan menakdirkannya,
maka ia mendapat pahala seperti pahalanya
orang yang mati syahid.” (HR.Bukhari)
10.
Dari Anas ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman :
“Apabila Aku menguji salah
seorang hamba-Ku dengan kubutaan pada
kedua matanya kemudian ia
sabar, maka Aku akan menggantikannya
dengan surga .” (HR. Bukhari)
11.
Dari Atha’ bin Abu Ribah, ia berkata : “Ibnu Abbas ra. berkata
kepadaku : “Maukah saya tunjukkan seorang wanita yang termasuk ahli
surga ?” Saya menjawab tentu saja saya
mau. “ Ia berkata : “Adalah
wanita berkulit hitam yang pernah datang
kepada Nabi SAW, waktu itu
berkata : “Sesungguhnya saya mempunyai
penyakit ayan, dan aurat saya
terbuka karenanya; oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah agar
penyakit saya sembuh.” Beliau kemudian
bersabda : “Apabila kamu mau
sabar maka kamu akan masuk
surga, dan apabila kamu tetap meminta maka
saya pun akan berdoa kepada Allah agar
engkau sembuh dari
penyakitmu.” Wanita itu menjawab : “Kalau
begitu saya akan bersabar.” Kemudian
wanita itu berkata lagi : “Sesungguhnya aurat saya terbuka
karenanya, oleh karena itu, mohonkanlah kepada Allah agar aurat saya
tidak terbuka.”Maka Nabi pun berdoa
untuknya agar auratnya tidak
terbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
12. Dari Abi Abdurrahman
bin Abdillah bin Mas’ud ra., ia berkata :
“Seakan-akan saya masih
melihat Rasulullah SAW, sewaktu
menceritakan salah seorang dari para
Nabi ketika dipukuli kaumnya sehingga
berlumuran darah, dan ia mengusap
darah dari mukanya sambil berdoa : “Ya Allah, ampunilah kaumku
karena sesungguhnya mereka tidak
mengetahui.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
13. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., dari
Nabi SAW,
ia berkata : “Seorang muslim yang tertimpa
kecelakaan, kemelaratan,
kegundahan, kesedihan, kesakitan, maupun
kedukacitaan, sampai yang
tertusuk duripun niscaya Allah akan
mengampuni dosanya sesuai apa
yang menimpanya .” (HR. Bukhari dan
Muslim).
14. Dari Ibnu
Mas’ud ra., ia berkata : “Saya masuk ke
tempat Nabi SAW, waktu itu
beliau sedang sakit panas. Kemudian saya
berkata : “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya engkau benar-benar menderita
sakit yang sangat panas. “ Beliau
memberitahukan : “Benar, sakit panas yang saya derita ini dua kali
lipat lebih panas dari yang biasa diderita
kalian.” Saya bertanya :
“Kalau begitu engkau mendapat pahala dua
kali lipat?” Beliau menjawab
: “Benar, memang demikianlah keadaannya.”
“Seorang muslim yang
tertimpa suatu kesakitan, baik itu
tertusuk duri maupun lebih dari
itu, niscaya Allah mengampuni
kesalahan-kesalahannya dan menghapus
dosa-dosanya sebagaimana daun-daun yang
berguguran dari pohon.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
15. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata :
“Rasulullah SAW : “Siapa saja yang
dikehendaki Allah menjadi
orang
baik, maka diberikan cobaan kepadanya.” (HR.
Bukhari)
16.
Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah
salah seorang di antara kamu sekalian
menginginkan mati karena
tertimpa kesulitan. Seandainya terpaksa
harus berbuat demikian, maka
ucapkanlah : “Ya Allah, biarkanlah saya
hidup apabila hidup lebih
baik bagiku, dan matikanlah saya apabila
mati itu lebih baik bagiku.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
17. Dari Abu Abdillah Khabbab bin
Arati , ia berkata : “Kami mengadu kepada
Rasulullah SAW Saat ini
beliau sedang berbantalkan sorbannya di
bawah lindungan Ka’bah. Kami bertanya
: “Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami ? Apakah
engkau tidak mendoakan kami ?“ Beliau
menjawab : “Orang-orang sebelum
kalian, ada yang ditanam hidup-hidup,
digergaji dari atas kepalanya
sehingga tubuhnya terbelah dua dan ada
pula seseorang yang disisir
dengan sisir besi sehingga mengenai daging
kepalanya, yang demikian
itu tidak menggoyahkan agama mereka. Demi
Allah, Allah pasti akan
mengembangkan agama Islam ini hingga merata di sampai ke
Hadramaut dan masing-masing dari mereka
tidak takut melainkan hanya
kepada Allah, melebihi takutnyakambing
terhadap serigala. Tetapi
kalian sangat tergesa-gesa.” (HR. Bukhari)
Dalam suatu riwayat
disebutkan : “Beliau sedang berbantalkan
sorbannya sedangkan kami
baru saja bertemu dengan orang-orang
musyrik yang menyiksa kami dengan
siksaan yang sangat berat .”
18. Dari Ibnu Mas’ud ra., dia
berkata : “Setelah perang Hunain
Rasulullah SAW mendahulukan
orang-orang yang terkemuka didalam membagi
rampasan perang. Beliau memberikan
masing-masing seratus onta kepada Al-Aqra’ bin Habis dan kepada
‘Uyainah bin Hishn. Dalam pembagian
rampasan perang pada beberapa
hari itu, yang didahulukan oleh beliau
beberapa pemuka Arab. Ada
seorang laki-laki yang berkata : “Demi
Allah sesungguhnya pembagian
rampasan perang ini tidak adil dan
nampaknya semata-mata bukan karena
Allah.” Maka saya berkata : “Demi Allah, saya benarbenar akan
menyampaikan hal ini kepada Rasulullah SAW”
Kemudian saya datang
kepada beliau dan menceritakan apa yang
dikatakan oleh laki-laki
tadi. Tiba-tiba berubahlah wajah beliau
bagaikan kesumba merah,
kemudian bersabda : “Siapakah yang adil
bila Allah dan Rasul-Nya
dianggap tidak adil ?” Beliau bersabda
lagi : “Semoga Allah
senantiasa melimpahkan rahmat kepada Nabi
Musa karena beliau telah disakiti
hatinya melebihi diriku, tetapi beliau tetap sabar.“
Saya berkata :
“Tidak apa-apa, saya tidak menyampaikan
berita semacam itu lagi
kepada beliau sesudah peristiwa itu .”
(HR. Bukhari dan Muslim)
19.
Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Apabila
Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang baik, maka ia
menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki
hamba-Nya menjadi orang jahat, maka ia
menangguhkan balasan dosanya
sehingga Allah akan menuntutnya pada hari
kiamat .” (Perawi tidak
tercantum)
20. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya besarnya
pahala itu
tergantung besarnya ujian. Apabila Allah Ta’ala mencinta suatu
bangsa, maka Allah akan menguji mereka. Sehingga siapa saja yang
ridha, maka Allah akan meridhainya dan siapa saja yang murka, maka
Allah akan memurkainya .” (HR. Tirmidzi)
21. Dari Anas ra., ia
berkata : “Abu Thalhah mempunyai anak
yang sedang sakit. Sewaktu Abu
Thalhah pergi, anaknya meninggal dunia.
Ketika Abu Thalhah pulang,
ia bertanya : “Bagaimana kondisi anak kita
?” Ummu Sulaim, ia
menjawab : “Anak kita lebih tenang.”
Kemudian isterinya menghidangkan
makanan lalu Abu Thalhah pun makan.
Selesai makan, isterinya berkata
: “Kuburkanlah anak itu !” Kemudian pada
pagi harinya, Abu Thalhah
datang kepada Rasulullah SAW dan
menceritakan hal itu. Beliau
bertanya : “Apakah tadi malam kamu
bersetubuh dengan dengan isterimu
?” Abu Thalhah menjawab : “Ya.” Kemudian
Rasulullah SAW mendoakan
keduanya : “Ya Allah mudahmudahan Engkau
memberkahi keduanya.” Selang
beberapa bulan, isterinya melahirkan bayi
laki-laki. Kemudian Abu Thalhah
menyuruh saya ( Anas ) untuk membawa bayi itu kepada Nabi SAW dengan
menyertakan beberapa kurma. Setelah
sampai di hadapan Nabi, beliau
bertanya : “Adakah sesuatu yang disertakan
bersama bayi ini ?“ Ia
menjawab : “Ya, beberapa buah kurma.”
Beliau mengambil kurma-kurma itu,
dan dikunyah sampai halus, kemudian diambil kembali mulut
beliau lalu dimasukkannya ke dalam mulut bayi itu. Ia diberi nama
Abdullah . (HR. Bukhari dan Muslim )
Di dalam sebuah hadits riwayat
Imam Bukhari, disebutkan, Ibnu Uyainah
berkata : “Ada seorang sahabat
Anshar yang berkata : “Saya melihat ada
sembilan anak yang
kesemuanya telah pandai membaca Al-Quran.”
Salah seorang di antaranya
adalah Abdullah.” Dalam sebuah hadits
riwayat Imam Muslim,
disebutkan : “Sewaktu anak Abu Thalhah
dari Ummu Sulaim meninggal
dunia, Ummu Sulaim berkata kepada segenap
keluarganya : “Janganlah
kalian menceritakan peristiwa anakku
kepada Abu Thalhah sebelum saya sendiri
menceritakannya.” Setelah Abu Thalhah datang, isterinya segera
menghidangkan makan, maka makan dan minumlah Abu Thalha, setelah itu
isterinya mengajak bercanda sehingga
bersetubuh dan memberikan
pelayanan dengan sebaik-baiknya.
Setelah
isterinya tahu bahwa
suaminya telah kenyang dan puas, maka
berkatalah Ummu Sulaim : “Wahai
Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu
seandainya ada sekelompok orang
yang meminjamkan sesuatu kepada salah satu
keluarga kemudian orang
itu meminta kembali pinjamannya, apakah
pantas keluarga itu
menolaknya ?” Abu Thalhah menjawab :
“Tidak pantas.” Isterinya
berkata : “Relakan putramu.” Abu Thalhah
marah-marah seraya berkata : “Kenapa
kamu diam saja sejak tadi sehingga saya bersetubuh denganmu, barulah
kamu memberitahu tentang anak kita.”
Kemudian Abu Thalhah pergi dan
datang kepada Rasulullah SAW serta
menceritakan apa yang terjadi.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Semoga
Allah memberkahi apa yang
telah kalian lakukan tadi malam .” Selang beberapa bulan hamillah
isterinya. Setelah itu Rasulullah SAW
bepergian bersama-sama Abu
Thalhah dan isterinya. Ketika kembali dan
akan masuk kota Madinah,
Ummu Sulaim tidak bisa melanjutkan
perjalanan. Abu Thalhah berdoa :
“Ya Allah, sesungguhnya saya sangat senang
kalau keluar masuk kota bersama
dengan Rasulullah SAW tetapi sewaktu saya akan masuk kota, ditahan
di sini sebagaimana Engkau ketahui.” Kemudian Ummu Sulaim berkata :
“Wahai Abu Thalhah, rasa sakit perutku kini
hilang, maka mari kita
berjalan terus.” Dan mulai terasa kembali
perutnya ketika telah masuk
kota Madinah. Di sanalah kemudian Ummu
Sulaim melahirkan seorang
anak laki-laki, dan ia berkata :
“Janganlah ada seorang pun yang
menetekinya sebelum engkau bawa kepada
Rasulullah SAW” Maka pada pagi
harinya saya membawa bayi itu ke hadapan
Rasulullah SAW kemudian
Rasulullah menyuapkan makanan yang telah
dikunyah dan bayi itu diberi nama
“Abdullah”.
22. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW
bersabda :
“Yang dikatakan orang kuat bukanlah orang
yang menang bergulat. Tetapi,
yang dikatakan orang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan
dirinya ketika sedang marah.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
23.
Dari Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata : “Saya duduk bersama Nabi
SAW, tiba-tiba ada dua orang yang saling
memaki, salah seorang di
antara mereka merah mukanya dan pertikaian
hampir terjadi, kemudian
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya
saya mengetahui sebuah
kalimat, apabila kalimat itu dibaca
niscaya hilanglah apa yang sedang
terjadi ; yaitu apabila ia membaca :
“A’UUDZU BILLAAHI MINASYSYAITHAANIRRAJIIM
“ ( saya berlindung kepada Allah dari
godaan syaitan yang terkutuk
), niscaya hilanglah apa yang sedang
terjadi.” Maka para sahabat
mengatakan kepada orang yang sedang
bertengkar itu : “Sesungguhnya
Nabi SAW menyuruh kalian supaya berlindung
kepada Allah dari syaitan yang
terkutuk .” (HR. Bukhari dan Muslim)
24. Dari Mu’adz bin Anas
ra., Nabi SAW bersabda : “Siapa saja yang
menahan marah padahal
sebenarnya ia bisa untuk melampiaskannya,
maka pada hari kiamat Allah
SWT. akan memanggilnya di hadapan para
makhluk, kemudian ia disuruh untuk
memilih bidadari yang cantik jelita sesuai dengan yang di inginkannya
.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
25. Dari Abu Hurairah ra., ia
berkata : “Ada seseorang berkata kepada
Nabi SAW : “Nasihatilah aku!”
Beliau bersabda : “Janganlah kamu marah !
“ Orang itu berkali-kali minta
nasihat kepada Nabi, tetapi Nabi SAW, tetap menjawabnya : “Janganlah
kamu marah !” (HR. Bukhari)
26. Dari Abu Hurairah ra., ia
berkata : “Rasulullah SAW, bersabda :
“Orang mukmin, baik laki-laki
maupun
perempuan, senantiasa mendapatkan cobaan, baik
dirinya, anaknya,
maupun hartanya sehingga ia menghadap Allah Ta’ala tanpa membawa
dosa. “ (HR. At-Tirmidzi)
27. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata :
“Ketika Uyainah bin Hishn datang, ia
menginap di tempat kemenakannya
Al Hurr bin Qais, ia termasuk orang yang
dekat dengan Umar ra. dan Umar
memang mengangkat orang-orang yang pandai di dalam Al-Qur’an sebagai
kawan duduk dan kawan bermusyawarah, baik
tua maupun muda. Uyainah
berkata kepada kemenakannya : “Wahai
kemenakanku kamu adalah orang
yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintakan izin agar saya
dapat menghadap kepadanya !” Kemudian
kemenakannya memintakan izin,
Umar pun mengizinkan. Ketika Uyainah masuk
ia berkata : “Wahai putra
Al- Khaththab, demi Allah engkau tidak
berbuat banyak terhadap kami
dan engkau tidak adil di dalam mengadili kami.” Maka marahlah Umar
dan hampir saja ia dipukulnya. Kemudian Al-
Hurr berkata kepada Umar :
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya
Allah Ta’ala telah berfirman
kepada Nabi-Nya SAW : “Berikanlah maaf,
suruhlah untuk berbuat baik
dan janganlah kamu hiraukan orang-orang
yang bodoh .” Dan sebenarnya
orang ini adalah termasuk orang yang bodoh. Demi Allah, ketika ayat
ini dibaca, Umar seakan-akan belum pernah
mendengarnya, padahal Umar
adalah orang yang sangat teliti terhadap
kitab Allah Ta’ala. “ (HR.
Bukhari)
28. Dari Ibnu Mas’ud ra., Rasulullah SAW
bersabda : “Sepeninggalanku
akan ada orang yang hanya mementingkan
dirinya sendiri dan ada pula
hal-hal yang diingkarinya.” Para sahabat
bertanya : “Wahai
…Rasulullah, apa yang harus kami lakukan
?” Beliau menjawab : “Kamu
harus menyampaikan kebenaran yang kamu
ketahui dan memohonlah kepada
Allah agar mendapatkan hakmu .” (HR.
Bukhari dan Muslim)
29.
Dari Abu Yahya Usaid bin Hudhair ra., ia berkata : “Ada seorang
sahabat Anshar bertanya : “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak
memperkerjakanku sebagaimana engkau telah
memperkerjakan si Fulan ?”
Beliau menjawab : “Sesungguhnya
sepeninggalku nanti kamu akan
mendapatkan orang yang suka mementingkan
diri sendiri maka
bersabarlah kamu sampai bertemu denganku
di dekat Telaga Kautsar .” (HR.
Bukhari dan Muslim)
30. Dari Abu Ibrahim Abdullah bin Abi Aufa ra.,
dikatakan kali tertentu : Rasulullah SAW menanti kedatangan musuh sehingga
matahari tergelincir, maka bangkitlah beliau di tengah-tengah para
sahabat seraya bersabda : “Wahai manusia, janganlah kalian berharap
bertemu dengan musuh dan mintalah selalu pengampunan-Nya, serta
sabarlah. Ketahuilah, bahwa surga itu di bawah naungan pedang.”Kemudian
Nabi SAW berdoa : “Wahai Allah yang menurunkan Kitab, yang
menjalankan awan, dan yang mengalahkan musuh, kalahkanlah mereka dan
tolonglah kami untuk mengalahkan mereka .” (HR. Bukhari dan Muslim)