English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Belajar Dan Berbagi Ilmu Serta Nasehat Untuk Mempererat Ukhuwah Islamiyah
free counters

Senin, 02 Januari 2012

KISAH NABI SHALEH A.S

Tsamud adalah nama suatu suku yang oleh sementara ahli sejarah dimasukkan bahagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama " Alhijir " terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Aad yang telah habis binasa disapu angin taufan yang di kirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud A.S.

Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud.Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang datar dan dipahatnya dari gunung.Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram ,sejahtera dan bahgia, merasa aman dari segala gangguan alamiah dan bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.

Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan Mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mrk berqurban, tempat mrk minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan.Mrk tidak dpt melihat atau memikirkan lebih jauh dan apa yang dpt mrk jangkau dengan pancaindera.


Nabi Shaleh Berdakwah Kepada Kaum Tsamud

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba_Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya nabi pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mrk keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah tidak akan menurunkan azab dan seksaan kepada suatu umat sebelum mrk diperingatkan dan diberi petunjukkan oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya. Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mrk telah diutuskan Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mereka sendiri, dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal tangkas, cerdik pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.

Dikenalkan mereka oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang sepatut mereka sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah mencipta mereka, menciptakan alam sekitar mereka, menciptakan tanah-tanah yang subur yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup mereka, mencipta binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mrk dan dengan demikian memberi kepada mrk kenikmatan dan kemewahan hidup dan kebahagiaan lahir dan batin.Tuhan Yang Esa itulah yang harus mereka sembah dan bukan patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu gunung yang tidak berkuasa memberi sesuatu kepada mereka atau melindungi mereka dari ketakutan dan bahaya.

Nabi Saleh memperingatkan mereka bahwa ia adalah seorang daripada mereka, terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah. Mereka adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan dan sesuku dengan mereka.Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi mereka dan sesekali tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang akan membawa kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mereka. Ia menerangkan kepada mereka bahwa ia hanya pesuruh dan utusan Allah, dan apa yang diajarkan dan didakwahkan kepada mereka adalah amanat Allah yang harus dia sampaikan kepada mereka untuk kebaikan mereka semasa hidup mereka dan sesudah mereka mati di akhirat kelak. Ia mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan sungguh-sungguh apa yang ia serukan dan anjurkan dan agar mereka segera meninggalkan persembahan kepada berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa dan perbuatan syirik yang selama ini telah mereka lakukan.Allah Maha dekat kepada mereka mendengarkan doa mereka dan memberi ampun kepada yang salah bila dimintanya.

Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi mereka merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari saudara atau anak mrk sendiri.Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi Saleh itu seraya berkata mereka kepadanya:"Wahai Saleh! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, fikiranmu tajam dan pendapat serta semua pertimbanganmu selalu tepat. Pada dirimu kami melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk memimpinkami menyelesaikan hal-hal yang rumit yang kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal yang gelap bagi kami dan menjadi ikutan dan kepercayaan kami di kala kami menghadapi krisis dan kesusahan. Akan tetapi segala harapan itu menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu tergelincir hari ini dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada kami? Engkau menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek moyang kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami menjadi bagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan untuk selama-lamanya. Kami sesekali tidak akan meninggalkannya karena seruanmu dan kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak mempercayai omong kosongmu bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan persembahan mereka dan mengikuti jejakmu."

Nabi Saleh memperingitkan mereka agar jangan menentangnya dan agar mengikuti ajakannya beriman kepada Allah yang telah mengaruniai mereka rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan kepada mereka kisah kaum-kaum yang mendapat siksa dan azab dari Allah karena menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu dapat terjadi di atas mereka jika mereka tidak mau menerima dakwahnya dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur sebagai seorang anggota dari keluarga besar mereka dan yang tidak mengharapkan atau menuntut upah daripada mereka atas usahanya itu. Ia hanya menyampaikan amanat Allah yang ditugaskan kepadanya dan Allah lah yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk usahanya memberi pimpinan dan tuntutan kepada mereka.

Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakan terdiri dari orang-orang yang kedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi Saleh dan beriman kepadanya sedangkan sebagian yang terbesar terutamanya mereka yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala dan menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Saleh dan mengingkari kenabiannya dan berkata kepadanya:" Wahai Saleh! Kami kira bahwa engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir. Engkau telah menjadi sinting dan menderita sakit gila. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu sudah kacau sehingga engkau dengan tidak sedar telah mengeluarkan kata-kata ucapan yang tidak masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak memahaminya. Engkau mengaku bahwa engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah kelebihanmu daripada kami semua sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada orang-orang di antara kami yang lebih patut dan lebih cakap untuk menjadi nabi atau rasul daripada engkau. Tujuanmu dengan omong kosong dan kata-katamu hanyalah untuk mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala dan pemimpin bagi kaummu. Jika engkau merasa bahwa engkau sehat badan dan sehat fikiran dan mengaku bahwa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan yang terselubung dalam dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan agama barumu dengan mencerca persembahan kami dan nenek moyangmu sendiri. Kami tidak akan mengikuti jalanmu dan meninggalkan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih dahulu.

Nabi Saleh menjawab: " Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mengharapkan sesuatu apapun darimu sebagai imbalan atas usahaku memberi tuntunan dan penerangan kepada kamu. Aku tidak mengharapkan upah atau mendambakan pangkat dan kedudukan bagi usahaku ini yang aku lakukan semata-mata atas perintah Allah dan dari pada-Nya kelak aku harapkan balasan dan ganjaran untuk itu. Dan bagaimana aku dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas dan amanat Tuhan kepadaku, padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran dakwahku. Janganlah sesekali kamu harapkan bahwa aku akan melanggar perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya semata-mata untuk melanjutkan persembahan nenek moyang kami yang bathil itu. Siapakah yang akan melindungiku dari murka dan azab Tuhan jika aku berbuat demikian? Sesungguhnya kamu hanya akan merugikan dan membinasakan aku dengan seruanmu itu."

Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah Nabi Saleh dan dilihatnya ia bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutinya dan berpihak kepadanya para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendapat perhatian terutama dari kalangan bawahan menengah dalam masyarakat. Mereka menentang Nabi Saleh dan untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.

Allah Memberi Mukjizat Kepada Nabi Saleh A.S.

Nabi Saleh sadar bahawa tantangan kaumnya yang menuntut bukti berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tantangan dan tuntutan mereka. Nabi Saleh membalas tentangan mereka dengan menuntut janji dengan mereka bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mereka minta bahwa mereka akan meninggalkan agama dan persembahan mereka dan akan mengikuti Nabi Saleh dan beriman kepadanya.

Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih keras kepala itu. Ia memohon dari Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina dikeluarkannya dari perut sebuah batu karang besar yang terdapat di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk.

Maka sejurus kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya seekor unta betina.

Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mereka:" Inilah dia unta Allah, janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah ia mempunyai giliran untuk mendptkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendapatkan minum bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya bila kamu sampai mengganggu binatang ini."

Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa mendapat gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah perigi yang diberi nama pergi unta dan minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin merasakan bahwa adanya unta Nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang melintang di dalam kerongkongan mereka.

Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendtgkan mukjizat yang mrk tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan pegaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilang banyak keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mereka pemilik-pemilik ternak yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi Saleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mereka serta ditakuti oleh binatang-binatang peliharaannya.

Unta Nabi Saleh Dibunuh

Persekongkolan diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan pembunuhan unta Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa takut dari azab yang diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di samping adanya dorongan keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang itu dari atas bumi mereka, muncullah tiba-tiba seorang janda bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerah dirinya kepada siapa yang dapat membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu.

Dua macam hadiah yang menggiurkan dari kedua wanita itu di samping hasutan para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda bin Muharrij dan Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan pembunuhan bagi meraih hadiah yang dijanjikan di samping sanjungan dan pujian yang akan diterimanya dari para kafir suku Tsamud bila unta Nabi Saleh telah mati dibunuh.

Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi bersembunyilah kumpulan itu di suatu tempat di mana biasanya di lalui oleh unta dalam perjalanannya ke perigi tempat ianya minum. Dan begitu unta-unta yang tidak berdosa itu lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda yang disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perutnya.

Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke ibu kota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendpt sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak musyrikin seakan-akan mereka kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang.

Berkata mereka kepada Nabi Saleh:" Wahai Saleh! Untamu telah amti dibunuh, cubalah datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul termasuk orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya."

Nabi Saleh menjawab:" Aku telah peringatkan kamu, bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah engkau akan tibanya masa azab yang Allah talah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu.Kamu telah menentang Allah dan terimalah kelak akibat tentanganmu kepada-Nya. Janji Allah tidak akan meleset .Kamu boleh bersuka ria dan bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah dan taqdir-Nya yang tidak dapat ditunda atau dihalang."

Ada kemungkinan menurut sementara ahli tafsir bahwa Allah melalui rasul-Nya Nabi Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi kesempatan, kalau-kalau mereka sadar akan dosanya dan bertaubat minta ampun serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya.

Akan tetapi dalam kenyataannya tempoh tiga hari itu bahkan menjadi bahan ejekan kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat datangnya azab itu dan tidak usah ditangguhkan tiga hari lagi.

Turunnya Azab Allah Yang Dijanjikan

Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas mereka akan didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama bila mereka terbangun dari tidurnya akan menemui wajah mrk menjadi kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.

Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya kelompok sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta merancang pembunuhan atas diri Nabi Saleh mendahului tibanya azab yang diancamkan itu.Mereka mengadakan pertemuan rahasia dan bersumpah bersama akan melaksanakan  pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh keluarga Nabi Saleh, jika diketahui identiti mrk sebagai pembunuhnya. Rencana mereka ini dirahasiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang itu sendiri.

Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh bagi melaksanakan rancangan jahatnya di malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dan yang seketika merebahkan mrk di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindingi rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir.

Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestin, meninggalkan Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.

Kisah Nabi Saleh Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya surah Al-A'raaf, ayat 73 hingga 79 , surah " Hud " ayat 61 sehingga ayat 68 dan surah " Al-Qamar " ayat 23 sehingga ayat 32.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Saleh A.S.

Pengajaran yang menonjol yang dpt dipetik dari kisah Nabi Saleh ini ialah bahwa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga masyarakat dapat berakibat negatif yang membinasakan masyarakat itu seluruhnya.

Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur dan bahkan tersapu bersih dari atas bumi karena dosa dan pelanggaran perintah Allah yang dilakukan oleh beberapa gelintir orang pembunuh unta Nabi Saleh A.S.

Di sinilah letaknya hikmah perintah Allah agar kita melakukan amar makruf nahi mungkar. Karena dengan melakukan tugas amar makruf nahi mungkar yang menjadi fardu kifayah itu, setidak-tidaknya kalau tidak berhasil mencegah kemungkaran yang terjadi di dalam masyarakat dan lindungan kita ,kita telah membebaskan diri dari dosa menyetujui atau merestui perbuatan mungkar itu

Bersikap pasif acuh tak acuh terhadap maksiat dan kemungkaran yang berlaku di depan mata dapat diertikan sebagai persetujuan dan penyekutuan terhadap perbuatan mungkar itu.

KATA CINTA RABIATUL ADAWAIYAH / SALAH SATU TOKOH SUFI

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.
Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.
Ada 2 tetes air mata mengalir di sebuah sungai. Satu tetes air mata i tu menyapa air mata yang satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab tetes air mata kedua itu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu saja.”
Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.
Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
Tuhan ciptakan 100 bagian kasih sayang. 99 disimpan di sisi-Nya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.
Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.
Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.
Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.

KISAH 3 EKOR IKAN

Konon, di sebuah kolam tinggal tiga ekor ikan: Si Pandai, Si  Agak Pandai, dan  Si  Bodoh.  Kehidupan  mereka  berlangsung  biasa  saja  seperti  ikan-ikan lain, sampai pada suatu hari  ketika kolam itu kedatangan-seorang manusia.

Ia membawa jala; dan Si Pandai melihatnya dari dalam  air. Sadar  akan   pengalamannya,   cerita-cerita   yang  pernah   didengarnya, dan kecerdikannya, Si Pandai  memutuskan  untuk  melakukan sesuatu.

 "Hampir  tak  ada  tempat berlindung di kolam ini," pikirnya   "Jadi saya akan pura-pura mati saja." Ia mengumpulkan  segenap  tenaganya  dan  meloncat  ke  luar  kolam,  jatuh  tepat  di  kaki  nelayan  itu.  Tentu saja si  Nelayan  terkejut.  Karena  ikan  tersebut  menahan   nafas,  nelayan  itu  mengiranya  mati:  ia pun melemparkan ikan itu   kembali ke kolam. Ikan  itu  kemudian  meluncur  tenang  dan  bersembunyi di sebuah ceruk kecil dekat pinggir kolam.

Ikan  yang  kedua, Si Agak-Pandai, tidak begitu memahami apa yang telah terjadi. Ia pun berenang mendekati Si Pandai  dan  menanyakan  hal  itu."  Gampang saja," kata Si Pandai, "saya  pura-pura mati, dan nelayan  itu  melemparkanku  kembali  ke  kolam."

Si Agak-Pandai itu pun segera melompat ke darat, jatuh dekat  kaki nelayan. "Aneh,"  pikir  nelayan  itu,  "ikan-ikan  ini  berloncatan ke luar air." Namun, Si Agak Pandai ini ternyata lupa menahan nafas, dan iapun dimasukkan ke kepis.

Ia kembali  mengamat-amati  kolam,  dan  karena  agak  heran  memikirkan  ikan-ikan yang berloncatan ke darat, ia pun lupa    menutup kepisnya. Menyadari hal ini, Si Agak-Pandai berusaha   melepaskan   diri  ke  luar  dari  kepis,  membalik-balikkan  badannya, dan masuk kembali ke kolam. Ia  mencari-cari  ikan   pertama,  ikut   bersembunyi di   dekatnya nafasnya  terengah-engah.

Dan ikan ke tiga, Si Bodoh, tidak bisa  mengambil  pelajaran dari  segala  itu,  meskipun  ia telah mengetahui pengalaman kedua ikan sebelumnya. Si Pandai dan Si Agak Pandai  memberi   penjelasan  secara terperinci, menekankan pentingnya menahan   nafas agar dia bisa terlepas dari nelayan.
"Terimakasih: saya sudah mengerti," kata Si Bodoh.  Sehabis  mengucapkan  itu, ia pun melemparkan dirinya ke darat, jatuh  tepat dekat kaki nelayan. Sang nelayan  langsung  memasukkan  ikan  ketiga itu kedalam kepisnya tanpa memperhatikan apakah   ikan itu bernafas atau tidak. Berulang  kali  dilemparkannya    jala  ke  kolam,  namun  kedua ikan yang pertama tadi dengan  aman bersembunyi dalam sebuah ceruk. Dan  kepisnya  sekarang    tertutup rapat.

Akhirnya  nelayan  itu  menghentikan  usahanya.  Ia  membuka  kepisnya, menyadari bahwa ternyata  ikan  yang  di  dalamnya  tidak  bernafas.  Ikan itupun dibawanya pulang untuk makanan  kucing.

ROSULULLOH SAW MENITIPKAN SHOLAT DAN ORANG-ORANG LEMAH

Ketika melaksanakan haji wada, Rosulullóh SAW menerima wahyu, “…Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu ni’mat Ku, dan telah Ku ridlai Islam itu jadi agama bagimu….”. (al Maidah : 3). Ada diantara para sahabat yang merasa gembira, sebab bimbingan dari Allóh telah lengkap. Namun tidak sedikit pula yang menangis merasa sedih, karena hal itu berarti saat-saat Rosul bersama mereka akan segera berakhir.

Tidak lama setelah sampai di Madinah, beliau menderita sakit. Pada saat itulah, beberapa menit sebelum dipanggil Allóh, beliau berwasiat yang digambarkan oleh para ahli hadits sebagai inti dan misi ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Wasiatnya itu sangat pendek, “Ash sholatu, ash sholatu, ash sholatu wa má malakat aimánukum”. Tidak lama setelah itu Rosulullóh dipanggil Allóh, wafat meninggalkan keluarga dan umat Islam seluruhnya.

Aku titipkan sholat, sholat, sholat dan orang-orang yang lemah”. Para ahli hadits mengabadikan wasiat ini sebagai inti dan misi ajaran Islam. Sholat melambangkan bentuk hubungan antara hamba dengan Allóh secara langsung, dan menolong orang yang lemah mempresentasikan hubungan antar manusia.

Dalam surat Ali Imrón ayat 112, Allóh berfirman, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika sukses berpegang kepada tali Allóh – Hablum minallóh, dan menghubungkan diri dengan baik sesama manusia – Hablum minannás”.

Kalau kita rajin menginventarisir ayat demi ayat dalam al Quran dan hadits demi hadits dari Rosul, maka akan nampak bahwa intisari ajaran Islam itu sebenarnya hanya ada dua, yaitu hubungan yang baik dengan Allóh dan hubungan yang baik dengan sesama  manusia. Ajaran ini dinyatakan oleh Islam sebagai ibadah. “Dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku”. Ibadah sebagai tugas hidup manusia ini meliputi hablum minallóh dan hablum minannás termasuk lingkungan atau alam semesta.

Siti Aisyah ra, salah seorang istri Rosul SAW pernah menyampaikan informasi tentang seorang wanita, “Ya Rosulallóh, di kampung sana sana ada seorang wanita, dia rajin sholat, tidak pernah meninggalkan shaum dan tiap tahun selalu menunaikan ibadah haji, selalu bersalawat untukmu dan keluargamu. Barangkali wanita itulah Ya Rosul contoh manusia yang dijamin masuk surga?” serta merta Rosul menjawab pernyataan Aisyah itu, “Wahai Aisyah andai engkau ingin tahu contoh wanita yang akan disiksa dan mendapat adzab Allóh, dialah wanita itu!”

Aisyah sangat terkejut dan berkata: “Wahai Rosul, bagaimana mungkin! Wanita itu bukan saja selalu melaksanakan sholat lima waktu, tetapi juga bangun di akhir malam untuk tahajud. Dia selalu shaum tidak hanya di bulan Ramadlan, tapi juga shaum sunat Senin dan Kamis juga enam hari di bulan Syawwal. Dia juga selalu menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. Dia selalu bersalawat untukmu dan keluargamu”.

Aku tahu, wanita itu rajin sholat, shaum, ibadah haji, berdzikir dan berdo’a secara terus menerus. Tetapi aku juga tahu kalau wanita itu tidak pernah akur dengan tetangganya”.
Hubungan vertical dengan Allóh dapat dijaga dengan baik, tetapi hubungan horizontal dengan sesama manusia tampaknya tidak dilakukan oleh wanita itu. Indikasi keislaman seseorang tampak dari hubungan dengan Allóh dan hubungan dengan sesama manusia yang baik. Bentuk tertinggi dari hubungan dengan Allóh adalah sholat yang kita lakukan setiap hari. Sehingga Rosulullóh SAW berulang kali bersabda, “Kalau kalian ingin berusaha menghapus dosa, perbanyaklah sholat. 

Jika kalian ingin memperbanyak pahala di sisi Allóh, perbanyaklah sholat. Ketika kamu sedang menghadapi keadaan yang gelisah dan bimbang dalam hidup, dirikanlah sholat. Ketika kalian sedang menghadapi suatu persoalan dan tidak bisa mengambil keputusan, dirikanlah sholat yang disebut sholat istiharah”. Sholat merupakan bimbingan rutin hidup setiap muslim.
Sholat mendapat perhatian yang sangat luar biasa dari agama Islam, sehingga Rosul pernah mengatakan, “Batas pemisah antara umat Islam dan orang kafir adalah sholat”. Oleh karena itu, wasiat terakhir Rosulullóh kepada kita adalah sholat.

PESAN kedua dari wasiat Rosulullóh SAW menjelang wafatnya adalah menolong orang lemah – wa mámalakat aimánukum – ini juga akan kita temukan dalam puluhan ayat al Quran. Allóh memberikan isyarat tentang keharusan menolong orang-orang lemah. Seorang ahli surga yang digambarkan al Quran bertanya kepada penduduk neraka syaqor. “Másalakakum fí syaqor?” Mengapa kalian masuk neraka Syaqor dan mendapat siksa? Penghuni neraka Syaqor itu menjawab, kesalahan kami cuma dua, ketika kami hidup di dunia, “Lam nakun minal mushollín” tidak siap melaksanakan sholat, wa lam nakun nut imul miskín!” dan yang kedua, kami tidak sempat menolong orang-orang miskin”.

Nabi bersabda, ‘Berikan upah kepada pegawaimu sebelum keringatnya kering. Berikan makan kepada pembantumu apa yang kamu biasa makan. Dan perlakukan anak-anak yatim sebagaimana kamu memperlakukan anakmu sendiri”.

Dua hubungan ini merupakan bentuk-bentuk tertinggi, hablum minallóh yang dicerminkan di dalam sholat. Dan bentuk tertinggi hablum minannás adalah menolong orang-orang lemah. Mudah-mudahan Allóh memberikan hidayah dan petunjuknya kepada kita untuk dapat melaksanakan dua misi Islam yang paling penting ini.

Sekali lagi, wasiat Rosulullóh SAW yang terakhir setelah melaksanakan haji wada itu adalah; “Pelihara sholat, jangan tinggalkan sholat, lakukan sholat secara kontinyu lagi baik. Kalau Rosulullóh setiap harinya melaksanakan sholat itu tidak kurang dari 40 rakaat; 17 rakaat sholat wajib, 10 rakaat sholat rowatib, 11 tahajud dan witir, dan 2 rakaat syukrul wudlu. Maka paling tidak kita tidak boleh meninggalkan sholat wajib yang 17 rakaat.  Wallahu a’lam.

TAWASSUL

Pada suatu hari ketika aku (Al-‘Utbah) sedang duduk bersimpuh dekat makam Rasulullah saw., tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui. Didepan makam beliau itu ia berkata: ‘As-Salamu’alaika ya Rasulullah. Aku mengetahui bahwa Allah telah berfirman: Sesungguhnya jika mereka ketika berbuat dhalim terhadap diri mereka sendiri segera datang kepadamu (hai Muhammad), kemudian mohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun me mohonkan ampun bagi mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (An-Nisa: 64). Sekarang aku datang kepadamu ya Rasulullah untuk mohon ampunan kepada Allah atas segala dosaku, dengan syafa’atmu, ya Rasulullah..’. Setelah mengucapkan kata-kata itu ia lalu pergi. Beberapa saat kemudian aku (Al-‘Utbah) terkantuk. Dalam keadaan setengah tidur itu aku bermimpi melihat Rasulallah saw. berkata kepadaku: ‘Hai ‘Utbah, susullah segera orang Badui itu dan beritahu kan kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya.

Peristiwa di atas dikemukakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Idhah bab 4 hal. 498. Dikemukakan juga oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengenai ayat An-Nisa: 64. Para ulama pakar lainnya yang mengetengahkan peristiwa Al-‘Utbah ini ialah: Syeikh Abu Muhammad Ibnu Qaddamah dalam kitabnya Al-Mughny juz 3 hal. 556; Syeikh Abul Faraj Ibnu Qaddamah dalam kitabnya Asy-Syarhul-Kabir juz 3 hal. 495; Syeikh Manshur bin Yunus Al-Bahuty dalam kitabnya Kisyaful-Qina (kitab ini sangat terkenal dikalangan madzhab Hanbali) juz 5 hal. 30 dan Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi juz 5 hal. 265) yang mengemukakan peristiwa semakna tapi kalimatnya agak berbeda.

Ad-Darami meriwayatkan: Penghuni Madinah mengalami paceklik yang sangat parah. Mereka mengadu kepada Aisyah Rodliyallahu 'anhaa (ummul Mukminin). Aisyah mengatakan: ‘Lihatlah pusara Nabi! Jadikanlah ia (pusara) sebagai penghubung menuju langit sehingga tidak ada lagi penghalang dengan langit’. Dia (perawi) mengatakan: Kemudian mereka (penduduk Madinah) melakukannya, kemudian turunlah hujan yang banyak hingga tumbuhlah rerumputan dan gemuklah unta-unta dipenuhi dengan lemak. Maka saat itu disebut dengan tahun ‘al-fatq’ (sejahtera). (Kitab "Sunan ad-Darami" juz 1 hal. 56)

Satu contoh lagi dari riwayat (atsar) para sahabat berkaitan dengan legalitas syariat Islam terhadap permasalahan istighotsah/tawassul, terkhusus kepada pribadi yang dianggap telah wafat/meninggal dunia.

Dalam sebuah riwayat panjang tentang kisah Utsman bin Hunaif (salah seorang sahabat mulia Rasulallah) yang disebutkan oleh at-Tabrani dari Abi Umamah bin Sahal bin Hunaif yang bersumber dari pamannya, Utsman bin Hunaif. Disebutkan bahwa, “Suatu saat seorang lelaki telah beberapa kali mendatangi khalifah Utsman bin Affan agar memenuhi hajatnya. Saat itu, Utsman tidak menanggapi kedatangannya dan tidak pula memperhatikan hajatnya. Kemudian lelaki itu pergi dan ditengah jalan bertemu Utsman bin Hunaif dan mengeluhkan hal yang dihadapinya kepadanya. Mendengar hal itu, lantas Utsman bin Hunaif mengatakan kepadanya: Ambillah bejana dan berwudhulah. Kemudian pergilah ke masjid (Nabi) dan shalatlah dua rakaat. Seusainya maka katakanlah: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan mendatangi-Mu demi Nabi-Mu Muhammad yang sebagai Nabi pembawa Rahmat. Wahai Muhammad, aku menghadapkan wajahku kepadamu untuk memohon kepada Tuhanku. Maka kabulkan-lah hajatku" Kemudian sebutkanlah hajatmu. Beranjaklah maka aku akan mengiringimu".

Kemudian lelaki itu melakukan apa yang telah diberitahukan kepadanya. Selang beberapa saat, lalu ia kembali mendatangi pintu rumah Utsman (bin ‘Affan). Utsman pun mempersilahkannya masuk dan duduk di satu kursi dengannya, seraya berkata: Apakah gerangan hajatmu? Kemudian ia menyebutkan hajatnya, dan Utsman pun segera memenuhinya. Ia (Utsman) berkata kepadanya: "Aku tidak ingat terhadap hajatmu melainkan baru beberapa saat yang lalu saja". Ia (Utsman bin  Affan) pun kembali mengatakan: "Jika engkau memiliki hajat maka sebutkanlah (kepadaku)"! Setelah itu, lelaki itu keluar meninggalkan rumah Utsman bin Affan dan kembali bertemu Utsman bin Hunaif seraya berkata: "Semoga Allah membalas kebaikanmu" Dia (Utsman bin Affan) awalnya tidak melihat dan memperhatikan hajatku sehingga engkau telah berbicaranya kepadanya tentangku.

Utsman bin Hunaif berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah berbicara tentang kamu kepadanya. Tetapi aku telah melihat Rasulullah saw. didatangi dan dikeluhi oleh seorang yang terkena musibah penyakit kehilangan kekuatan penglihatannya, kemudian Nabi bersabda kepadanya: ‘Bersabarlah’! Lelaki itu menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki penggandeng dan itu sangat menyulitkanku’. Nabi bersabda: ‘Ambillah bejana dan berwudhulah, kemudian shalatlah dua rakaat, kemudian bacalah do’a-do’a berikut….’ (info: ini mengisyaratkan pada hadits tentang sahabat yang mendatangi Rasulallah karena kehilangan penglihatannya yang diriwayatkan dalam kitab “Musnad Ahmad” juz 4 hal. 138, “Sunan at-Turmudzi” juz 5 hal. 569 hadits ke-3578, “Sunan Ibnu Majah” juz 1 hal. 441 dan “Mustadrak as-Shohihain” juz 1 hal.313)

Berkata Ibnu Hunaif: Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan (cara tawassul itu) Percakapan itu begitu panjang sehingga datanglah seorang lelaki yang seakan dia tidak mengidap satu penyakit”. (Lihat: Kitab “Mu’jam at-Tabrani” juz 9 hal. 30 nomer 8311, “al-Mu’jam as-Shoghir” juz 1 hal. 183, dikatakan hadits ini sahih)

Mengenai atsar bahwa para sahabatpun bertawassul melalui Nabi Muhammad yang telah wafat dengan jalan menziarahi makam beliau dan berdoa pada Allah dengan bertawassul pada Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasalam.

JELAS TIDAK ADA SATUPUN ULAMA' AHLUSSUNNAH YANG MENYATAKAN AMALAN PARA SAHABAT INI ADALAH AMALAN BID'AH DLOLALAH APALAGI AMALAN SYIRIK, sehingga jika kita mau menelusuri Kitab Tarikh, maka kita juga bisa banyak menjumpai kisah-kisah tawassul yang dilakukan oleh Para Ulama' Salafushholeh, Wallohu a'lam bisshawab....

DOA, IKHTIAR DAN TAWAKAL

Tugas kita dalam hidup ini sebenarnya hanya dua, yakni doa dan ikhtiar. Doa memohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT, khususnya agar mampu menjalani hidup dengan benar agar diridhai-Nya, dan ikhtiar atau berusaha seoptimal mungkin sesuai dengan tuntutan dan tuntunan-Nya.

Setelah keduanya kita laksanakan, kita tinggal berserah diri kepada-Nya (tawakal). Dengan cara itu, apa pun hasil doa dan usaha itu, akan dapat kita terima dengan ikhlas dan menganggap apa yang terjadi pada diri kita merupakan hal terbaik yang Allah SWT  berikan.

Ikhlas menerima apa pun kehendak dan keputusan Allah SWT merupakan sumber ketenangan jiwa sekaligus kebahagiaan. Dipastikan, para caleg yang stres dan depresi, bahkan gila hingga bunuh diri (na’udzubillah), itu karena tidak melalui tiga tahapan tadi –doa, ikhtiar, dan tawakal, atau minimal tidak melakukan hal ketiga, tawakal.

Bisa jadi pula, mereka berdoa dan ikhtiarnya tidak benar, tidak ikhlas lillahi ta’ala. Akibatnya, keputusan Allah yang menimpa dirinya (tidak terpilih) tidak disikapi dengan ikhlas pula alias tawakal sehingga merasa stres dan lain-lain.

Allah SWT pasti memberikan yang terbaik buat kita. Dialah yang paling tahu apa yang cocok, pas, atau sesuai buat diri kita. Oleh karenanya, apa pun keputusan Allah SWT setelah kita berdoa dan ikhtiar, adalah yang terbaik dan pasti ada hikmah di baliknya.

Kadang yang kita tidak sukai, justru itu yang terbaik bagi kita. Sebaliknya, yang kita sukai, justru buruk bagi kita. Kita benci kekalahan. Bisa jadi, kekalahan dalam sebuah kompetisi, itu terbaik bagi kita. Bisa jadi, kalau kita menang, justru buruk bagi kehidupan kita.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: 216)

Allah SWT juga menyatakan, Dia tidak akan membebani seorang hamba melebihi kemampuan si hamba untuk menanggungnya. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha, laha maa kasabat wa’alaihaa maktasabat.

Ketika sebuah keinginan kita tidak tercapai, Allah pasti membukakan pintu atau kesempatan lain. Lagi-lagi, tugas kita adalah berdoa dan ikhtiar dengan ikhlas dan sesuai dengan ketentuan-Nya, tidak melanggar larangan-Nya. Pepatah bijak mengatakan, “Ketika sebuah pintu tertutup, seringkali kita terpaku pada pintu yang tertutup itu, sehingga lupa akan pintu lainnya yang terbuka.”

Menurut para ulama, doa merupakan gambaran kedekatan hamba dengan Allah Swt dan pembuktian keyakinan hanya Allah tempat bergantung. Orang yang tidak berdoa, dipandang sombong. Allah SWT memerintahkan kita untuk berdo’a kepada-Nya.

”Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Al Mu’min [40] : 60).

Agar do’a dikabulkan oleh Allah SWT , ada syarat-syarat yang harus dipehuhi, antara lain keimanan, keikhlasan, dan tidak melanggar larangan-Nya. Menaati perintah-Nya akan mengundang kasih-sayang-Nya. Jika kita sudah dikiasihi-Nya, maka apa pun yang kita minta, akan dikabulkan.

”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah [2] : 186).

Doa terbaik adalah shalat. Nyaris semua bacaan shakat berisi doa. Dalam Surat Al-Fatihah, kita minta petunjuk Allah SWT. Dalam bacaan lainnya, kita banyak berdoa, mulai minta ampunan, rahmat, rezeki, dijauhkan dari marabahaya, hingga mendoakan sesama Muslim saat mengucapkan salam sebagai penutup shalat.

Setiap aktivitas kita sehari-hari hendaknya di mulai dengan do’a. Mulai saat bangun tidur hingga tidur lagi. Dengan memulai do’a dalam setiap aktivitas, kita akan merasakan kedekatan dengan Allah SWT dan yakin bahwa Dia akan selalu menyertai kita.

Namun, doa saja belum cukup, meski doa adalah senjata kaum beriman dan kaum lemah. Bahkan, doa orang yang dizhalimi pasti dikabulkan Allah SWT.

Selain, berdo’a, kita diharuskan berusaha, ikhtiar yang gigih, tanpa kenal lelah dan putus asa. Jangan lupa, dalam ikhtiar, tidak boleh melakukan hal yang dilarang (haram), seperti suap, korupsi, dengki, dan sebagainya. Setelah itu, kita wajib bertawakal kepada Allah SWT

“Berusahalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat usahamu” (Q.S. At-Taubah 9:105)

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S. Ar-Ra’du 13: 11)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh maka pahalanya untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka dosanya atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Fushshilat 41: 46).

Kalau sudah berikhtiar dan berdoa ternyata tidak membuahkan hasil seperti yang kita harapkan, yakinlah bahwa di balik semua kegagalan pasti ada hikmah yang lebih baik. Boleh jadi kita membenci sesuatu, namun di balik itu ada hikmah kebaikan.

Sebaliknya, boleh jadi kita menyukai sesuatu, namun di balik itu ada keburukan. Karenanya, kita harus selalu berprasangka baik pada Allah SWT, bahwa Allah SWT hanya akan memberikan yang terbaik untuk kita.

Siap menerima hasil apa pun setelah kita berdoa dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Inilah yang disebut percaya kepada takdir Allah yang baik ataupun yang buruk. Percaya kepada takdir, sebagai bagian dari Rukun Iman, akan melahirkan jiwa syukur saat kita sukses dan akan bersabar saat kita mengalami kegagalan atau musibah. Wallahu a’lam bisshawab.

MANUSIA BUTUH DOA

Wujud Tuhan yang mutlak dan dirasakan oleh jiwa manusia, serta keyakinan akan adanya hukum-hukum alam yang ditetapkan- Nya, tidak boleh mengantar manusia meng­abaikan doa. Karena, keberlakuan hukum- hukum itu tidak mengakibatkan terbebasnya Tuhan dari perbuatan dan kebijaksanaan-Nya. Apakah Anda menduga Allah seperti pabrik yang memproduksi "jam" kemudian membiar­kannya berjalan secara otomatis di tangan Anda? Jangan menduga demikian! Ada sunnatullah (hukum-hukum Allah) yang meng­atur alam raya, dan ada pula ’inayatullah ataupertolongan-Nya. Dan itu ditujukan kepada mereka yang benar-benar berdoa kepada-Nya.

"Keliru," tulis Oliver Lodge, seorang ahli ilmu alam, "mereka yang menduga bahwa shalat atau doa berada di luar fenomena alam ini. Kita harus memperhitungkannya, seperti memperhitungkan penyebab peristiwa lain yang terjadi dalam kehidupan manusia. Kalau doa dinilai sebagai salah satu sarana pendi­dikan kejiwaan, maka mengapa orang yang menentangnya tidak menduga bahwa ia pun dapat merupakan sebab untuk terjadinya beberapa kejadian, sebagaimana sebab yang lain?"

Manusia, lebih-lebih para ilmuwan, mem­butuhkan kepastian tentang tata kerja alam ini demi pengembangan ilmu dan penerapannya. Kepastian ini tidak dapat diperoleh kecuali dengan keyakinan tentang wujud Pengendali dan Penguasa Tunggal Yang Maha Esa lagi Mahakuasa, yaitu Allah SWT.

Doa menggambarkan pemahaman sese­orang menyangkut tata kerja alam raya ini, yang berfungsi antara lain memberikan kete­nangan dan kemantapan kepada manusia khususnya para ilmuwan. Karena itu, "permo­honan kepada Yang Maha Esa merupakan pertanda kemajuan pemikiran manusia dalam memahami tata kerja alam raya ini."

Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri cemas dan mengharap. Ia selalu mem­butuhkan sandaran, lebih-lebih pada saat-saat ia merasakan kecemasan atau mendambakan harapan. Kenyataan sehari-hari membuktikan bahwa bersandar kepada makhluk, betapapun kuat dan berkuasanya, sering kali tidak mem­buahkan hasil. Yang mampu memberi hasil hanyalah Tuhan semata.

Yang kamu seru selain Allah tidak memiliki apa- apa walau setipis kulit ari sekalipun. Jika kamu meminta kepada mereka, mereka tidak mendengar permintaanmu dan kalau pun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan (QS Fathir [35]: 13-14).
 

KISAH TENTANG TIPU DAYA IBLIS LAKNATULLOH

Pada zaman Bani Israil, ada seorang hamba Allah yang telah beribadah selama dua ratus dua puluh tahun. Selama itu, kegiatannya hanya memuja Allah semata. Tiada sekal pun dia pernah durhaka kepada Allah. Karena keshalihannya itulah, banyak yang berguru kepadanya. Tak kurang dari enam puluh ribu santri setiap hari yang berguru kepadanya.

Iblis yang mengetahui keshalihan lelaki itu menjadi penasaran Dia ingin sekali menguji ke­shalihannya. Kalau biasanya dia hanya menguji orang-orang biasa, maka hari itu dia berjanji akan menggoda lelaki shalih itu. Di dalam benak iblis telah tersimpan cara-cara untuk menjerumuskan mangsanya.

Pada suatu hari, dia bertamu ke tempat pertapaan lelaki itu dengan wujud seorang tua. Melihat tamu yang belum pernah dikenalnya, lelaki shalih ituu pun menegurnya. "Apakah ada hajatmu datang ke pertapaanku ini?"

"Aku tiada lain hanyalah hamba Allah yang ingin menemani engkau dalam beribadah kepada Allah!" "Apakah ada hajatmu yang lain?

"Tidak!"

"Bagiku, ketika aku beribadah cukuplah Allah yang menemaniku. Tetapi baiklah, silakan masuk!" Iblis yang menjelma menjadi lelaki tua itu pun masuk. Setelah berbasa-basi sejenak, dia pun meminta izin untuk bermunajat kepada Allah. Lelaki shalih pemilik pertapaan itu pun mengizinkannya. Setelah mendapat izin, iblis pun segera masuk ke sanggar pemujaan. Dia berdoa dengan sangat khusyuk sekali. Sesekali dia menangis, sehingga membuat lelaki shalih itu begitu mengagumi tamunya tersebut.

Tiga hari tiga malam iblis yang menjelma menjadi manusia itu bermunajat. Selama itu pula, dia tidak makan dan tidak minum. Yang dia kerjakan hanyalah berdzikir dan berdoa. Melihat kehebatan ibadah tamunya, lelaki shalih itu pun sangat terpesona. Dalam hati dia ingin belajar kepada tamunya itu.

"Sudah tiga hari Tuan beribadah, apakah tidak sebaiknya Tuan itu beristirahat? Aku takut Tuan menjadi sakit karena tidak makan dan minum."

Karena ditegur si Tuan rumah, sang tamu itu pun menyudahi ibadahnya. Dia pun berpaling ke arah lelaki shalih itu.

"Tuan beribadah sangat khusyuk sekali? Apa yang membuat Tuan bisa berbuat demikian?"

"Aku itu hanyalah seorang manusia biasa yang tidak lepas dari dosa!" kata iblis mulai memasang jerat-jeratnya.

"Sungguh, selama aku hidup, aku belum pernah melihat seseorang yang lebih bertakwa selain eng­kau.’’

"Apa-apa yang engkau lihat itu hanyalah seba­gian kecil dari ibadahku," kata iblis lirih. Dalam hati dia tertawa, sebab si ahli ibadah itu telah masuk ke dalam perangkapnya.

Lelaki itu kian terpesona.

Dia sangat kagum dengan tamunya itu. Kalau yang luar biasa itu saja disebut sebagai sebagian kecil, itu berarti yang tidak terlihat lebih hebat lagi.

"Aku sungguh kagum dengan engkau. Kalau boleh, aku akan berguru kepadamu."

"Aku bukanlah orang yang pantas menjadi guru," kata si iblis merendah.

"Tidak! engkau sangat pantas aku jadikan guru," kata lelaki shalih itu. "Ketahuilah, aku telah ber­ibadah selama dua ratus dua puluh tahun, tapi belum pernah merasakan beribadah yang begitu nikmat sepertimu. Selama ini pula, aku masih makan, minum, dan tidur. Tolong tunjukkan cara beribadah yang sedemikian hebat kepadaku. Sungguh, aku ingin beribadah seperti itu!"

"Ketahuilah orang shalih, dulu aku juga tidak bisa melakukan ibadah yang hebat seperti itu, sampai aku melakukan sebuah dosa!"

"Maksudmu?"

"Saya pernah melakukan sebuah dosa yang sa­ngat besar sekali. Apabila aku teringat itu, maka aku sangat bersedih sekali. Untuk menebusnya, maka aku berjanji untuk beribadah terus-menerus. Itulah mengapa lapar, dahaga, dan mengantuk sekali pun tidak aku perhatikan. Aku hanya ingin menebus dosa-dosaku!"

"Tuan, kalau begitu tunjukkan kepadaku ba­gaimana caranya agar aku bisa mencontoh beribadah yang khusyuk seperti Tuan?"

"Keluarlah dari pertapaanmu dan lakukanlah sebuah dosa besar. Setelah itu lekaslah bertaubat, bukankah Allah Maha Menerima Taubat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Ingat, kita akan merasakan manisnya madu apabila kita pernah makan empedu. Begitu juga, kalau kita ingin merasakan manisnya ibadah, kita pernah melakukan maksiat kepada Allah!

"Terus, kira-kira maksiat seperti apakah yang membuatku bisa merasakan manisnya ibadah?" "Lakukan perbuatan musyrik. Sesungguhnya, tidak ada dosa yang lebih besar daripada menye­kutukan Allah?" kata iblis.

"Aku tidak mungkin meiakukan itu, karena musyrik adalah dosa yang tidak terampuni!" tegas ahli ibadah itu.

"Kalau begitu lakukan zina."

"Tidak, aku telah beristri. Selain itu, aku malu apabila itu ketahuan oleh para pengikutku. Apa kata mereka nantinya jika mengetahui hal itu."

"Kalau begitu, bunuhlah seorang muslim!" kata iblis.

"Tidak. Karena sesungguhnya membunuh se­orang muslim balasannya juga dibunuh. Aku tak mau melakukan itu!"

"Minumlah khamar!"

Tampak lelaki ahli ibadah itu berpikir sejenak, setelah mendengar perkataan tamunya. Mungkin itulah dosa yang paling kecil. Batin si ahli ibadah.

"Baiklah. Lalu, di manakah aku bisa membeli barang itu? Karena di kota ini tidak ada yang menjual khamar," ujar ahli ibadah. Di kotanya memang tidak ada yang menjual khamar karena semua pen­duduknya adalah orang-orang yang beriman.
"Pergilah ke kota seberang!" kata iblis menun­jukkan tempat yang menjual khamar.

Sang ahli ibadah itu pun menuruti perkataan iblis yang menjelma menjadi tamunya itu. Dia berangkat menuju kota yang dimaksud. Di sana, dia membeli sebotol minuman keras dari seorang penjual yang sangat cantik sekali. Setelah khamar didapat, dia pun segera meneguknya. Sebagai seorang peminum pemula, khamar itu segera mempengaruhi jiwanya. Tak lama berselang, dia pun mabuk. Ketika dia melihat wajah si penjual yang sangat cantik, lelaki ahli ibadah itu pun menjadi tertarik. Nafsunya menggelegak. Karena tidak bisa menguasai diri, akhirnya dia pun menzinai wanita tersebut.

Tiba-tiba, suami si wanita itu pulang. Ketika mendapati istrinya menangis, kalaplah lelaki itu. Si ahli ibadah tampak ketakutan kalau-kalau per­buatannya dilaporkan ke pihak berwenang, maka suami si wanita itu langsung dihantamnya dengan sebatang kayu hingga mati.

Melihat hal yang demikian, iblis pun segera meng­ubah tubuhnya menjadi manusia lagi dan melaporkan perbuatan si ahli ibadah kepada hakim di kota itu. Lelaki ahli ibadah itu pun segera ditangkap. Sang hakim memberi hukuman cambuk delapan puluh kali kepada ahli ibadah itu karena telah mabuk, lalu menambahnya seratus kali cambukan karena telah berzina. Yang terakhir, karena dia telah membunuh orang, maka dia pun di salib. Ketika mendapati si ahli ibadah itu nelangsa, iblis datang menanyakan kabarnya dengan wujud yang lain lagi. Saat itu, dia menjelma menjadi seorang pejabat setempat.

"Begitulah keadaanku akibat berteman dengan orang jahat," ujar ahli ibadah itu.

"Wahai ahli ibadah, maukah engkau aku tunjukkan sebuah amalan yang bisa menebus kesalahanmu. Aku yakin, kalau engkau melaksanakannya engkau akan bebas."

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Ketahuilah, bahwa aku adalah salah seorang pejabat di negeri ini. Aku berjanji akan membantu membebaskanmu, tapi ada syaratnya!" kata iblis yang telah mengubah wujudnya menjadi seorang pe­jabat negeri itu.

"Apa pun syaratnya akan aku lakukan asal aku bisa bebas."

"Engkau aku jamin bisa bebas asal mau bersujud ke­padaku!"

"Bagaimana mungkin aku mau sujud kepada manusia! Tetapi baiklah, demi kebebasanku aku mau sujud kepadamu!" kata ahli ibadah. Tetapi, seketika dia sadar bahwa saat itu dia dalam keadaan disalib. Dia pun bertanya lagi pada iblis yang menjelma menjadi pejabat itu.

"Engkau tidak perlu bersujud layaknya orang yang sembahyang. Tetapi, cukuplah engkau mem­bungkukkan badanmu sebagai ganti sujud!"

Si ahli ibadah itu pun menuruti bujukan iblis. Dia membungkukkan badannya. Bersamaan dengan itu, sang algojo mendapat perintah untuk memenggal kepala si ahli ibadah itu, kemudian sang algojo pun segera melaksanakan perintah tersebut. Akhirnya, si ahli ibadah itu meninggal dunia dengan tanpa membawa iman barang secuil pun. Dia mati dalam keadaan ingkar.

Begitulah akhir hidup si ahli ibadah. Dia mati dengan membawa kekafiran, sebab bermain-main dengan dosa yang dianggap ringan, yaitu minum minuman keras.

Untuk itulah Rasulullah pernah menasehati kita untuk tidak minum khamar. Sebab, khamar adalah pintu gerbang menuju kemaksiatan yang lebih besar lagi: berzina, membunuh, dan berbuat musyrik. Kita berlindung kepada Allah terhadap tipu daya iblis yang terkutuk.

UNTAIAN SABAR

Bayangkan gerak kesabaran itu sebagaimana sebuah pensil. Sebuah pensil akan sangat berguna dan siap untuk digunakan ketika ujungnya senantiasa runcing. Begitu pula kesabaran dalam diri kita, akan selalu siap menghadapi ujian dan akan selalu siap untuk bergerak kembali memikul tanggung jawab ketika senantiasa diasah. Bisa jadi ketika digunakan, pensil itu akan tumpul atau mungkin patah karena ter­lalu keras. Tapi dia tidak akan cepat patah ketika digunakan perlahan, tidak cepat rusak jika digunakan dengan hati-hati.

Begitu pula dengan kesabaran dalam diri kita. Kata "sabar" tidak berdiri sendiri sehingga mudah diungkapkan. Di dalamnya ada unsur perencanaan seperti arang yang sudah diformat sesuai panjang pensil, ada unsur kehati- hatian agar tidak lekas tumpul atau patah atau bahkan meruncingkan kembali. Karena kalau dalam meruncingkan tergesa-gesa, pada akhirnya bukan pensil yaig tajam yang didapat melainkan ketajaman dan cepat patah kembali. Ibarat manusia, bagi yang tergesa-gesa menuai hasilnya dia tidak akan mendapatkan buah yang optimal dari kesabar an tersebut.

Pensil akan menjadi pendek  seiring berjalannya waktu, tapi bukankah dia siap untuk diruncingkan kembali, bahkan di dalam dirinya ada cikal bakal arang yang bila diruncingkan bisa digunakan untuk menulis kembali.

Begitu pula diri kita, adakalanya kesabaran mengendur, kondisi hati dan iman naik turun. Semuanya adalah manusiawi, tinggal seberapa besar kemauan kita untuk menemukan sesuatu yang membuat semuanya kembali siap seperti sediakalanya.

Pensil berhenti digunakan ketika sang penulis memutuskan untuk berhenti menggunakan, sama halnya dengan kesabaran yang pupus setelah hati akan mengatakan lelah untuk bersabar.

Ada baiknya kita meyakini kesabaran tidak pernah ada batasnya. Meyakini batas kesabaran hanya akan memupuskan semangat kita untuk bersabar. Seperti sekat-sekat yang dibuat tapi tidak ada aturan yang menyuruh sekat itu untuk dibuat.

Jangan pernah berhenti untuk bersabar, bukankah pensil masih terus digunakan meskipun banyak media yang lebih canggih untuk menggantikan tugasnya. Selama dia dirawat maka dia selalu siap digunakan, selama kesabaran itu ada dan dirawat maka dia akan selalu siap menemani diri kita untuk menempuh segala tantangan dan ujian kehidupan.

SEIMBANGKAN EMOSI

Allah SWT dalam surat An Anas mengajarkan setiap hamba untuk memohon perlindungan kepada-Nya agar terhindar dari keadaan al-waswas. Permohonan dalam surat itu menggunakan tiga sifat sekaligus, yaitu Rabbin Nas, Malikin Nas dan Ilahin Nas. Kata Rabb, bermakna pemelihara, pendidik dan pencipta yang berkonotasi dengan sifat kasih-sayang; Malik, bermakna raja dan penguasa dengan kesan bijaksana, tegas dan adil; dan Ilah berkenaan dengan ubudiyah dan keyakinan.

Ketiga sifat itu digunakan untuk memohon perlindungan dari satu masalah saja, yaitu Al waswas fi shudurin nas.  Al-waswas secara bahasa berarti bisikan-bisikan suara halus  yang merasuk dalam sanubari. Dengan bahasa sederhana, bisa dipahami sebagai rangkaian situasi emosional yang tidak seimbang yang kerap menyesakkan dada.

Keseimbangan emosi merupakan ciri pribadi yang sehat. Keseimbangan emosi menjadi faktor terpenting bagi efektifitas nalar untuk mampu bekerja secara baik. Al Qur’an menilai bahwa menjaga keseimbangan emosi (al kadziminal ghaidh) adalah ciri dari ketakwaan (lihat QS 3:134). Demikian pula Rasulullah SAW memuji dan menyebut orang yang dapat menjaga emosi sebagai orang yang kuat, diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "bukanlah orang kuat itu adalah orang yang hebat bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan emosinya ketika ia marah" (HR  Bukhari dan Muslim)

Dalam kamus Psikologi, keseimbangan emosi disebut dengan emotional stabilty, karakteristik seseorang yang memiliki kontrol emosional yang baik. Terkadang diistilahkan juga dengan emotional maturity (kedewasaan emosional), yaitu satu keadaan mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional.

Sebaliknya, emosi yang tidak seimbang (Al-waswasu) dapat mengakibatkan kecemasan (anxiety), kegelisahan (nerveus), kekawatiran yang berlebih dan sikap tak bertanggung jawab. Kondisi semacam ini bisa menghambat sistem kerja otak menalar setiap masalah secara optimal. Sehingga dapat menyebabkan kebimbangan yang berlarut.  Al Qur’an mencela orang yang demikian, “mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian, tidak masuk kepada golongan ini dan tidak (pula) kepada golongan itu (QS 4:143)

Rasulullah SAW selalu memperingatkan sahabatnya, “Jangan suka marah (emosi)." Sahabat itu terus bertanya dan Nabi SAW berulang kali berpesan, “Jangan suka marah.” (HR. Bukhari)

Situasi semacam ini bisa ditimbulkan oleh faktor internal meliputi tingkat kematangan emosi, pola berfikir  dan kualitas keyakinan (iman). Dapat pula disebabkan adanya pengaruh kuat dari faktor eksternal (bisikin jin atau perilaku orang lain ).

Dalam kondisi seperti itu, seseorang tidak sepantasnya mengambil suatu keputusan, sebab sikap yang diputuskan dalam situasi demikian hanya akan menciptakan masalah yang lebih rumit. Dalam hadits riwayat Abu Bakrah, Rasululah SAW bersabda, “seseorang janganlah memutuskan perkara antara dua orang sedang ia dalam keadaan marah” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan sebaiknya memilih untuk diam menenangkan diri “bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam’(HR. Ahmad). 

Atau dengan mengambil air wudhu, “sesungguhnya kemarahan itu dari syetan, sungguh syetan itu diciptakan dari api. Sesungguhnya api dapat padam dengan air, maka jika salah seorang dari kalian marah hendaklah berwudhu” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

PEMIMPIN YANG SUKA MENOLONG

Pada suatu malam, khalifah Umar bin Khathab ra keluar dari rumahnya. Dia berjalan menyusuri ping­giran kota Madinah. Begitulah kebiasaan pemim­pin kaum muslimin itu. Setiap malam, dia selalu menyempatkan diri berkeliling dari satu kampung ke kampung yang lain untuk memastikan bahwa seluruh rakyatnya dalam keadaan tercukupi segala kebutuhannya.

Umar bin Khathab berjalan dan terus berjalan. Langit yang cerah sebagai atapnya. Di sana, kelap - kelip bintang seolah menjadi saksi atas apa-apa yang dilakukan khalifah kedua itu. Ternyata, langkah sang khalifah semakin jauh meninggalkan rumahnya, hingga tiba di sebuah gurun yang sangat sepi sekali. Di sana, dia melihat sebuah tenda yang masih ada tanda-tanda kehidupan. Ke sanalah khalifah Umar melangkah.

Setelah kian dekat, Umar bin Khathab ra dapat melihat seorang lelaki sedang duduk di luar sebuah tenda. Raut muka lelaki tersebut tampak gelisah. Sementara itu, dari dalam tenda terdengar sebuah erangan. Rupanya istri si lelaki itu akan melahirkan. Umar ra berpikir, pastilah lelaki Badui itu sangat khawatir terhadap keselamatan istrinya. Apalagi tidak ada orang lain selain hanya mereka berdua.

Maka, Umar pun segera berbalik arah. Dia ber­jalan cepat supaya lekas sampai di rumah. Sesampai di rumah, dia segera menemui istrinya, ummi Kultsum bin Abi Thalib.

"Ada apa wahai Amirul Mukminin? Kenapa engkau tampak begitu gelisah?"

"Wahai istriku, ada kesempatan mulia dari Allah untukmu, maukah engkau ikut denganku?"

"Ya!" jawab Ummu Kultsum dengan muka berbinar.

"Ada seorang Badui pendatang yang hidup di ping­giran kota. Saat ini, istrinya akan melahirkan, tetapi tidak ada orang lain yang menolongnya." kata Umar.

"Kalau begitu, marilah kita segera ke sana!" potong Ummu Kultsum. Ummul mukminin itu segera mempersiapkan segala sesuatu untuk mem­bantu persalinan pendatang itu. Sementara itu, Umar mengambil tepung dan segala perlengkapan untuk memasak. Setelah semua siap, lantas mereka beranjak ke tempat orang Badui itu. Dengan sedikit tergesa, mereka pergi menuju tenda pendatang tadi. Tak lama berselang, mereka pun telah sampai.

Sesampainya di tenda milik Badui tadi, Ummul mukminin segera minta izin masuk untuk mem­bantu persalinan. Sementara itu, Umar langsung mempersiapkan tempat memasak. Dia membuat adonan kemudian mengukusnya. Semua itu dila­kukannya seorang diri dengan cekatan.

Laki-laki Badui yang semula kebingungan itu menjadi tenang. Diam-diam, dia memperhatikan kedua tamunya yang misterius itu. Dalam hati, dia sangat bersyukur. Di tengah padang pasir yang gersang itu masih ada yang peduli dengannya. Dia pun berpikir kalau orang itu lebih pantas menjadi khalifah daripada Umar ra. Dia tidak tahu kalau dia adalah Umar bin Khathab ra, khalifah yang sangat perhatian kepada seluruh rakyatnya.

Tak berapa lama dari dalam tenda terdengar suara lengkingan tangis bayi. Rupanya istri si Badui itu telah melahirkan. Laki-laki Badui yang sejak tadi berdiri gelisah di depan tenda, pun menjadi lega. Raut mukanya terlihat bahagia.

"Wahai Amirul mukminin, katakan kepada sahabatmu itu kalau istrinya telah melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat." Tiba-tiba dari dalam tenda, terdengar Ummul mukminin berteriak. Spontan saja dia menyebut Umar ra dengan panggilan ‘Amirul mukminin’. Dia tidak sadar kalau tadi telah bersepakat akan menyembunyikan identitas mereka supaya si Badui merasa nyaman.

Mendengar sebutan itu, si Badui tampak terkejut. Dia mundur beberapa langkah. Dia sungguh tidak menyangka kalau laki-laki tamunya itu ternyata Amirul Mukmrnin, sang khalifah. Rasa bangga, malu, sekaligus takut, bercampur menjadi satu. Se­mentara itu, Umar yang melihat perubahan pada si laki-laki Badui itu segera menenangkannya.

"Tenanglah wahai saudaraku. Aku itu tak lebih hanya sebagai saudaramu!" kata Umar ra embut. Dia terus memasak roti itu sampai matang. Setelah dira­sanya matang, dia memberikannya kepada Ummu Kultsum supaya istri si Badui itu makan.

"Sekarang lekaslah engkau makan, wahai saudaraku! Aku y akin, pastilah engkau juga lapar" tawar Umar.

Sejenak, laki-laki Badui itu terlihat ragu. Tapi perutnya tidak mau diajak kompromi. Akhirnya, dia pun memberanikan diri untuk makan roti yang telah dimasakkan oleh khalifahnya.

Setelah semuanya beres, Umar dan Ummu Kultsum pun mohon diri. Khalifah Umar telah menempatkan diri sebagai seorang pemimpin yang sa­ngat peduli terhadap keadaan rakyatnya. Bahkan, dia pernah berkata bahwa kalau rakyatnya lapar, maka dialah orang yang pertama kali akan kelaparan. Kalau rakyatnya susah, maka dialah orang yang per­tama kali menanggung kesusahan.

Semoga kita bisa meneladaninya.

Sumber : Buku Taubatnya Seorang Pelacur, Penerbit DIVA Press

ISTANA YANG CACAT

Di sebuah kerajaan sedang dilaksanakan pembangunan istana yang sangat megah dan indah. Tak hanya megah di luar, seluruh perabotan dalam istana juga me­mancarkan kecantikan dan kemewahan yang luar biasa. Sang raja sangat bangga dengan istananya.

Begitu istana dinyatakan selesai, sang raja meresmikan bangunan indah itu dengan menggelar berbagai acara kebesaran. Tak ketinggalan pula ia mengundang semua rakyatnya, mulai dari para petinggi kerajaan seperti para menteri dan pegawai istana hingga orang orang bawahan seperti pekerja biasa, fakir miskin, dan sebagainya.

Mereka kemudian dijamu dengan bera­neka macam makanan dan minuman, yang bukan main enak dan nikmat rasanya. Untuk memastikan keistimewaan istana itu, raja telah menempatkan beberapa penjaga di setiap pintu istana yang sangat indah itu untuk bertanya kepada setiap undangan yang masuk tentang keindahan istana tersebut. Apakah di sana terdapat cacat atau keku­rangan meskipun yang paling kecil sekalipun?

Beribu-ribu undangan mengunjungi istana itu. Dan setiap kali mereka ditanya tentang istana itu, jawabannya semua sama, yaitu istana yang paling hebat, indah, megah, kukuh dan sama sekali tidak terdapat cacat walaupun yang terkecil sekalipun.

Beberapa saat kemudian, datanglah serombongan orang tua yang bajunya penuh dengan tambalan memasuki istana itu. Para penjaga menjamu mereka dengan sempurna dan tidak lupa bertanya kepada mereka ten­tang pendapatnya mengenai istana tersebut.

Salah satu dari mereka berkata, "Terda­pat dua cacat besar pada istana indah ini."

"Apa kata Anda? Ada dua cacat pada istana ini?" tanya penjaga istana dengan nada tidak percaya.

"Benar terdapat cacat di dalamnya," jawab orang itu kembali.

Penjaga istana lalu menahan sebagian orang tua tersebut dan membawanya meng­hadap sang raja, seraya berkata kepadanya, "Wahai paduka raja, hamba telah bertanya kepada ribuan orang akan kehebatan, keme­gahan, dan keindahan istana paduka. Semua orang mengatakan istana ini indah, megah, kukuh bangunannya dan sempurna dan tak ada satu cacat pun padanya, meskipun yang terkecil. Bahkan mereka memuji-mujinya setinggi langit’ Tetapi tatkala hamba ber­tanya pada rombongan orang-orang tua ini justru mereka mengatakan ada dua cacat besar pada istana ini."

Raja pun mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian bertanya, "Wahai bapak- bapak sekalian! Saya tak rela dengan dua cacat sekecil apa pun pada istana saya ini. Tetapi bapak-bapak telah menyebutkan dua cacat besar pada istana ini. Nah, sebutkan dua cacat itu!"

Seseorang dari orang tua itu menjawab, "Bukankah istana indah ini suatu saat nanti akan rusak?"

"Ya, benar katamu!" jawab Raja.

"Itulah cacatnya yang pertama".

"Lalu apa cacat yang kedua?" tanya Raja.

"Pemiliknya akan meninggal dunia! Itulah cacatnya yang kedua," jawab orang tua yang lain.

Raja tercengang mendengar jawaban itu, dan mengakui akan kebenaran kata-kata orang-orang tua itu. Dia termenung sejenak, kemudian berkata kepada mereka, "Benar dan sungguh benar perkataan bapak-bapak. Namun, adakah sesuatu atau istana yang tak akan rusak selama-lamanya, dan pemiliknya tak akan mati?"

Orang-orang tua itu hampir serentak tersenyum dan tertawa. Seolah-olah mereka sudah menunggu pertanyaan itu dari sang Raja, dan mereka pun sudah mempunyai jawabannya.

"Ada, wahai paduka Raja, ada," jawab mereka serentak.

"Di manakah dia?"

"Di Surga! Surga dan segala kenikma­tannya tidak akan rusak untuk selama- lamanya, dan pemiliknya tidak akan mati!" jawab mereka. Raja pun mengangguk-ang- gukkan kepalanya.

"Alangkah bahagianya seandainya paduka dapat memperolehnya, sebab jalan untuk memperolehnya, bagi paduka sangat­lah terbuka luas dan tidak sukar," tambah orang tua itu.

"Coba terangkan, bagaimana cara mem­perolehnya?" tanya Raja.

"Mudah saja paduka! Paduka akan mem­perolehnya dengan beriman kepada Allah Swt. dengan menjalani semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Sebaliknya, jika paduka tidak mengerjakan semua itu, maka paduka akan menghadapi kecelakaan dan siksaan yang sangat pedih, yaitu api neraka dan akan kekal di sana, sakitnya tidak dapat di bayangkan," jelas mereka sekalian.

"Baiklah kalau begitu. Aku akan turuti segala nasihat bapak-bapak dan akan aku tinggalkan agama yang selama ini aku pegang. Aku akan beriman kepada Allah Swt., dan akan aku tinggalkan kursi kerajaan ini untuk bertaubat kepada-Nya," balas Raja.

Raja itu benar-benar melaksanakan segala apa yang diucapkannya Akhimya, jadilah ia sebagai hamba Allah yang saleh, taat hingga akhir hayatnya, berkat ajakan hamba yang saleh.***



Sumber :  Buku Mutiara-mutiara Hati, Penulis Hadi S. Khuly, Penerbit Gava Media

HAKEKAT BERDOA

Mana mungkin kita bisa menyelami misteri bathin diri kita, apabila ke­sadaran qolbu terganggu oleh berbagai perangkat duniawi. Padahal, jiwa yang misteri penuh rahasia dan sulit ditangkap oleh mata bathin kita sendiri sangat membutuhkan tawajuh, konsentrasi, dan menghadapkan wajah qolbu secara sungguh-sungguh. Tanpa gangguan yang masih berbau duniawi, ucapan lidah yang mungkin lafalnya salah, suara bahana loudspeaker, dan kebisingan lingkungan.

Bahkan saat ini, doa sudah memasuki bidang upacara yang bersifat dunia, karena kesadaran budaya ruhani yang ingin menjadikan hidup duniawi itu mempunyai makna. Hanya saja perlu kiranya kita memahami bahwa berdoa pada hakikatnya adalah menyatukan lahir dan bathin, dan subjektif (keinginan seseorang tentunya berbeda satu dengan lainnya). Dalam hal doa yang terkait dengan orang lain, haruslah sebuah permohonan yang universal dan mengajak semua orang untuk terlibat dalam nuansa bathin. Janganlah karena untuk kelancaran dan suksesnya upacara perilaku dunia itu, maka menodai bathin kita. Sehingga, sering kita sulit membedakan antara doa dan pidato atau bagaikan sebuah retorika yang panjang dengan nada yang keras dan melengking. Padahal Al-Qur’an sudah memberikan garis etika berdoa agar bersikap dan ber-pribatin dengan penuh rendah hati dan suara yang lembut.

Kita memang mendengarkan ucapan ’’amin" dari para hadirin, tetapi apa­kah itu merupakan tanda khusyu dan harapan yang keluar dari hati? Ataukah, justru hanyalah sebuah simbol pertanda "agar doanya yang seperti pidato itu, segera selesai karena dianggap membosankan dan tidak memberikan gores­an di hati hadirin"? Hal ini tidak berarti berdoa dalam upacara adalah salah, tetapi sekadar mengingatkan agar kita yang terlibat dalam prosesi upacara ter­sebut benar-benar menghayati adab dan etika berdoa. Juga memasang niat dan komitmen bahwa berdoa bukanlah untuk menghibur para petinggi atau penguasa.

Sekali lagi kita garis bawahi bahwa berdoa adalah bersilap untuk menghadapkan seluruh batinnya kepada Ilahi, baik dalam kesendirian maupun dalam berjamaah. Tentu saja seseorang yang sudah tinggi nilai ruhaninya, merasakan kenikmatan makrifat karena sudah terbiasa melakukan riyadah dan mujahadah serta mengkonsentrasikan dirinya. Maka, apa pun yang teijadi di lingkungannya, tidak akan menjadi perhatian dirinya. Karena qalbunya sudah larut tenggelam dalam alam ruhani, mihrab Ilahi Rabbi.

Doa yang berarti ’’memanggil, menyeru, mengharap", harus dilakukan dengan keterbukaan yang sesungguhnya. Dengan melepaskan segala atribut duniawi dan menelanjangi diri sehingga benar-benar transparan, maka aku melihat dengan sesungguhnya tentang perilaku diriku. Dengan demikian, ada kandungan yang teramat khusus di dalam doa tersebut, yaitu aku memanggil diriku di hadapan Tuhanku. Berdoa berarti memanggil diri sendiri. Jiwa dan kesadaran kita diseru dan dihentakkan agar sadar bahwa saat kita berdoa se­sungguhnya diri inilah yang berkepentingan kepada-Nya.

Ya Allah. Inilah hamba-Mu
yang meratap mengharap percikan cinta-Mu
Engkau tahu
betapa telaga nista terus memburu
dosa dan dosa dan dosa
melagukan hawa nafsu
kelu lidahku untuk mengaku di hadapan-Mu
malu jiwaku untuk menatap-Mu

Ya Allah
Dalam gundah penuh ragu aku menghampiri-Mu Menatap diriku sendiri yang selalu berpaling sesekali dosa-dosa kusesali tetapi berjuta kali kuulangi
Betapa daku harus menghadap-Mu
sedang seluruh syaraf batinku
hanyalah kisah kepalsuan
Sungguh tiada yang mendesakku, kecuali sebuah pengampunan-Mu

Doa itu harus diiringi dengan kesungguhan untuk meng­ungkap seluruh perbuatannya di hadapan Tuhan. Tidak ada sikap yang transparan dan terbuka, kecuali pada saat manusia berdoa kepada Allah.

Itulah sebabnya, di dalam berdoa itu, manusia menunjukkan kejujur­annya yang paling hakiki dan memakai kata atau bisikan jiwa yang sebenarnya, tidak dibuat-buat atau mengarang doa dengan berlebih-lebihan. Karena, selama masih ada unsur dibuat-buat atau berdoa yang masih terkait dengan dunia (ingin dipuji orang lain), maka doa tersebut belum mencerminkan jeritan jiwa yang sebenarnya. Dalam beberapa hal, doa benar-benar sangat subjektif. Suara batin yang hanya dirinya yang paling mengerti dan memahaminya. Dengan demikian, di dalam berdoa tersebut, "manusia menunjukkan kemerdekaannya untuk berbicara", ya berbicara dengan bebas untuk mengungkapkan suara hatinya tanpa merasa terbelenggu oleh orang lain. Di dalam berdoa, dia tidak merasa gagap dan gamang mengungkapkan perasaannya, karena di dalam hatinya ada optimisme yang luar biasa terhadap Allah.

Bahkan, Rasulullah membimbing kita semua agar di dalam berdoa tidak dibenarkan ada semacam "reserve", ada semacam bahasa atau ungkapan yang menyangsikan terkabulnya doa,

"Janganlah seseorang di antara kamu apabila berdoa, lalu mengucapkan, Ya Allah, ampunilah hamba jika Engkau menghendaki", atau "Ya Allah, kasih­anilah hamba jika Engkau menghendaki". Hendaklah orang yang berdoa itu menetapkan permohonannya. Sebab, tidak ada seorang pun yang melarang untuk berbuat demikian." (HR Buldiari dan Muslim)
Dalam kesempatan lain, Rasulullah bersabda,

"Berdoalah kepada Allah dan kamu harus berkeyakinan, maka pasti di­kabulkan. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai."( HR at-Tirmidzi)

Mungkin seseorang tidak mendapatkan kesan yang mendalam pada saat dia berdoa. Doa hanya sekadar ucapan lidah dan ungkapan verbal yang tidak menggedor jiwa, yang tidak menyebabkan keterpanggilan hati untuk meng­hadap. Hal ini dikarenakan "kita tid ak menjadikan doa sebagai ungkapan jiwa, melainkan hanya sebagai hafalan. Ibarat burung beo yang mengucapkan kata hanya sekadar meniru, tanpa dapat mengerti dan menghayati".

Dengan demikian, betapa pentingnya kesadaran jiwa dan pemahaman yang mendalam terhadap hakikat doa. Sehingga, doa yang kita ucapkan menjadi satu bentuk ibadah yang paling esensial, sebagaimana sabda Rasulullah,

"Doa itu saripatinya ibadah."(HR Bukhari dan Muslim)

WANITA YANG MAMPU MENJAGA RAHASIA

Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa saat istri-istri Rosul shollallohu 'alaihi wasalam tengah berada disisi Rosul shollallohu 'alaihi wasalam datanglah Fatimah ra. Ia berjalan seperti jalannya Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam, manakala Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam melihat Fatimah ra beliau menyapa "selamat datang wahai Putriku" Fatimah pun duduk disamping Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam yang kemudian membisikkan sesuatu kepadanya dan Fatimah ra langsung menangis.

Maka aku berkata kepada Fatimah ra "Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam telah telah mengistimewkan dirimu dari semua istrinya dengan mengatakan kepadamu sebuah rahasia dan engkau pun menangis" setelah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam pergi aku bertanya pada Fatimah "apa yang telah dikatakan Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam kepadamu???"Fatimah menjawab "Aku tidak akan membocor rahasia yang dikatakan Rosululloh shollallohu 'alihi wasalam"

Setelah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam meninggal dunia aku menanyakannya lagi pada Fatimah "Apa yang diceritakan Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam padamu dulu??" Fatimah ra menjawab "sekarang aku leluasa menceritakannya. Pada bisikan pertama, Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam mengabarkan padaku bahwa Malaikat Jibril menurunkan wahyu sekali atau dua kali dalam setahun namun sekrang ia menurunkannya dua kali "aku melihat ajalku sudah dekat, maka bertakwalah engkau (Fatimah) dan bersabarlah, engkau akan menyusulku" kata beliau. Maka aku pun menangis seperti yang engkau lihat"

Ketika Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam melihatku menangis Rosululloh kembali berbisik padaku, "Wahai Fatimah, tidakkah kau senang menjadi ibu kaum wanita mukmin atau menjadi ibu umat ini?" Maka aku pun langsung tertawa"

Dalam riwayat Muslim Fatimah berkata, Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam membisikkan padaku tentang ajalnya yang sudah dekat, maka aku langsung menangis. Kemudian beliau berbisik lagi mengabarkan bahwa aku adalah orang pertama dari keluarga yang akan menyusul Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam, maka aku pun tertawa. (HR. Muttafaqun 'alaih)

Hikmah :
1. Hadits di atas menjelaskan keutamaan Fatimah ra diantara seluruh wanita.
2. Hadits menegaskan keteguhan Fatimah ra dalam menyimpan rahasia dan penghormatannya kepada Aisyah ra hingga ia pun memberitahukan kepada Aisyah ra setelah tiba waktu yang tepat
3. Kemudian beliau berbisik lagi mengabarkan bahwa aku adalah orang pertama dari keluarga yang akan menyusul Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam, maka aku pun tertawa. Imam Nawawi menjelaskan "Fatimah senang karena akan cepat menyusul Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam ini menunjukkan sikap Fatimah ra yang lebih mementingkn kehidupan akhirat dari pada dunia"
4. Hadits diatas menjelaskan kepada kita tentang sikap sabar dalam menghadapi musibah dan sikap tidak berlebihan dalam menerima kenikmatan


Minggu, 01 Januari 2012

16 FAEDAH PERNIKAHAN

Menikah memiliki banyak banyak sekali baik yang bersifat diniah, duniawiah, kemasyarakatan maupun dibidang kesehatan diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Menjalankan perintah Alloh dan Rosul-Nya yang mana hal itu merupakan puncak kebahagiaan  seorang hamba di dunia dan akhirat.
2. Mengikuti sunnah Rosul yang mana kita diperintahkan untuk mengikuti dan meneladani mereka.
3. Tersalurkannya syahwat, terwujudnya ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati.
4. Menjaga kemaluan, melindungi harga diri dan kehormatan, menundukkan pandangan serta jauh dari fitnah.
5. Memperbanyak populasi umat islam yang mana dengan semakin banyaknya jumlah populasi umat islam maka akan semakin kuat.
6. Merealisasikan cita-cita Rosululloh Shollallohu 'alai wasalam untuk membanggakan jumlah umatnya dihadapan umat-umat lain kelak pada hari kiamat.
7. Menjalin hubungan kekeluargaan dan memperkuat unsur-unsur kecintaan antara anggota serta mempererat hubungan kemasyarakatan sebab masyarakat yang erat hubungannya itulah masyarakat yang kuat dan sejahtera.
8. Nikah merupakan sebab banyaknya rizki dan kekayaan.
9. Melestarikan jenis manusia dengan lahirnya keturunan yang dihasilkan dari pernikahan
10. Butuhnya masing-masing suami istri kepada pasangannya berupa ketenangan jiwa, jasmaniah dan rohaniah.
11.Terwujudnya tolong menolong diantara suami istri dalam mendidik anak-anaknya dan membina serta menjaga rumah tangga.
12. Teraturnya hubungan antara laki-laki dan perempuan atas dasar saling mengorbankan hak masing- masing serta menolong dalam lingkaran kecintaan, kasih sayang dan saling menghormati.
13. Tercapainya pahala yang besar dengan bangkit memenuhi hak pasangannya dan anak-anaknya serta saling menghormati,  sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Muslim :
Dari Abu Dzar Al-Ghifari ra. bahwasanya ada beberapa sahabat Rosul Shollallohu 'alaihi wasalam yang berkata kepada Nabi : Ya Rosululloh, telah pergi orang-orang yang kaya dengan membawa pahala yang berlimpah, mererka sholat sebagaimana kami sholat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.
Beliau menjawab : Bukankah Alloh telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang bisa kalian sedekahkan??sesungguhnya setiap tasbih itu shodaqoh, setiap takbir shodaqoh, setiap tahmid shodaqoh, setiap tahlil shodaqoh, ammar ma'ruf nahi munkar shodaqoh dan setiap kemaluan dari kalian adalah shodaqoh."
Mereka bertanya : Ya Rosululloh, apakah saat seorang diantara kami mendatangi istrinya mendapatkan pahala??"
Beliau menjawab : "Bukankah kalian tahu kalau seandainya dia meletakannya di tempat yang haram dia akan mendapatkan dosa, maka demikan pula bila diletakkan di tempat yang halal dia akan mendapatkan pahala".
14. Sempurnanya Dien.
15. Membentengi diri dari syetan dan menolak marabahaya yang ditimbulkan oleh syahwat serta menjauhkan diri dari zina.
16. Islam telah menjadikan pernikahan sebagai ibadah sebab dengan menikah seseorang dapat menjaga dirinya dari keburukan fitnah dan dari memandang hal-hal yg diharamkan serta menjaga diri dari perbuatan zina.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...